Archive for March, 2008

Friendster - Farewell Blog

Waktu terus berjalan dan gak menunggu siapa-siapa, explorasi aku di FS kucukupkan sampai di sini. Aku lagi fokus dengan "prime mission" pulang ke Makassar untuk melamar anak gadis orang. Serius.

Melompat dari satu takdir ke takdir berikutnya hingga kutemukan takdir yang inginkanku tinggal.

Siapa? Dengan yang mau aku ajak menikah karena ibadah, karena Allah, bukan karena yang lain. Menikah karena cinta itu romantisme di usia 16-25 tahun. Di usiaku sekarang aku menemukan bahwa ada banyak jalan untuk mencintai dan dicintai selain karena naluri intuitif, cinta juga bisa tumbuh karena kesamaan tujuan hidup, karena keseringan bersama-sama, intinya, cinta itu bisa ditumbuhkan bila kita mau.

Kedua meng-upgrade few things in Makassar.
Ketiga mewujudkan mimpi besarku.

Ternyata 1 sampai 3 itu semua adalah jalan mempersiapkan mati, semoga, amin. Bye all.

No comment »

Pelajaran Hidup No 234

Setelah menonton lengkap sequel video Emha di youtube, aku pengen berbagi apa yang aku dapat. Ini cuma pemahaman aku yang dangkal loh dan nomer 234 itu nomer asal aja karena tiba2 kepikiran pengen ngerokok djisamsoe, dan pastinya tiap-tiap orang bisa berbeda…

TENTANG POLA PIKIR

1. Berpikir Linier:
Linier

Kita semua cenderung berpikir dengan pola seperti ini linier dan lurus, dan ini menurut para ilmuwan adalah sifat bawaan otak kiri kita yang selalu berpikir numerik, berurut dari 1, ke 2, lalu 3 dan seterusnya. Cara berpikir ini bila diaplikasikan dalam mengejar pencapaian-pencapaian hidup di dunia dan akhirat adalah cara paling statis namun menjanjikan keamanan dan kestabilan.

Aku selalu berpikir linier bila itu menyangkut masalah hukum. Hukum agama ataupun dunia. Ketika aku berjalan dari titik awal menuju titik akhir dalam garis lurus, maka yang harus berada disisi kiri kananku dan mestinya kupatuhi adalah rambu-rambu agama dan prinsip-prinsip hidupku. Kenapa begitu? Supaya aku tidak keluar jalur, rambu agama dan prinsipku menjadi pagar pembatas.

2. Berpikir Zigzag:
Zigzag

3. Berpikir Spiral:
Spiral

4. Berpikir Khaffah atau menyeluruh:
Siglical

5. Berpikir Super Khaffah:
Supersiglical

6. Gak Mikir Lagi:
.

(to be continued)

No comment »

Pelajaran Hidup No 234

Setelah menonton lengkap sequel video Emha di youtube, aku pengen berbagi apa yang aku dapat. Ini cuma pemahaman aku yang dangkal loh dan nomer 234 itu nomer asal aja karena tiba2 kepikiran pengen ngerokok djisamsoe, dan pastinya tiap-tiap orang bisa berbeda…

Bismillah…
Semoga kita termasuk orang-orang yang menyibukkan diri dengan memperbaiki diri sendiri dahulu sebelum memulai mengurusi orang lain.. Kita berlindung pada Allah dari sifat-sifat buruk "Neo-Lipstick" yg mengemas dirinya dengan pengetahuan agama, moral dan etika yang indah namun akhlak dan kelakuan sama sekali tidak mencerminkan demikian… Melagukan shalawat dengan indah namun sebenarnya sifat-sifat kita jauh dari keteladanan Rasulullah SAW… Mengaku cinta Allah dan Rasulnya namun ogah jauhi larangan dan laksanakan perintah-Nya secara khaffah, dan semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat "Radio dan Televisi" yang menyuarakan suara, menggambarkan citra namun sama sekali tidak bisa melakukan apa yang disuarakannya, apa yang digambarkannya, tsumma naudzubillah… Allahumma Amin, Amin Ya Rabbul ‘Alamin…

TENTANG POLA PIKIR

1. Berpikir Linier:
Linier

Kita semua cenderung berpikir dengan pola seperti ini linier dan lurus, dan ini menurut para ilmuwan adalah sifat bawaan otak kiri kita yang selalu berpikir numerik, berurut dari 1, ke 2, lalu 3 dan seterusnya. Cara berpikir ini bila diaplikasikan dalam mengejar pencapaian-pencapaian hidup di dunia dan akhirat adalah cara paling statis namun menjanjikan keamanan dan kestabilan.

