Archive for August, 2007

Memoar Veteran Tua dan Seniman Pada Sahabatnya


Zaman Edan & Doa
Buat Husni Djamaluddin
 

Ali Walangadi


Kita lahir di zaman edan, ketika kita mulai
mengenal huruf dan tanda-tanda alam, hutan, laut, dan langit, kita pun
melangkah masuk Kota Makassar. Di taman kota terpajang pengumuman dengan huruf
besar: “Verboden voor Dieren en
Inlander.” (pribumi dilarang masuk)

 
Ketika kita tanya pada papa dan mama: “Apakah kita
sama dengan binatang?” Papa diam dan beranjak dari kursi malasnya yang tua,
sedang mama diam dan merunduk, “Kok begitu?”

 
Di Eropa, Perang Dunia II meletus. Jerman dan
Italia menyerang negara tetangganya. Belanda porak-poranda. Belanda di
Indonesia murka lalu menyatakan perang terhadap Jepang. Kita turut menyumbang
“Maandag Cent” untuk membeli pesawat tempur melawan Jepang lalu menyanyi hymne
: “Eens komt de dag dat Nederland zal
herijzen. Tra la la. Tri li li” Tai di di! (tai di di= bullshit)

 
Jepang telah siap tempur. Dalam waktu singkat
seluruh Asia Timur Raya ditaklukkan kemudian mendarat di Filipina dan serentak
di Manado, Ambon. Melalui Barombong mereka mengejar Belanda di Sulawesi Selatan. Belanda terbirit-birit
mundur. Tak ada satupun peluru keluar dari moncong senjata Belanda dan
mengangkat bendera putih di Garege. Kok gitu!

 
Semboyan Nippon-Indonesia: Sama-sama ne! Hai, Hai,
Hai! Umur kita meningkat dewasa. Perlahan-lahan kita berani mengangkat kepala
dan berani menatap samurai walaupun tubuh kita kurus kekurangan gizi.

 
Serangan over
lord
Sekutu menghujam Jerman. Italia tak berkutik. Mereka menyerah sebelum
diserang. Bom-bom berjatuhan menghancurkan kubu-kubu pertahanan Jepang di Asia
Timur Raya tidak kecuali di Kota Makassar. Mayat-mayat bergelimang darah dengan
tubuh tersayat-sayat, baik di jalan maupun di sekolah. Dan tak ada lagi isak
tagis terdengar.

 
Lagi-lagi kita sama dengan binatang. Inilah
perang, membunuh atau dibunuh. Dengan dua bom atom Jepang menyerah tanpa syarat
dan kaisar Hirohito berjanji tidak berbuat kesalahan yang sama di kemudian
hari. Kita adalah sisa-sisa Perang Dunia II. Kita alami ini, kita derita ini,
kita menjadi siksa zaman edan ini, tidak dialami generasi setelahnya.

 
Dengan gerak detik, kita masuk era baru yang tak
pernah dialami juga generasi yang telah melahirkan kita. Kita adalah seniman
yang menjadi saksi terpercaya di zaman edan ini, kita menjadi penderita dari
kebiadaban ini.

 
Kita yang telah berani menatap samurai, kini
menghunus badik, lagecong, tombak dan berperang menatap ke depan membela tanah
air Indonesia. Tujuan kami satu, kemerdekaan Indonesia.

 
Dengan langkah tegap dan mata binar kau masuk SMP
Nasional di Makassar sekolah republik pertama di Provinsi Sulawesi. “Kenapa kau
kemari. Ini sekolah merah putih, sekolah ekstremis. Masuk ke sini berarti siap
mati untuk Indonesia."

 
“Saya Husni Djamaluddin dari Mandar! Ibu Depu
bersama kita kawan seperjuangan.” “Bergabung bersama di sini haram hukumnya
berkhianat. Penghianatan akar segala bencana. Bohong, curi, zina, itu juga
perbuatan khianat.”
 

Di sinilah kami bertemu. Belajar dan berjuang
untuk Indonesia. Hanya dalam waktu lima
tahun saja. Penjajahan selama ratusan
tahun kita tumpas dengan badik.
 

Sejenak kita tafakkur. Kita menatap wajah-wajah
para pemimpin kita. Begitu sederhana, tulus. Satu dalam kata dan perbuatan.
Betapa bangga jika kita berada di samping Andi Pangerang Petta Rani dan Andi
Mattalatta. Kemulian yang terpancar dari hati mereka, menyejukkan hati kita.
 

