Dosa Turunan, Percayakah?

Aku tidak percaya. Aku tertarik menuliskan ini dari sudup pandangku, dari pengalamanku menjalani hidupku dan belajar dari hidup orang-orang sekitar untuk diambil hikmahnya, bukan untuk memperdebatkan perbedaan cara pandang tiap agama yang berbeda tentang dosa dan turunannya.

Aku percaya dua hal akan diriku:
Pertama, aku dilahirkan dalam keadaan putih bersih dan setiap anak yang baru lahir dimuka bumi juga demikian, dari keluarga manapun, apakah itu buah cinta yang terikat pernikahan atau akibat efek samping dua orang dewasa beda jenis yang tidur bersama tapi bukan tidur aja yang dilakukannya :D

Kedua, selain sifat-sifat bawaan manusia yg menyerupai 99 sifat Tuhan pencipta-Nya namun tanpa “Maha” plus satu sifat Insan yang selalu ingin menghamba dan mencari PenciptaNya, aku juga dititipi keburukan dan kebaikan sifat serta karakter bawaan kedua orang tuaku dan kakek buyutku melalui DNA ku.

4-5 tahun lalu beberapa sahabat yang diharuskan (karena setiap anak tidak pernah minta pada kedua orangtuanya untuk dilahirkan di dunia, sebaiknya kita mulai bertanya-tanya pada diri kita masing-masing lalu kenapa kita tetap lahir?) hidup sebagai seorang anak haram dan dia protes dengan sanksi “sosial” yang harus dijalaninya. Sanksi sosial yang tidak ringan menghadapi sorot mata yang merendahkan seolah dia yang telah berbuat dosa zina, setelah dewasa dia menghadapai sanksi sosial yang lebih berat lagi saat seseorang ingin memperisterinya, dia tidak lulus seleksi bibit, bebet, bobot yang digelar calon mertuanya. Dia meradang, “Tuhan! Dimana maha adilMu itu!”

Setelah amarahnya reda, tangisnya berganti sesenggukan dan tatapan kosong, aku yang bengong kenapa ada di ruang dan waktu ini dengannya, bengong apakah aku bisa membuatnya berpikir positif dengan hidupnya bukan sekedar memberikan semangat tapi aku memang berhasil menggali hikmah-hikmah tersembunyi dari setiap kejadian untuk aku sodorkan, seperti kata Rabi’ah, “di dunia ini tidak ada musibah, semuanya Rahmat, tergantung kita mau berada di sisi mana.” Atau aku sebaiknya menjadi tong sampah besarnya saja?

Rasanya ingin kupeluk dia seperti memeluk Dewi adikku mamanya si Azriel. Melihat mataku menatapnya seperti itu, dia tersenyum, “Kak, saya baik2 aja, mohon do’anya aja..”

Alhamdulillah. Begitu banyak jenis dosa dan kejahatan yg bisa kita perbuat dan hanya satu yang berat untuk beroleh ampunan, menduakan-Nya.

No comment »

Alhamdulillah Udah Halaman #36

Lembarannya baru dibuka subuh tadi, masih kosong.. Pengen aku tulis satu aja, ya satu aja Tuhan harapanku (paling nggak waktu nulis ini.. :D )

Semoga kutemukan perempuan yang membuatku merasa cukup dengannya dan dia bersyukur akan aku, lalu bersama-sama kami berjalan menemui-Nya untuk berucap: Terimakasih Tuhan sudah mempertemukan kami… Amin.

