Archive for January, 2008

Anak Kecil

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku,lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, ” Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu.” Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata,”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, “Allah, apa yang Engkau lakukan?” Ia menjawab : ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”Kemudian Allah menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”Subhanallah…
Beruntunglah orang2 yang mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian2 dalam perjalanan hidupnya, seruwet apapun itu. Amin.

Subhanallah, tulisan ini benar-benar membuka pikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang maha pengatur segala sesuatu di alam ini.

Comments off

Memaafkan Pak Harto

Kompas, Rabu, 16 Januari 2008

Mantan Ketua MPR Amien Rais meminta proses hukum mantan Presiden
Soeharto dihentikan. Pemerintah secara resmi memaafkan Pak Harto.
Dengan pemerintah secara resmi melakukan itu, menurut Amien Rais,
masyarakat dapat pula memaafkan Pak Harto. Kepastian itu sangat
penting untuk membuat bangsa ini tidak terombang-ambing oleh masalah
Pak Harto, yang sedang terbaring sakit dan kritis.

Penjelasan yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengenai Pak Harto akhir pekan lalu multi-arti. Presiden mengatakan,
bukan saatnya untuk membicarakan kasus hukum Pak Harto karena mantan
presiden itu sedang terbaring sakit.

Namun, di sisi lain kita lihat, kasus perdata Pak Harto tetap
berjalan. Jaksa Agung bahkan sempat membicarakan kemungkinan
penyelesaian di luar pengadilan pada saat Pak Harto sedang berjuang
antara hidup dan mati.

Kita memahami bahwa pilihan yang dihadapi tidaklah mudah. Namun,
dalam politik, pilihan yang kita hadapi sering kali bukan antara baik
dan buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk. Pada satu titik
putusan itu harus diambil dan dalam kasus Pak Harto putusan itu harus
diambil sekarang ini ketika Pak Harto masih ada.

Sungguh sayang, pada saat pemimpin bangsa-bangsa lain memberikan
penghormatan tinggi kepada Pak Harto, kita belum juga bisa satu kata
untuk memutuskan sikap kita terhadap Pak Harto. Meski sudah
berlangsung hampir 10 tahun, kita masih terus berkutat pada
kontroversi yang tidak berujung.

Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew sesudah menjenguk Pak Harto di Rumah
Sakit Pusat Pertamina menyampaikan keprihatinan atas perlakuan bangsa
Indonesia kepada Pak Harto. Menurut dia, seakan hanya praktik KKN
saja yang ditinggalkan Pak Harto.

Padahal, jika dilihat bagaimana kondisi ekonomi Indonesia 40 tahun
yang lalu dan dibandingkan dengan sekarang ini, akan terasa betapa
besarnya karya Pak Harto. Kontribusi besar Pak Harto tidak hanya
terbatas untuk Indonesia, tetapi juga bagi kemajuan ASEAN.

Memang tidak mudah bagi sebuah bangsa untuk menghormati pemimpinnya,
apalagi pada saat-saat akhir kekuasaannya bukan catatan besar yang
ditinggalkan. Pengalaman seperti itu pernah dihadapi bangsa China
ketika mereka diminta untuk menentukan sikap kepada pemimpin besar
mereka Mao Zedong. Menyusul keterpurukan ekonomi China, banyak yang
berpikiran untuk tidak menghormati Mao.

Di tengah pro-kontra yang tajam, pemimpin baru China, Deng Xiaoping,
lalu berpidato di Lapangan Tiananmen. Deng mengatakan, selama
hidupnya Mao memang telah membuat tiga dosa besar, tetapi selama
hidupnya Mao juga telah membuat tujuh jasa besar bagi China. Deng
lalu mengajak bangsa China untuk mengubur sedalam-dalamnya tiga dosa
besar Mao dan mengenang selama-lamanya tujuh jasa besarnya.

Mampukah kita melakukan hal yang sama? Inilah tantangan yang kita
hadapi sebagai bangsa dan kita membutuhkan pemimpin yang berani untuk
membawa bangsa ini mengakhiri kontroversi.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/16/opini/4168134.htm

Comments off

Gak Penting!

Idiom fave No. 3 setelah EGP dan Gayanaji.

Kok idiom fave umpatan semua? Umpatan atau bukan tergantung sama siapa kita ucapkan dan situasinya. Udah ah, bukan soal tata-bahasa yg pengen aku tulis.

