Subject: Psikofitra
Message: Noeche ‘danoe’ wrote:
Psikofitrah adalah ilmu yang mempelajari sunatullah (hukum Alloh) dalam jiwa manusia. Sebagaimana sunatullah yang berada di alam semesta, di dalam jiwa manusia juga berlaku sunatullah.
Dulu sewaktu hamilnya hana, kami kedatangan tamu seorang santriwati yang dulu pernah mengaji, dia mengabarkan adiknya sedang sakit keras dan butuh biaya untuk berobat. Melihat kedaannya yang membutuhkan kami menyerahkan uang 50 ribu yang sedianya untuk belanja dan periksa kandungan esok hari.
Pada tengah malam, ketika saya berpikir biaya kelahiran anak kami, saya mendapatkan telpon dari ketua yayasan sekolah menanyakan kabar kandungan istri saya dan berpesan besok pagi supaya cek rekening untuk biaya bersalin.
Begitu pagi tiba, saya dan istri cek rekening, alhamdulillah semua persiapan biaya kelahiran tercukupi semua. Pertanyaan yang muncul, bagaimana mungkin disaat saya berpikir tentang biaya kelahiran istri saya tiba-tiba datang rizki yang pas dengan yang dibutuhkan? Begitulah Allah SWT berkehendak dengan sunah (hukum)Nya.
Ketika anda berpikir hidup ini adalah keajaiban maka sunah Alloh menyediakan keajaiban dalam hidup anda. Banyak keajaiban yang anda sendiri tidak menduga. Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Tanya anda. Semua itu mungkin terjadi bila Alloh menghendaki. Maka berhati-hatilah dengan pikiran anda sebab bisa menjadi kenyataan.
(Tulisan orang, bukan tulisan saya, karena saya blum punya istri dan anak)
Thursday, 27 December 2007
Subject: Re: Psikofitra
Message: Aan wrote:
Setuduh, maksud saya setuju. Sudah baca ato nonton DVD bajakan buku “the secret”? Begitulah faktanya, bahwa segala sesuatu sudah diaturNYA. Begitu berkuasaNYA DIA, bahkan ketika kita menggunakan kebebasan yang diberikanNYA untuk menentukan nasib kita sendiri, bagian itupun sudah diaturNYA. Lalu dimanakah sebenarnya letak kebebasan kita?
Menurutku kita terbebas ketika kita sampai di titik “0″ zero. Keadaan tanpa kehendak, tanpa angan dan ingin. Karena dengan ketiadaan kita, barulah kita sadari DIA ada.
Halah, bisa gak brenti aku nulisnya mas..
Hehehe.. Kapan2 aku ngoceh lagi…
Subject: Re: Psikofitra
Message: Noeche ‘danoe’ wrote:
Mending lanjutin deh mas…..bagus tu kayakna. Soal takdir dan kebebasan kita. Di satu sisi kita merasa bebas tapi setelah kita liat liat (terutama di kehidupan masa lalu kita) ternyata banyak kebetulan kebetulan yang bener bener teratur, padahal kita g merencanakan keteraturan itu. Ada sesuatu yang menggerakkan kita sampai detail yang paling detail, pdahal kita merasa bebas.
COMMENTS: (note: they moved their discussion to blog pages)
Wadoowh, mas Danoe, aku masih belom ada apa-apanya bila mau maen-maen di ranah filsafat existensialist. Saya nulis asal ngalir aja ya?
Harmoni. Segala sesuatunya di semesta raya ini bergerak dengan irama dan haromonisasi yang teratur, dari mikrokosmos hingga makrokosmos, bahkan gerak brown (jadi inget fisika waktu smp-sma :) pun yang katanya acak, ternyata memiliki pola, pola yang acak, menurutku acak itu juga sebuah pola.
Pertanyaannya, siapakah dirijen orkestra makrokosmos dan mikrokosmos ini? Bila tanpa seorang konduktor, bisakah semuanya tertata tanpa chaos?
Oke, untuk lingkup kecil, kita punya kebebasan untuk menjadi dirijen hidup kita sendiri. Kebebasan berpikir, kebebasan menentukan nasib dan memilih nasib. Tapi kita tidak boleh lupa, bahwa manusia hanyalah seorang dirijen kecil dengan band kecil dari sebuah maha mega orkestra yang –saya yakini– dipimpin oleh maha mega dirijen, begitu kecilnya orkestra milik kita ini, sehingga kadang lupa bahwa notasi yang kita mainkan (yang kita pikir adalah hasil rancangan dan kreasi kita) adalah potongan kecil dari sebuah maha mega symphoni..
Posted by: Aan | December 27, 2007 09:21 AM
Ya, aku juga sepakat. Sampai titik tertentu kita punya kekuasaan dan “berhak sebagai Tuhan” bagi diri kita sendiri. Tapi apa ya?Harmoni itu lho yang begitu sempurnanya itu lho yang bikin gatel pikiran. Sampe disini saya mentok. Tolong mas Aan lanjutin lagi deh…
Posted by: Noeche ‘danoe’ | December 27, 2007 11:21 PM
Harmoni itu punya “hukumnya” sendiri. Bila keseimbangannya terganggu, maka pada titik tertentu makro ato mikrokosmos akan melakukan penyeimbangan yang bisa berupa bencana alam, atau panen berlimpah. Siapa yang telah membuat symphoni maha besar itu? Yang over tone dan reffrain nya begitu sempurna?