…selebihnya aku mohon ampunan Mu, bersyukur untuk hidupku yang seperti roller coaster, jumpin’ jack flash, jujur, bohong, menggerutu, bersyukur, menangis, ngakak, anarkis, marah, bahagia, miskin, kaya, bodoh, cerdas, dewasa, childish tapi itu semua indah! I love it! Dan aku bersyukur.. Alhamdulillah..

quote-wallpaper92.jpg

No comment »

2 Lembar Lagi Nyampe Halaman #36

Kau tidak bisa menyobek 1 atau 2 lembar halaman saja dari buku hidupmu yang tidak kau sukai lalu menyisakan lembar lain yang kau sukai. Satu-satunya yang bisa kau lakukan untuk menghilangkannya cuma dengan membakar keseluruhan buku tersebut. Dari dialog sebuah film yg judulnya aku lupa.

Waktu aku jadi baby sitter “kagetan” buat si Ariel (2 tahun 2 bulan) ponakanku di Makassar, ibuku tertawa melihat Ariel denganku sedang bermain-main membuat film independen kami yang pertama, dengan webcam laptop judulnya “Ariel dan Bulan Patah” bulan sabit disebutnya bulan patah.

Setelah tawa ibu reda, dia mulai bercerita… An, waktu kau kecil dulu persis seperti si Ariel. Selalu berlarian kesana-kemari, hanya diam waktu tidur saja. Semua hal kau tanyakan, apa ini apa itu, selalu mengeksplorasi hal-hal baru, tempat-tempat baru, tapi pemalu pada orang-orang baru. Kau kalau ditanya orang mau jadi apa, jawabanmu selalu sama, mau jadi pilot! Asyik bisa terbang.. Tapi pas usiamu 4 tahun, sudah bisa megang obeng, tahu berapa banyak radio bapakmu yang sudah kau rusakkan untuk memenuhi rasa ingin tahumu kenapa ada kotak yang bisa nyanyiin lagu Adi bing Slamet kesukaanmu, yang mama bisa ingat tidak kurang dari 4 radio tape! Seandainya televisi tidak berbahaya kalau dibongkar ama anak sekecil kau, mungkin televisiku juga akan bernasib sama denga radio tape, berakhir di gudang sebelum sampai tukang loak.. Kau juga suka sekali sama kucing, persis seperti si Ariel sekarang. Dulu ada kucing piaraanmu di hari pertama kau sekolah masuk SD, kau menangis mau ngajak dia ke sekolah juga katanya biar jadi kucing pintar. SD kelas 3 kau bikin kolam ikan di lantai jemur di atas, jadi sarang nyamuk. Dilarang pelihara ikan, kolamnya kau timbun trus kau bikin kebun jagung di situ..

cherubs-on-book-413x470.jpgHehehehe.. Alhamdulillah aku bersyukur untuk masa kecilku begitu yang indah.. Dari sekian banyak buku hidupku, buku kecil ini tidak akan pernah kubiarkan sobek 1 lembar pun halamannya, karena itulah buku yang kubaca ulang saat bermain dengan ponakan-ponakanku, anak-anakku kelak, dan anak-anak tidak berdosa korban perang bila mereka bisa kutemui dalam tidurku.. Kok seperti kak Seto ya? :D

Tiap orang memiliki buku kehidupannya (atau apalah penamaan yang kita berikan) masing-masing. Bila kita benar-benar menikmati setiap detik dalam hidup, kita akan sadari tiada satu pun yang sia-sia dalam hidup ini, kejadian paling menyakitkan sekalipun. Hidup ini terlalu indah untuk dibiarkan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan “sesuatu” dalam hati kita dan “hati” orang lain di luar kita yang membuat kita makin “kaya hati”, membuat kita bisa menyambut kematian –yang suatu saat pasti datang– dengan “senyum” dan berkata, terima kasih Tuhan untuk indahnya hidup yang telah kujalani.