Mestinya aku tiba di Palu lagi kemarin, tapi berhubung fans fanatik dan fans bayaran pemenang Pilkada Sulsel menguasai hampir semua jalan penting mulai dari Maros, airport sampai ke showroom NV Hadji Kalla di Gowa, aku memilih cancel penerbangan dan tiba tadi malam jam 1 pagi!

Di waiting room ketemu dengan wajah-wajah familiar yang kerjanya emang bolak-balik palu sama kek aku. Ada pejabat, pedagang, mahasiswa, penganten baru, anak kecil, pokoknya heterogen banget.

Kami terjebak harus ngumpul bersama dan berdiskusi ala warung kopi, ala waiting room tepatnya setelah tau lion air dari surabaya delay 2 jam lebih karena masih ngetem di Surabaya. Pas lagi senyap, mungkin karena kami para peserta diskusi kagetan itu kehabisan bahan bersamaan. Tiba-tiba ada anak kecil yang teriak, "Gak penting mama!" Namanya kehabisan bahan, kontan aja kelompok diskusi kami balik ke arah suara itu di deret kursi berlakang kami, nampak seorang anak kecil, perempuan sedang merajuk sama mamanya supaya rambutnya gak usah dipasangi pita karena udah diiket karet. Matanya merah menahan kantuk dan mamanya masih aja maksa supaya rambutnya ditambahin lagi hiasan dengan pita karet (jangan-jangan hiasan rambut itu bahan dasarnya kondom bekas impor yang heboh tempo hari? Hiiiiiiiiii! Pantes aja anak itu gak mau!)

Seorang bapak, mantan asisten I di pemkot Palu, yang sekarang menjadi kepala Dinas Kebersihan, nyeletuk. "Seandainya semua pemerintah daerah seperti anak kecil itu tau apa yang penting dan tidak penting untuk daerahnya, bayangkan berapa penghematan anggarannya tiap tahun." Bla..bla.. diskusi itu kembali menghangat. Aku yang lagi sebel banget dengan kinerja pemerintah kota Palu utamanya soal pembayaran jasa dan barang rekanan, memilih keluar dari kelompok diskusi ngawur itu.

Ada yang aneh pas aku menjauh dari mereka, udara yang kuhirup jadi lain aromanya. Rupanya bener, orang-orang pemerintahan memang punya bau yang khas.

Aku kagum dengan anak kecil itu. Dia tahu apa yang penting dan gak penting untuk dirinya! Tidak seperti aku, menunda sesuatu yang penting karena sesuatu yang gak penting, gak jelas bahkan. Tidak lagi kali ini. Tekadku sudah bulat kayak donat tanpa bolong.

Comments off

Living In Harmony..

Subject: Psikofitra
Message: Noeche ‘danoe’ wrote:
Psikofitrah adalah ilmu yang mempelajari sunatullah (hukum Alloh) dalam jiwa manusia. Sebagaimana sunatullah yang berada di alam semesta, di dalam jiwa manusia juga berlaku sunatullah.

Dulu sewaktu hamilnya hana, kami kedatangan tamu seorang santriwati yang dulu pernah mengaji, dia mengabarkan adiknya sedang sakit keras dan butuh biaya untuk berobat. Melihat kedaannya yang membutuhkan kami menyerahkan uang 50 ribu yang sedianya untuk belanja dan periksa kandungan esok hari.

Pada tengah malam, ketika saya berpikir biaya kelahiran anak kami, saya mendapatkan telpon dari ketua yayasan sekolah menanyakan kabar kandungan istri saya dan berpesan besok pagi supaya cek rekening untuk biaya bersalin.

Begitu pagi tiba, saya dan istri cek rekening, alhamdulillah semua persiapan biaya kelahiran tercukupi semua. Pertanyaan yang muncul, bagaimana mungkin disaat saya berpikir tentang biaya kelahiran istri saya tiba-tiba datang rizki yang pas dengan yang dibutuhkan? Begitulah Allah SWT berkehendak dengan sunah (hukum)Nya.

Ketika anda berpikir hidup ini adalah keajaiban maka sunah Alloh menyediakan keajaiban dalam hidup anda. Banyak keajaiban yang anda sendiri tidak menduga. Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Tanya anda. Semua itu mungkin terjadi bila Alloh menghendaki. Maka berhati-hatilah dengan pikiran anda sebab bisa menjadi kenyataan.

