Memoar Veteran Tua dan Seniman Pada Sahabatnya
Zaman Edan & Doa
Buat Husni Djamaluddin
Ali Walangadi
Kita lahir di zaman edan, ketika kita mulai
mengenal huruf dan tanda-tanda alam, hutan, laut, dan langit, kita pun
melangkah masuk Kota Makassar. Di taman kota terpajang pengumuman dengan huruf
besar: “Verboden voor Dieren en
Inlander.” (pribumi dilarang masuk)
Ketika kita tanya pada papa dan mama: “Apakah kita
sama dengan binatang?” Papa diam dan beranjak dari kursi malasnya yang tua,
sedang mama diam dan merunduk, “Kok begitu?”
Di Eropa, Perang Dunia II meletus. Jerman dan
Italia menyerang negara tetangganya. Belanda porak-poranda. Belanda di
Indonesia murka lalu menyatakan perang terhadap Jepang. Kita turut menyumbang
“Maandag Cent” untuk membeli pesawat tempur melawan Jepang lalu menyanyi hymne
: “Eens komt de dag dat Nederland zal
herijzen. Tra la la. Tri li li” Tai di di! (tai di di= bullshit)
Jepang telah siap tempur. Dalam waktu singkat
seluruh Asia Timur Raya ditaklukkan kemudian mendarat di Filipina dan serentak
di Manado, Ambon. Melalui Barombong mereka mengejar Belanda di Sulawesi Selatan. Belanda terbirit-birit
mundur. Tak ada satupun peluru keluar dari moncong senjata Belanda dan
mengangkat bendera putih di Garege. Kok gitu!
Semboyan Nippon-Indonesia: Sama-sama ne! Hai, Hai,
Hai! Umur kita meningkat dewasa. Perlahan-lahan kita berani mengangkat kepala
dan berani menatap samurai walaupun tubuh kita kurus kekurangan gizi.
Serangan over
lord Sekutu menghujam Jerman. Italia tak berkutik. Mereka menyerah sebelum
diserang. Bom-bom berjatuhan menghancurkan kubu-kubu pertahanan Jepang di Asia
Timur Raya tidak kecuali di Kota Makassar. Mayat-mayat bergelimang darah dengan
tubuh tersayat-sayat, baik di jalan maupun di sekolah. Dan tak ada lagi isak
tagis terdengar.
Lagi-lagi kita sama dengan binatang. Inilah
perang, membunuh atau dibunuh. Dengan dua bom atom Jepang menyerah tanpa syarat
dan kaisar Hirohito berjanji tidak berbuat kesalahan yang sama di kemudian
hari. Kita adalah sisa-sisa Perang Dunia II. Kita alami ini, kita derita ini,
kita menjadi siksa zaman edan ini, tidak dialami generasi setelahnya.
Dengan gerak detik, kita masuk era baru yang tak
pernah dialami juga generasi yang telah melahirkan kita. Kita adalah seniman
yang menjadi saksi terpercaya di zaman edan ini, kita menjadi penderita dari
kebiadaban ini.
Kita yang telah berani menatap samurai, kini
menghunus badik, lagecong, tombak dan berperang menatap ke depan membela tanah
air Indonesia. Tujuan kami satu, kemerdekaan Indonesia.
Dengan langkah tegap dan mata binar kau masuk SMP
Nasional di Makassar sekolah republik pertama di Provinsi Sulawesi. “Kenapa kau
kemari. Ini sekolah merah putih, sekolah ekstremis. Masuk ke sini berarti siap
mati untuk Indonesia."
“Saya Husni Djamaluddin dari Mandar! Ibu Depu
bersama kita kawan seperjuangan.” “Bergabung bersama di sini haram hukumnya
berkhianat. Penghianatan akar segala bencana. Bohong, curi, zina, itu juga
perbuatan khianat.”