Seorang sahabat pernah menanyakan padaku bagaimana aku bisa begitu enjoy dengan hidupku? Kujawab, tidak juga.. Ada juga saatnya aku merajuk, marah, dan anarkis tapi tidak kubiarkan keluar menjadi tindakan karena aku selalu berusaha mencari “pelajaran” apa yang bisa aku dapatkan dari situ “hikmah” apa yang ada. Karena aku yakin, hidup ini sebuah sekolah besar yang punya mekanisme “hukuman” dan “imbalannya” sendiri. Setiap sekolah –mestinya– didirikan untuk mendidik muridnya sebelum diwisuda dengan kematian, bila sesuatu yang menurutku buruk (awalnya) sedang menimpaku, meski sempat menggerutu namun yang selanjutnya yang kucari “pelajaran” apa yang sedang coba disampaikan oleh “sekolah kehidupan” padaku.. Yah, pernah beberapa kali juga saat aku begitu kalap oleh emosi dan amarah hingga aku tidak bisa mengambil “pelajaran” apapun kecuali satu, marah bisa menyebabkan segala sesuatunya kelihatan buruk.

Buku seri kedua, yang ada ditanganku sekarang bukan cuma satu buku, tapi ada beberapa buku dan beberapa diantaranya ingin kusimpan di rak paling dasar dari rak buku kehidupanku supaya tidak kubuka-buka lagi agar aku bisa segera menulis satu buku baru lagi, buku terakhir.

No comment »

Jika Bukan Cantik, Lalu Apa?

Secara fisik aku jauh dari ganteng, bukan berarti aku nggak bersyukur dengan “casing” yang dipinjemin Tuhan untuk aku pakai selama hidup, aku hanya membandingkan “casing” yang ada padaku dengan “casing” lain dengan standar majalah dan televisi supaya selalu berada di tengah-tengah, tidak berbangga diri dan tidak rendah diri.

**Ngaco nih! Tulisanku nggak terkontrol, bener2 “SALE”.. Biarin ah! Sebelum dua posting terakhir aku malah berencana membuat “daily posting” 365 hari mencari “soulmate” karena pertimbangan Term of Service (TOS) dan Privacy Policy ku urungkan niatku nulis “opera sabunku” sendiri yang pertama di sini.. :D

Aku Tidak Dikejar Waktu
Aku yang mengejar waktu, berusaha mencapai break-event-point setelah di usia 25-30 tahun kulalui tanpa sedikitpun berpikir serius tentang menikah dan menabung untuk memberikan kehidupan yang layak (menurut standar kalangan menengah di Indonesia aja, nggak pernah terpikirkan pengen hidup berlebihan, aku cuma ingin memastikan keluargaku tidak kekurangan tapi tidak berlebihan) buat bakal keluarga kelak.. Tahu-tahu beberapa hari lagi aku sudah 36 tahun dan tentu saja itu membuatku gusar. Bagaimana aku bisa tenang bila hidup berpasang-pasangan adalah “sunnatullah” atau kodrat species manusia?

Aku Bohong..
Bila kutulis tidak ada perempuan yang lagi dekat denganku, berhubung klausul TOS dan Privacy Policy tadi maka aku tidak akan menulis tentang siapa atau bagaimana dia, aku lebih suka menuliskan tentang prospek kedekatanku ini untuk di “up-grade” ke pelaminan yang nyaris mustahil sebagai pembelajaran. Sungguh aku suka pada kondisi mustahil. Membuatku berjuang untuk membuatnya mewujud, lepas dari berhasil atau gagal akan ada banyak pelajaran hidup yang bisa kudapatkan. Masalahnya kalo waktunya (yang rasanya makin terbatas ini) dipake buat belajar terus dan nggak dipraktekin kapan nikahnya? :D

Cinta itu bullshit, maaf tapi begitulah kebanyakan cinta yg pernah kutemui bila berbicara tentang cinta pada lawan jenis, meski tidak semuanya karena aku percaya tokoh seperti kisah-kisah inspirasional yang pernah kutulis di sini memang benar-benar ada, seperti seorang suami yang memilih mendampingi istrinya yang lumpuh seumur hidupnya daripada menikahi perempuan lain seperti yang disarankan oleh anak-anaknya. Sebagian besar dari kita –dan mungkin juga aku– dalam mencintai tidak begitu ikhlas, makanya aku sebut bullshit. Ada kepentingan yang kita titip, ada harapan yang kita inginkan terwujud dan itu belumlah bisa dikategorikan cinta yang ikhlas.