(Tulisan orang, bukan tulisan saya, karena saya blum punya istri dan anak)
Thursday, 27 December 2007

Subject: Re: Psikofitra
Message: Aan wrote:
Setuduh, maksud saya setuju. Sudah baca ato nonton DVD bajakan buku “the secret”? Begitulah faktanya, bahwa segala sesuatu sudah diaturNYA. Begitu berkuasaNYA DIA, bahkan ketika kita menggunakan kebebasan yang diberikanNYA untuk menentukan nasib kita sendiri, bagian itupun sudah diaturNYA. Lalu dimanakah sebenarnya letak kebebasan kita?

Menurutku kita terbebas ketika kita sampai di titik “0″ zero. Keadaan tanpa kehendak, tanpa angan dan ingin. Karena dengan ketiadaan kita, barulah kita sadari DIA ada.

Halah, bisa gak brenti aku nulisnya mas..
Hehehe.. Kapan2 aku ngoceh lagi…

Subject: Re: Psikofitra
Message: Noeche ‘danoe’ wrote:
Mending lanjutin deh mas…..bagus tu kayakna. Soal takdir dan kebebasan kita. Di satu sisi kita merasa bebas tapi setelah kita liat liat (terutama di kehidupan masa lalu kita) ternyata banyak kebetulan kebetulan yang bener bener teratur, padahal kita g merencanakan keteraturan itu. Ada sesuatu yang menggerakkan kita sampai detail yang paling detail, pdahal kita merasa bebas.

COMMENTS: (note: they moved their discussion to blog pages)
Wadoowh, mas Danoe, aku masih belom ada apa-apanya bila mau maen-maen di ranah filsafat existensialist. Saya nulis asal ngalir aja ya?
Harmoni. Segala sesuatunya di semesta raya ini bergerak dengan irama dan haromonisasi yang teratur, dari mikrokosmos hingga makrokosmos, bahkan gerak brown (jadi inget fisika waktu smp-sma :) pun yang katanya acak, ternyata memiliki pola, pola yang acak, menurutku acak itu juga sebuah pola.

Pertanyaannya, siapakah dirijen orkestra makrokosmos dan mikrokosmos ini? Bila tanpa seorang konduktor, bisakah semuanya tertata tanpa chaos?
Oke, untuk lingkup kecil, kita punya kebebasan untuk menjadi dirijen hidup kita sendiri. Kebebasan berpikir, kebebasan menentukan nasib dan memilih nasib. Tapi kita tidak boleh lupa, bahwa manusia hanyalah seorang dirijen kecil dengan band kecil dari sebuah maha mega orkestra yang –saya yakini– dipimpin oleh maha mega dirijen, begitu kecilnya orkestra milik kita ini, sehingga kadang lupa bahwa notasi yang kita mainkan (yang kita pikir adalah hasil rancangan dan kreasi kita) adalah potongan kecil dari sebuah maha mega symphoni..
Posted by: Aan | December 27, 2007 09:21 AM

Ya, aku juga sepakat. Sampai titik tertentu kita punya kekuasaan dan “berhak sebagai Tuhan” bagi diri kita sendiri. Tapi apa ya?Harmoni itu lho yang begitu sempurnanya itu lho yang bikin gatel pikiran. Sampe disini saya mentok. Tolong mas Aan lanjutin lagi deh…
Posted by: Noeche ‘danoe’ | December 27, 2007 11:21 PM

Harmoni itu punya “hukumnya” sendiri. Bila keseimbangannya terganggu, maka pada titik tertentu makro ato mikrokosmos akan melakukan penyeimbangan yang bisa berupa bencana alam, atau panen berlimpah. Siapa yang telah membuat symphoni maha besar itu? Yang over tone dan reffrain nya begitu sempurna?

Hampir semua peradaban manusia, mule dari yg jaman beheula ampe yg secanggih sekarang sebenarnya mengakui adanya sebuah “ZAT” dengan kekuatan “MAHA” dibalik semua ini. Zat itu oleh manusia ditafsirkan sesuai kemampuan, kebudayaan dan nalarnya saat itu. Ada yg menyebutnya sebagai Neptunus, Apollo, Pharaoh, Batara Guru, dll dsb dst.