Aku selalu berpikir linier bila itu menyangkut masalah hukum (maunya seeh gitu… namanya juga lagi diusahain :) Hukum agama ataupun dunia. Ketika aku berjalan dari titik awal menuju titik akhir dalam garis lurus, maka yang harus berada disisi kiri kananku dan mestinya kupatuhi adalah rambu-rambu agama dan prinsip-prinsip hidupku. Kenapa begitu? Supaya aku tidak keluar jalur, rambu agama dan prinsipku menjadi pagar pembatas.

2. Berpikir Zigzag:
Zigzag

3. Berpikir Spiral:
Spiral

4. Berpikir Khaffah atau menyeluruh:
Siglical

5. Berpikir Super Khaffah:
Supersiglical

6. Gak Mikir Lagi:

.

(to be continued)

Comments off

KEMATIAN SOEHARTO DI PERS PERANCIS

Surat Dari Montmartre:

(milis panggung sastra) 

 

KEMATIAN SOEHARTO DI PERS PERANCIS

 

Sejak
Soeharto naik panggung kekuasaan dan mengendalikan jalannya Republik
Indonesia, sekali pun Perancis tergabung dalam IGGI dan kemudian CGI,
boleh dikatakan  hubungan antara kedua negara tidak  hangat.
Lebih-lebih ketika Mei 1981, Perancis berada di bawah kekuasaan Partai
Sosialis dan partai-partai kiri.  Ketika partai-partai kanan , RPR dan
UDF, sekutu RPR, berkuasa menggantikan Partai Sosialis dan
partai-partai kiri [kiri majemuk, la gauche plurielle],  sikap Perancis
pada Orde Baru Soeharto pun tidak mengalami perobahan mendasar. Sikap
tidak hangat pemerintah Perancis ini, barangkali bisa diusut dari
sejarah negeri ini, yang melalui beberapa kali revolusi, sampai
memenggal kepala raja di depan publik,   akhirnya sampai pada nilai
"liberté, egalité et fraternité [kemerdekaan, kesetaraan dan
persaudaraan] . Nilai-nilai ini sampai sekarang dijadikan motto
Republik Perancis, dicantumkan di semua surat-surat  dan dokumen segala
keputusan resmi.  Rangkaian nilai yang menjadi isi konsep republik,
dituangkan ke dalam undang-undang dan peraturan-peraturan . Ia
ditanamkan sejak anak-anak masuk sekolah.

 

Memang
nampak juga satu paradoks ketika Perancis ikut dalam IGGI , organisasi
internasional terdiri dari berbagai negara besar yang kuat ekonominya,
dan sejak awal berdirinya Orde Baru boleh dikatakan penyangga utama
ekonomi dan politik Orde Baru.  Tapi  ikutnya Perancis  di dalam IGGI,
barangkali bisa dipahami dari posisi Perancis sebagai negara kapitalis,
yang tidak ingin membiarkan Indonesia,
sebuah pasar besar dan sumber bahan mentah berlimpah, hanya dikuasai
oleh negeri-negeri anggota IGGI — kemudian berobah menjadi CGI. IGGI
merupakan sebuah forum internasional untuk membagi-bagi "kueh" Indonesia.

 

Oleh
latar belakang demikian, maka sering nampak politik pemerintah dan
sikap rakyat Perancis, termasuk yang muncul di media massa, sering
berbeda. Seakan di sini kita saksikan adanya dua Perancis: Perancis
resmi dan Perancis rakyat.