Pernahkah kita mencintai seseorang tanpa mengharapkan mendapatkan cintanya juga? Pernah? Benarkah? Tidakkah dadamu bergemuruh ketika kau tidak dicintai sebagaimana engkau mencintai dia? Aku pernah bertemu cinta macam itu. Cinta ibu pada anaknya dan cinta Muhammad SAW pada ummatnya.

No comment »

Perempuan Cantik

Disebuah kolom konsultasi ada seorang wanita menulis seperti ini:

Saya ingin jujur tentang semua yang saya katakan di sini. Saya akan berumur 25 tahun ini. Saya sangat cantik, bergaya, dan bercita rasa tinggi.

Saya ingin menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki pendapatan tahunan sekitar US$500000 (Sekitar Rp. 5 Milyar) lebih.

Anda boleh bilang saya tamak, tapi seseorang dengan pendapatan tahunan US$ 1 juta di New York hanya masuk kelas pertengahan saja.

Permintaan saya tidak terlalu tinggi. Apakah ada orang di forum ini yang memiliki pendapatan tahunan US$ 500k? Apakah anda sudah menikah? Yang ingin saya tanyakan: Apa yang harus saya lakukan agar dapat menikahi orang seperti anda?

Diantara orang yang pernah saya kencani, paling tinggi hanya berpendapatan US$ 250k. Mungkin ini limit tertinggi saya. Jika ada orang ingin pindah ke tempat tinggal berbiaya tinggi di barat Taman New York, US$ 250k tidak akan cukup

Saya di sini ingin menanyakan beberapa hal penting:

Dimana lajang kaya biasanya berlepak?
Grup mana seharusnya menjadi target saya?
Kenapa istri orang kaya biasanya berwajah biasa saja?
Bagaimana cara anda menentukan siapa yang akan menjadi istri anda, dan siapa yang hanya bisa menjadi teman wanita anda? (Target saya sekarang adalah untuk menikah)

Tertanda, gadis cantik.

Dan ini jawabannya:

Saya membaca posting anda dengan rasa ketertarikan yang tinggi. Kiranya banyak gadis di luar sana yang memiliki pertanyaan yang sama dengan anda.

Ijinkan saya untuk menjawab pertanyaan anda dengan kedudukan saya sebagai investor yang memiliki pendapatan lebih dari US$ 500k yang tentunya sesuai dengan permintaan anda. Mudah-mudahan orang lain tidak menganggap saya membuang waktu menjawab pertanyaan ini.

Dari sudut pandang bisnis, menikahi anda adalah keputusan yang jelek. Jawabannya sangat mudah, jadi ijinkan saya menjelaskannya.

Kita ketepikan detailnya dulu, intinya anda ingin menukar “kecantikan” dengan “uang”. Orang A menyediakan kecantikan sedangkan orang B menyediakan uang, cukup fair.

Tapi ada masalah yang mematikan di sini, kecantikan anda pasti akan berkurang sedangkan uang saya tidak akan pergi kemana-mana tanpa alasan yang jelas.

Faktanya, pendapatan saya bisa bertambah dari tahun ke tahun sedangkan anda tidak akan pernah bertambah cantik bila tahun bertambah.

Karena itu dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset apresiasi sedangkan anda adalah aset depresiasi. Bukan sekedar depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial. Jika anda hanya punya aset itu, nilai anda akan mengkhawatirkan 10 tahun ke depan.

Dalam istilah yang biasa dipakai di Wall Street, setiap perdagangan memiliki posisi. Berkencan dengan anda juga merupakan posisi perdagangan.