Ada 2 point menurut aku. Pertama “naluri dan keinginan mencari dan mengenal “Zat Maha” tadi. Ternyata manusia sadar gak sadar, mau gak mau memiliki naluri dan keinginan untuk mengenali (kemudian mengakui) keberadaan “Maha Zat” tadi. Proses pencarian & pengenalan itu dialami oleh semua manusia. Sebagai person atau komunitas. Point kedua, manusia belum mampu memuaskan rasa ingin tahunya dan naluri mengenal “Maha Zat” tadi dengan cara-cara yg mereka kenal atau dengan explorasi literatur.
Mereka yang mentok banget karena kekuatan pikiran yang terkadang kita dewa-dewakan ini ternyata mentok saat diajak mikir tentang “Maha Zat”, memilih untuk mengambil sikap sebagai kaum rasionalist, tidak ada itu “Maha Zat”. Statement yg boleh jadi dibuat untuk membuat pikirannya diam dan berhenti bertanya-tanya..

Bila pada titik tertentu pikiran mas Danoe sudah tidak bisa lagi menjangkau, sudah tidak bisa lagi mendeskripsikan “Maha Zat” tadi, langkah apa yg akan mas Danoe ambil? Supaya tidak ada lagi yg menggelitik?
Posted by: Aan | January 1, 2008 01:43 AM

Kalo langkah ya mau g mau, sadar g sadar saya mesti lanjutin lagi langkah yg mentok itu, dengan nyari nyari kesana-sini, walaupun seringnya g dapet. Mungkin ini namanya eksplorasi literatur?Iya ya….apa yaaa kalo udah mentok gini…
Terus dari kecil kemudian saya menerima mentah mentah semua ajaran dan budaya Islam itu. Dengan pikiran yang menggelitik itu kadang kadang saya ngerasa mesti (mungkin juga karna saya bandel)ngelanggar aturan aturan yg ada di agama; “apa yang terjadi nanti?”. Tapi selain itu, ada juga perasaan emang ada yang bikin harmoni dan saya ini cuma bagian kecilnya dan lanjutanya saya berpikir saya harus pasrah ngikutin harmoniNya dengan patuh ama ajaran ajaranNya.
Itu yang saya lakukan kalo kadang kadang dah mentok dan g nemu petunjuk/jawaban dari penasaran saya; Pasrah, dan nelan mentah mentah.
banyak salahnya ya?
Posted by: Noeche ‘danoe’ | January 1, 2008 03:25 AM

Pernah ada kejadian, seorang guru agama melihat anak muda yang gelisah. Seperti bisa membaca kegelisahan anak muda tersebut (Dalam Islam disebutkan bahwa orang-orang dengan tingkat ketaqwaan khusus bisa membaca hati dan pikiran manusia lain. Ini bukan mistik atau supranatural, tapi bila kita bisa memainkan symphoni Tuhan dengan alam semesta tentu kita akan tahu bahwa ada alat musik yg dimainkan fals, atau ada yg improvisasinya kelewat over.. :)

Kembali ke guru agama dan orang muda tadi. Orang tua itu menegur si pemuda, “Kamu tidak akan pernah ’sampai’ bila gambar ‘tatto’ itu masih ada ditanganmu.” Terkejut dan heran bagaimana bisa dia tahu ada tatto? Berawal dari teguran kecil itu, si pemuda terus menerus memperbaiki dirinya, mematutkan dirinya, membuat dirinya menjadi layak. Layak untuk berkenalan dengan “sang Dirijen alam semesta”, supaya dia tidak cuma menjadi karpet tempat “orkestra alam semesta” dimainkan. Dia ingin mengambil peranan, ikut memainkan musik indah itu!

Rupanya orang tua itu terus memantau si pemuda tadi. Ketika didapatinya pemuda itu sudah dianggapnya layak, diajarinya pemuda itu pintu-pintu dan protokoler untuk bisa berkenalan dengan “dirijen semesta raya”. Sebagai orang biasa tentu saja kita akan berhadapan dg protokoler dan birokrasi. Diantarnya si pemuda tadi sampai di depan gerbang halaman “concert hall” alam semesta, lalu ditinggalkannya sendiri dan pesan bahwa dia cuma bisa mengantar pemuda itu sampai disini. Adapun pintu itu terbuka, atau kau memanjat masuk tanpa ketahuan, itu sudah bukan wewenangku. Tugasku hanya membimbing sampai di sini. Selebihnya adalah “rahmat-rahim” bila engkau bisa masuk dan bertemu dengannya.

Beberapa tahun berlalu. Orang tua itu menjenguk si pemuda, yg ternyata masih ada di depan pagar. Bengong dan stuck! Orang tua itu tersenyum dan berkata, “Memang ada orang yang sudah merasa puas dengan hanya mencium wanginya taman bunga hanya dari balik pagarnya.
Posted by: Aan | January 1, 2008 06:13 AM

No comment »