 

Hal
ini pun kembali tercermin dalam menghadapi kematian Soeharto. Sejauh
ini, aku belum juga membaca dan mendapatkan ucapan belasungkawa resmi
dari pemerintah Sarkozy dan Fillon.  Bahkan Harian Le Figaro, koran
yang dekat dengan kekuasaan sekarang, sejauh ini masih tidak sebaris
pun memberitakan tentang kematian Soeharto. Apakah ketiadaan baris
kalimat pemberitaan begini merupakan suatu sikap politik dari sebuah
koran nasional penting berpengaruh dan dekat dengan penyelenggara
negara di negeri ini? Memberitakan atau tidak, kukira adalah suatu
sikap. Sikap politik.

 

Sementara
koran-koran, radio dan tivi   yang memberitakannya, satu dalam
penilaian terhadap Soeharto. Semuanya menggunakan istilah "diktatur",
"pembunuh rakyat Indonesia"
[l'Humanité] , "kriminal", "pelanggar HAM", "melakukan génocide" [la
Croix, 28 Januari 2008] dan "koruptor terbesar  dalam zaman kita
[Direct Soir,  28 Januari 2008]. Bahkan Harian Libération menggunakan
istilah "kekuasaan yang setara dengan monarkhi" yang "membangun
monarkhinya dengan tanpa ampun menghancurkan lawan-lawan potensialnya
atau dengan membeli mereka" [28 Januari 2007].

 

Hampir
semua media massa , baik radio, tivi, dan media cetak, tidak ada yang
menggunakan istilah wafat , tapi "mati".   Bahkan harian gratis "Direct
Matin" yang diterbitkan oleh harian terkemuka Paris, Le Monde dengan sinis mengatakan  ketika para peserta Pertemuan Anti Korupsi PBB yang berlangsung di Bali sekarang, berdiri sejenak memberi penghormatan kepada Soeharto sebagai "adegan surealis" [29 Januari 2008]."

 

Harian Le Monde, Paris, satu-satunya harian yang menerbitkan sehalaman penuh tulisan mantan koresponden Asia
Tenggaranya, Jean-Claude Pomonti, malah mensejajarkan kekuasaan
Soeharto sebagai  kekuasaan"kerajaan Jawa".  Dan ujar Pomonti yang lama
berdiam di Bangkok: "Yang pasti "kerajaan Jawa" begini  tak akan pernah berhasil". [29 Januari 2008].

 

Pomonti juga melihat bahwa kemelut yang dihadapi Indonesia
sekarang tidak lain dari peninggalan Soeharto selama tiga dasawarsa
lebih. Masalah-masalah ini tadinya seperti bara dalam sekam dan
sekarang muncul ke permukaan. Mantan koresponden Le Monde untuk Asia
Tenggara ini juga menyebut rezim Soeharto merupakan "salah satu
pemerintahan yang paling berdarah dan paling korup pada paro kedua abad
ke-XX" [l'un des gouvernants les plus sanguinaires et les plus
corrompus de la deuxième moitié du XX siècle]. Rezim diktatur Soeharto
jugalah, ujar Pomonti, yang menenggelamkan Indonesia ke genangan hutang. 

 

Soeharto juga dihubungkan benar oleh media massa
Perancis dengan penindasan dan pembunuhan di Timor Timur sambil mengingatkan tuntutan José Ramos Horta,
sekarang presiden Timor Leste, agar diktatur Soeharto "diadili atas
genosid" yang ia lakukan selama berkuasa.[La Croix,  28 Januari 2008].

 

 

 

Membaca
pers Perancis dan mendengar siaran radio serta tivi negeri ini, tak ada
sepatah kata sifat baik apa pun yang diucapkan tentang Soeharto bahkan
kata wafat [décédé] pun tidak digunakan. Yang digunakan adalah kata
"mati" [mort].  Tentu saja berita kematian Soeharto diketahui
masyarakat melalui media massa. Dalam konteks ini aku teringat cerita
Judith yang menerima sms dari saudaranya di Indonesia: "Soeharto mati,
tante meninggal". Sms yang melukiskan secara spontan perasaan dan
pikiran masyarakat bawahan pada Soeharto. Pengirim sms sadar benar
nuansa  kata "mati" dan "meninggal" atau wafat, berpulang.