Jika nilai perdagangan jatuh kami akan menjualnya dan juga bukanlah ide yang bagus untuk menyimpannya untuk jangka panjang seperti pernikahan yang anda inginkan.

Mungkin kejam kalau saya harus berkata seperti itu, tapi untuk membuat keputusan bijak maka setiap aset dengan depresiasi tinggi harus segera dijual atau disewakan.

Setiap orang dengan pendapatan US$ 500k bukanlah orang bodoh; kami hanya akan mengencani anda tapi tidak akan menikahi anda.

Saya sarankan anda lupakan mencari petunjuk untuk menikahi pria kaya. Lagi pula, anda dapat menjadikan diri anda orang kaya berpendapatan lebih dari US$ 500 k. Peluangnya lebih besar daripada mendapatkan orang kaya yang bodoh

Mudah-mudahan balasan saya ini dapat menolong.

Tertanda JPM

No comment »

Fenomena Paid To Click (PTC)

Menjadi kaya dengan cepat dan mudah adalah impian setiap orang. Salah satunya adalah dengan “arisan berantai” yang dipercanggih. Cobalah searching dengan google atau search engine lainnya dengan keyword PTC, dijamin deh akan bermunculan ratusan ribu situs-situs PTC yang lokal maupun dari luar. Referencer belum begitu mendalaminya bagaimana mekanismenya system PTC yang lagi trend ini yang jelas salah satu referencer kami sudah mencoba untuk register di berbagai situs PTC untuk lebih mendalami –sekalian iseng nyari duit kan? xixixix– ada apa sih kok heboh banget?

Berikut beberapa PTC “luar” yang telah diikuti oleh referencer:

PPClix

Neobux
neobux></a></p> <p><a href=

247bux

Meansbux

Dan yang lokal Indonesia, Klikrupiah

Referencer bukan antipati pada PTC, tapi feeling pertama saat menemukan system ini sifatnya trend dan temporer.

No comment »

Mari Berkorban…

Karena ketika kita berkorban sesuatu *korban perasaan sekalipun!* sebenarnya kita tidak sedang memberikan apa-apa, kecuali sesuatu yang memang bukan milik kita!

Setelah tiga hari tanpa mendengar suara telpon ataupun sms bohong belaka tentang pembayaran tagihan, akhirnya kusimpulkan lakukan sesuatu dan jalan keluarnya harus aku jemput di Makassar. Jam 2 tepat langsung ke bandara Mutiara Palu dan tangganya baru aja ditarik menjauh dari pesawat, besok aja.

Bukan mau bermain-main dengan filsafat eksistensi tiba-tiba aja selepas maghrib barusan tapi coba deh kita renungkan… Dari semua materi yang ada pada kita adakah yang memang benar-benar milik kita? Baju yang kita pakai, kendaraan yang kita gunakan, duit dalam dompet? Benarkah itu semua milik kita? Oke, katakanlah itu hasil dari kerja keras atau hadiah hingga bisa kita miliki, lalu seberapa lama itu semua bisa kita miliki?? Ketika kita mati ikutkah semua materi itu bersama kita? Semua itu cuma pinjaman untuk selama kita hidup, itu menurutku loh.. Lalu apa yang sebenarnya kita korbankan bila punya kesempatan menyumbang hewan kurban saat Idul Adha tiba??

Beberapa tahun lalu di lapangan selepas shalat Idhul Adha kemaren aku ngobrol dengan sahabatku Muhary –si penulis puisi indah itu–. Biasanya selepas shalat Ied, akan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban dan sebelumnya diumumkan dulu satu persatu nama orang, instansi, dan banyak juga yang tanpa nama disebutkan.