Hampir semua peradaban manusia, mule dari yg jaman beheula ampe yg secanggih sekarang sebenarnya mengakui adanya sebuah “ZAT” dengan kekuatan “MAHA” dibalik semua ini. Zat itu oleh manusia ditafsirkan sesuai kemampuan, kebudayaan dan nalarnya saat itu. Ada yg menyebutnya sebagai Neptunus, Apollo, Pharaoh, Batara Guru, dll dsb dst.
Ada 2 point menurut aku. Pertama “naluri dan keinginan mencari dan mengenal “Zat Maha” tadi. Ternyata manusia sadar gak sadar, mau gak mau memiliki naluri dan keinginan untuk mengenali (kemudian mengakui) keberadaan “Maha Zat” tadi. Proses pencarian & pengenalan itu dialami oleh semua manusia. Sebagai person atau komunitas. Point kedua, manusia belum mampu memuaskan rasa ingin tahunya dan naluri mengenal “Maha Zat” tadi dengan cara-cara yg mereka kenal atau dengan explorasi literatur.
Mereka yang mentok banget karena kekuatan pikiran yang terkadang kita dewa-dewakan ini ternyata mentok saat diajak mikir tentang “Maha Zat”, memilih untuk mengambil sikap sebagai kaum rasionalist, tidak ada itu “Maha Zat”. Statement yg boleh jadi dibuat untuk membuat pikirannya diam dan berhenti bertanya-tanya..
Bila pada titik tertentu pikiran mas Danoe sudah tidak bisa lagi menjangkau, sudah tidak bisa lagi mendeskripsikan “Maha Zat” tadi, langkah apa yg akan mas Danoe ambil? Supaya tidak ada lagi yg menggelitik?
Posted by: Aan | January 1, 2008 01:43 AM
Kalo langkah ya mau g mau, sadar g sadar saya mesti lanjutin lagi langkah yg mentok itu, dengan nyari nyari kesana-sini, walaupun seringnya g dapet. Mungkin ini namanya eksplorasi literatur?Iya ya….apa yaaa kalo udah mentok gini…
Terus dari kecil kemudian saya menerima mentah mentah semua ajaran dan budaya Islam itu. Dengan pikiran yang menggelitik itu kadang kadang saya ngerasa mesti (mungkin juga karna saya bandel)ngelanggar aturan aturan yg ada di agama; “apa yang terjadi nanti?”. Tapi selain itu, ada juga perasaan emang ada yang bikin harmoni dan saya ini cuma bagian kecilnya dan lanjutanya saya berpikir saya harus pasrah ngikutin harmoniNya dengan patuh ama ajaran ajaranNya.
Itu yang saya lakukan kalo kadang kadang dah mentok dan g nemu petunjuk/jawaban dari penasaran saya; Pasrah, dan nelan mentah mentah.
banyak salahnya ya?
Posted by: Noeche ‘danoe’ | January 1, 2008 03:25 AM
Pernah ada kejadian, seorang guru agama melihat anak muda yang gelisah. Seperti bisa membaca kegelisahan anak muda tersebut (Dalam Islam disebutkan bahwa orang-orang dengan tingkat ketaqwaan khusus bisa membaca hati dan pikiran manusia lain. Ini bukan mistik atau supranatural, tapi bila kita bisa memainkan symphoni Tuhan dengan alam semesta tentu kita akan tahu bahwa ada alat musik yg dimainkan fals, atau ada yg improvisasinya kelewat over.. :)
Kembali ke guru agama dan orang muda tadi. Orang tua itu menegur si pemuda, “Kamu tidak akan pernah ’sampai’ bila gambar ‘tatto’ itu masih ada ditanganmu.” Terkejut dan heran bagaimana bisa dia tahu ada tatto? Berawal dari teguran kecil itu, si pemuda terus menerus memperbaiki dirinya, mematutkan dirinya, membuat dirinya menjadi layak. Layak untuk berkenalan dengan “sang Dirijen alam semesta”, supaya dia tidak cuma menjadi karpet tempat “orkestra alam semesta” dimainkan. Dia ingin mengambil peranan, ikut memainkan musik indah itu!
Rupanya orang tua itu terus memantau si pemuda tadi. Ketika didapatinya pemuda itu sudah dianggapnya layak, diajarinya pemuda itu pintu-pintu dan protokoler untuk bisa berkenalan dengan “dirijen semesta raya”. Sebagai orang biasa tentu saja kita akan berhadapan dg protokoler dan birokrasi. Diantarnya si pemuda tadi sampai di depan gerbang halaman “concert hall” alam semesta, lalu ditinggalkannya sendiri dan pesan bahwa dia cuma bisa mengantar pemuda itu sampai disini. Adapun pintu itu terbuka, atau kau memanjat masuk tanpa ketahuan, itu sudah bukan wewenangku. Tugasku hanya membimbing sampai di sini. Selebihnya adalah “rahmat-rahim” bila engkau bisa masuk dan bertemu dengannya.
Beberapa tahun berlalu. Orang tua itu menjenguk si pemuda, yg ternyata masih ada di depan pagar. Bengong dan stuck! Orang tua itu tersenyum dan berkata, “Memang ada orang yang sudah merasa puas dengan hanya mencium wanginya taman bunga hanya dari balik pagarnya.
Posted by: Aan | January 1, 2008 06:13 AM