Sejenak kita menghirup udara “kemerdekaan,” lalu
berpisah, mencari ilmu, mencari hidup, untuk mengisi kemerdekaan yang telah
kita menangkan melalui pengorbanan jiwa, darah, air mata, dan harta benda agar
bangsa ini bebas dari kebodohan dan kemiskinan dan dapat hidup sejajar dengan
bangsa-bangsa sedunia.
 

Tahun-tahun menyedihkan mewarnai perjalanan kita
yang panjang dan melelahkan. Badai ini meluluhkan semangat juang kita.
Keserakahan pemimpin-pemimpin kita tidak dapat dibendung lagi. Bagai air bah
menggenangi seluruh daratan tanah air.

 
Angka 70:30 menjurus menjadi benih perpecahan. ”Di
balik baju warna-warni hatiku tiada lagi.” Syair Sitor Situmorang tanpa judul.
Lagi-lagi kita dirudung kesedihan setelah banjir darah G/30/S/PKI.

 
Di saat inilah kita bertemu kembali dalam “Kamar
Pertemuan Seniman” lalu bersama-sama menjadi pendiri Dewan Kesenian Makassar
(DKM). Memang pada awalnya sempat berjalan baik dengan sisa denyut jantung yang
masih setia mengiringi perjuangan kita. Secara sistematis kesenian harus
dibendung sebab ia musuh buat Orde Otoriter.

 
Kita tersisih dan terlempar ke dalam lumpur. Kita
terhibur dari duka oleh “Mutiara walaupun dalam lumpur tetap mutiara”. Begitu
salah satu bait penyair Perancis, Andre Gide. Memang!

 
Di saat itulah Husni Djamaluddin melejit,
meradang, dan menerjang. Lahir syair-syair Husni Djamaluddin menembus ruang dan
waktu tentang kezaliman zaman edan yang menyengsarakan rakyat Indonesia.
Syair-syair tersebut mengisi pustaka Indonesia dan negara tetangga.

 
Penyair Husni Djamaluddin sekali ke rumah. Itupun
hanya sejenak. Tak mau menghirup tehku. Pada wajahnya tertitip senyum kecil.
Pada matanya kulihat hatinya. Kutahu engkau datang membawa bait-bait syair dan
kemudian kau serahkan sebuah syair “Kisah Seekor Reptil Tua” buat Ali
Walangadi.

 
Kekuatan seniman ada pada matanya. Matanya
menembus hatinya. Ia tidak sendiri, ada kekuatan yang halus di dalam dirinya
melahirkan ciptaannya. Berbahagialah mMereka Menjadi Seniman:

 

penyair itu

akulah itu

mawar itu

kaulah itu

sayangku

 

Sejak Perang Kemerdekaan hingga Reformasi kita
bersahabat dan jalan seiring. Kita tak pernah berselisih baik dalam wujud
ucapan maupun perbuatan. Inilah persahabatan yang indah dan abadi. Betapa
bahagia kita dalam ikatan persahabatan ini.

 
Dan ketika engkau terbaring rumah sakit di Jakarta
sekian lama, kami dengar itu walaupun engkau merahasiakannya lantaran ingin kau
kulum sendiri. Untuk itu kami kirim doa setiap kami dengar dan menyebut namamu.
Doa dan simpati dari teman seperjuangan, doa dari sesama seniman!

 
Selamat berjuang sampai akhir. Merdeka!

 

Tonasa I, 17 Agustus 2004.
Ali Walangadi,
pelukis senior Makassar

Comments off

Manusiawi, sebuah pembenarankah?

Seberapa sering kita memberikan pemakluman pada setiap kesalahan yang telah kita perbuat? Seberapa sering kita membela diri dengan mengatakan kesalahan kita itu manusiawi, salah itu wajar karena kita manusia bukan malaikat? Kesempurnaan memang hanya milik Allah semata, dan segala ketidaksempurnaan manusia jelas  menunjukkan siapa yang Khalik siapa yang mahluk.

Ketika kudapati diriku melakukan kesalahan, seringkali tanpa sadar aku langsung "menoleh" ke sisi itu. Aku kan manusia, yang tidak sempurna. Nah! Diam-diam aku mencari pembenaran untuk kesalahanku. Oke. Semua manusia tidak sempurna dan memiliki keterbatasan tapi mestinya kita tidak langsung memandang sisi itu saja. Tidak ada proses pembelajaran buat diri sendiri bila kita begitu.