Di sinilah kami bertemu. Belajar dan berjuang
untuk Indonesia. Hanya dalam waktu lima
tahun saja. Penjajahan selama ratusan
tahun kita tumpas dengan badik.
Sejenak kita tafakkur. Kita menatap wajah-wajah
para pemimpin kita. Begitu sederhana, tulus. Satu dalam kata dan perbuatan.
Betapa bangga jika kita berada di samping Andi Pangerang Petta Rani dan Andi
Mattalatta. Kemulian yang terpancar dari hati mereka, menyejukkan hati kita.
Sejenak kita menghirup udara “kemerdekaan,” lalu
berpisah, mencari ilmu, mencari hidup, untuk mengisi kemerdekaan yang telah
kita menangkan melalui pengorbanan jiwa, darah, air mata, dan harta benda agar
bangsa ini bebas dari kebodohan dan kemiskinan dan dapat hidup sejajar dengan
bangsa-bangsa sedunia.
Tahun-tahun menyedihkan mewarnai perjalanan kita
yang panjang dan melelahkan. Badai ini meluluhkan semangat juang kita.
Keserakahan pemimpin-pemimpin kita tidak dapat dibendung lagi. Bagai air bah
menggenangi seluruh daratan tanah air.
Angka 70:30 menjurus menjadi benih perpecahan. ”Di
balik baju warna-warni hatiku tiada lagi.” Syair Sitor Situmorang tanpa judul.
Lagi-lagi kita dirudung kesedihan setelah banjir darah G/30/S/PKI.
Di saat inilah kita bertemu kembali dalam “Kamar
Pertemuan Seniman” lalu bersama-sama menjadi pendiri Dewan Kesenian Makassar
(DKM). Memang pada awalnya sempat berjalan baik dengan sisa denyut jantung yang
masih setia mengiringi perjuangan kita. Secara sistematis kesenian harus
dibendung sebab ia musuh buat Orde Otoriter.
Kita tersisih dan terlempar ke dalam lumpur. Kita
terhibur dari duka oleh “Mutiara walaupun dalam lumpur tetap mutiara”. Begitu
salah satu bait penyair Perancis, Andre Gide. Memang!
Di saat itulah Husni Djamaluddin melejit,
meradang, dan menerjang. Lahir syair-syair Husni Djamaluddin menembus ruang dan
waktu tentang kezaliman zaman edan yang menyengsarakan rakyat Indonesia.
Syair-syair tersebut mengisi pustaka Indonesia dan negara tetangga.
Penyair Husni Djamaluddin sekali ke rumah. Itupun
hanya sejenak. Tak mau menghirup tehku. Pada wajahnya tertitip senyum kecil.
Pada matanya kulihat hatinya. Kutahu engkau datang membawa bait-bait syair dan
kemudian kau serahkan sebuah syair “Kisah Seekor Reptil Tua” buat Ali
Walangadi.
Kekuatan seniman ada pada matanya. Matanya
menembus hatinya. Ia tidak sendiri, ada kekuatan yang halus di dalam dirinya
melahirkan ciptaannya. Berbahagialah mMereka Menjadi Seniman:
penyair itu
akulah itu
mawar itu
kaulah itu
sayangku
Sejak Perang Kemerdekaan hingga Reformasi kita
bersahabat dan jalan seiring. Kita tak pernah berselisih baik dalam wujud
ucapan maupun perbuatan. Inilah persahabatan yang indah dan abadi. Betapa
bahagia kita dalam ikatan persahabatan ini.
Dan ketika engkau terbaring rumah sakit di Jakarta
sekian lama, kami dengar itu walaupun engkau merahasiakannya lantaran ingin kau
kulum sendiri. Untuk itu kami kirim doa setiap kami dengar dan menyebut namamu.
Doa dan simpati dari teman seperjuangan, doa dari sesama seniman!
Selamat berjuang sampai akhir. Merdeka!
Tonasa I, 17 Agustus 2004.
Ali Walangadi,
pelukis senior Makassar
Comments off