“Telah berkorban lillahi ta’ala, bapak Fulan 5 ekor kambing, ibu Fulani 2 ekor sapi, bapak Fulana 1 ekor domba, bapak Fulanu 3 ekor sapi…” Saat nama-nama itu disebutkan, yang aku terdengar di hatiku malah kalimat seperti ini, “Telah berkorban lillahi ta’ala, bapak Fulan 5 rasa memiliki, ibu Fulani 2 sifat egoisme, bapak Fulana 1 sifat kikir, bapak Fulanu 3 kecintaan berlebihan pada mahluk dan materi…”

No comment »

Dear God……

 

Thank God, untuk …

Kemerdekaan menjalani hidup

Keleluasaan mengejar karier

Waktu melimpah untuk hang-out

Masa yang panjang untuk bersenang-senang

Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran

Kemewahan untuk menikmati kesendirian

dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami

 

Beri kami kesabaran untuk ….

Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan orang tua

Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang

Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

 

Beri kami kekuatan untuk ….

Tidak melepas masa lajang karena everybody does

Tidak melepas masa lajang karena takut stigma perawan/perjaka tua …

Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami

Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua …

Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang

 

Dear God,

Biarkan kami menikmati kesendirian kami

Dan merelakannya pergi pada waktunya

Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri

Tolong berikan kami teman hidup terbaik untuk berbagi kesenangan

Secepatnya juga boleh kalau Engkau berkenan

The good one, of course, if You dont mind …..

Amin.

Comments (2) »

Kisah Senyuman Tulus

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana .

Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!

Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.

Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” 

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. 

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. 

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! 

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” 

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. 

Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri. 

Dan saya amat bersyukur bisa berkenalan dan akrab dengan seseorang seperti kisah di atas.. (Aan)

No comment »

Relativitas Waktu dan Sunatan Massal

Waktu aku lagi nulis ini gedung aula di samping kantor lagi bising banget ama suara tangisan anak-anak kecil yg ketakutan karena ujung tititnya mau dipotong ama mahasiswa angkatan pertama fakultas kedokteran Untad, udah ritual anak2 kedok kali ya? Soalnya waktu aku masih kuliah di Unhas tiap tahun juga mahasiswa baru kedokterannya nyari “korban-korban” barunya. Aku sama temen-temen di teknik suka becandain mereka, ikut2an daftar sunatan, pas ditanya siapa yg mau disunat? Ponakannnya ya? Ngeliat si Mukti yg memang agak waras *dikit aja warasnya* mulai buka gespernya, meja pendaftarannya langsung kosong. :D

Ada yg beda dengan FK Unhas dengan FK Untad. Kalau di Unhas mahasiswinya pada cool, sebagian besar berjilbab dan wajib pakai rok, trus lagu yang paling sering mereka puter kalo pas ada hajatan gitu biasa mozart, beethoven, kenny g atau instrument pop lainnya, atau sekalian kaset ngaji karena yg ikut sunatan massal hampir pasti muslim semua, kalau di gedung samping ini, anak2 nangis itu di hibur ama ST12, D’masiv, Peterpan, dan band-band Indie lainnya plus suara bising game counter strike si Tapa dari ruang depan dan mahasiswa FK yang tidak bisa menahan diri untuk ikut nyanyi jadi backing vocal.

Beberapa hari yg lalu aku sempet ym2an ma Tyas, betapa waktu itu gak berasa banget berlalunya, aku bilang perasaan baru kemarin aku pulang sunatan ama adikku almarhum tau2 tahun depan udah 36.. Dah tua. Eh! hari ini di gedung samping anak2 itu lagi disunat, besok tau2 dah jadi dosen di Untad. :D

Wal Ashri. Demi masa, sesungguhnya manusia itu termasuk golongan yang merugi.
Yang membiarkan waktunya berlalu begitu aja tanpa bisa dia pertanggung-jawabkan kelak di hadapan Tuhan-Nya.. Kecuali orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan di muka bumi..

Permisi bentaran… Mo periksa diri sendiri lagi ke belakang sebelum masuk 36 tahun aku udah ngapain aja selama ini??

No comment »