Kita tidak akan pernah lepas dari kesalahan, itu pasti. Mengulang kesalahan yang sama itu bukan manusiawi, tapi melampaui batas namanya. Untuk apa kesalahan dan cobaan bila bukan untuk memperbaiki kualitas diri kita agar semakin dekat pada ke paripurna sebelum mati? Setiap kegagalan, kesalahan, disengaja atau tidak, dilakukan dengan tersenyum nikmat lagi bahagia atau meringis perih kesakitan, selalu bermuara ke dua pintu. Pertama, konsekuensi sosial dan makian hati nurani (bila masih punya hati) yang berlangsung di dunia. Kedua mekanisme pahala dan dosa di kehidupan abadi nanti. Aku bisa saja dengan arogan berkata dan bersikap, "Ya, aku memang salah, lalu apa maumu?" Hmm, terlalu makassar.  Mungkin lebih bijak bila aku berkata begini, "Aku tahu aku salah, dan aku mau belajar dari kesalahanku, tapi kau belum berada dalam posisi berhak menghakimi aku, dari sisi manapun. Bantu aku untuk tidak menyimpan niat mengulanginya, kali ini dengan sengaja. Dengan membiarkan aku tenang tanpa bias. Hidup terlalu berharga bila harus dihabiskan dengan menyalahkan diri sendiri dan menghakimi orang. Kita semua tau, tujuan penciptaan jin dan manusia hanya untuk beribadah, bila aku berhasil mengambil pelajaran dari kesalahanku bukankah itu ibadah? Bila kau berhasil mengambil hikmah dari rasa sakit hatimu dan segera mengamankan posisimu di tempat yang lebih jelas dan tegas, kau juga sudah beribadah." Seandainya sekali waktu kita bisa bertemu di dunia nyata, kau akan tahu siapa aku dan aku akan tahu siapa kau. Lingkungan tempat aku hidup adalah lingkungan yang jujur dan blak-blakan, bila aku melakukan kesalahan, atau dianggap melakukan kesalahan, jari-jari telunjuk jelas mengarah padaku. Itu yang pertama membuatku melompat untuk mengakui kesalahanku setelah membaca tulisanmu yang bias untuk siapa. Kedua, aku sudah 34 tahun dilahirkan sebagai laki-laki, bertemu dengan berbagai lingkungan, karakter dan kepribadian, jelas bisa kubaca sakit hatimu, aku tahu pasti bagaimana rasanya karena aku pernah berada di situ, karena itu aku tidak peduli dengan gaya bahasamu yang mendudukkan aku di kursi panas. Tapi aku suka, aku jadi belajar banyak hal, aku tidak sebaik yang kupikir selama ini. Tidak se-alim tulisan-tulisanku. Terima kasih, semoga kau dan aku bisa mengambil hikmahnya. Sejarah berulang. Terkadang kita menjadi pembaca sejarah dan di lain waktu kita diuji dengan dijadikan pelakunya. Apakah kita sudah belajar dengan baik ketika belum menjadi pelaku?

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya:

Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = " Orang tua "
Murid 2 = " Guru "
Murid 3 = " Teman "
Murid 4 = " Kaum kerabat "
Imam Ghazali = " Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?"
Murid 1 = " Negeri Cina "
Murid 2 = " Bulan "
Murid 3 = " Matahari "
Murid 4 = " Bintang-bintang "
Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".

Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1 = " Gunung "
Murid 2 = " Matahari "
Murid 3 = " Bumi "
Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

IMAM GHAZALI" Apa yang paling berat didunia? "
Murid 1 = " Baja "
Murid 2 = " Besi "
Murid 3 = " Gajah "
Imam Ghazali = " Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1 = " Kapas"
Murid 2 = " Angin "
Murid 3 = " Debu "
Murid 4 = " Daun-daun"
Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat "

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? "
Murid-Murid dengan serentak menjawab = " Pedang "
Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri "

Comments (2) »

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Siapa yang tidak kenal lagu itu? Jadi tertarik untuk menuliskannya. Ternyata tanpa sadar (atau sadar? untuk membangkitkan rasa nasionalisme?) pencipta lagunya sudah menyisipkan feodalisme, yang kita nyanyikan berulang-ulang dan kita mungkin sudah terdoktrin. Bisa tersinggung yang nenek moyangnya seorang petani.

Comments off