 

Ketika aku servis malam di Koperasi Restoran Indonesia, tidak sedikit pelanggan yang bertanya: "Mantan presiden kalian baru meninggal iya?".

 

Tanpa mengulas pertanyaan ini, karena sedang sibuk, aku hanya menjawab singkat: "Iya".
"Mudahan kediktaturan tidak terulang lagi di negeri Anda".

 

"Iya, itu pun harapan rakyat negeriku, hanya barangkali jalannya masih tidak mulus sebagaimana halnya dengan jalan  harapan ".

   

"Demikianlah
hidup. C’est la vie, anak muda. Apalagi di dunia politik", ujar
pelanggan tuaku, tanpa rambut dan mengenakan jas warna oranye. "Yang
penting adalah bagaimana bisa belajar dari masa silam untuk kepentingan
hari ini dan esok", tambahnya.

 

Aku
mengucapkan terimakasih atas perhatian, harapan dan kata-kata baiknya.
Oleh perhatian, harapan dan kata-kata baik dari seorang asing ini
kepadaku yang terpental dari negeri kelahiran, membuatku   merasa
bahwa jarak Paris-Jakarta, antara Rue de Vaugirard dan jalan Tawes,
tak terlalu jauh-jauh juga, dan betapa dunia makin menjadi sebuah
"desa kecil", di mana peduduknya saling bersentuhan bagai tetangga. K
epentingan
mereka pun tak terkurung pada batas geografis satu dua negara, tapi
saling taut-menaut seperti yang sering dikatakan di sini "Agir ici et
là" [Bertindak di sini sama dengan bertindak untuk di sana]. Mereka ada
di satu "desa kecil dunia" bernama " kemanusiaan yang tunggal", jika
menggunakan ungkapan Paul Ricoeur

 

Ah, sungguh,  aku mau jadi manusia yang manusiawi walau pun sebagai pekerja kasar biasa pada sebuah koperasi restoran.***

 

 

Paris, Musim Dingin 2008.
———— ——— ——— —–

 

JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

Comments off

Seru!

Sudah pernah balapan melawan 5 lawan tangguh? Lawan pertama diri sendiri, kedua  lawan jadwal giliran mati lampu, ketiga lawan date-line, keempat cuaca dan terakhir lawan hantu!..

Comments off

FW: Belajar Dari Monyet

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika.  Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau  binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa ? Tentu kita sudah tahu jawabnya.

Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.

Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.

Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya.

Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita.

Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya bersih.

Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?

Comments off

Bold.. Jadi Orangtua Sama Susahnya Jadi Anak..

Ini sok tahu aku aja, belon jadi orangtua sih sekarang. Setelah lihat sendiri bagaimana Dewi dan Boy bahu-membahu pontang-panting membesarkan Azriel mulai dari kolaborasi mereka yg penuh cinta (Yg ini tentu saja tidak kulihat! Yang bener aja man!) kemudian Azriel lahir, dan sekarang sudah berusia 1 tahun 3 bulan. Tiap jam 3 pagi Azriel bangun minta nenen, Dewi bangun. Jam 4 Azriel bangun, minta ganti popok yang udah full tank, si Boy yang bangun trus sambil nunggu subuh digendongnya Azriel, kasi tidur kembali, kalo mau tidur lagi. Kalo tidak? Terpaksa si Boy nemenin Azriel main, dengan bahasa planet pula! Vavah.. Vavah.. Auuuww Aaahh.. Elaaapphh… atau capppph capppph cappphhhh tteehh, itu sampai jam 6.30 pagi, mandi. Jam 7.15 dia sudah tinggalkan Ratulangi, ke kantor. Aku? Baru aja mau tidur..

Dewi berhenti kerja. Si Boy jadi tulang punggung ekonomi rumah tangga mereka. Sampai di sini sudah bisa kurasakan capeknya jadi orang tua. Kalau bukan karena cinta yang seluas semesta, nggak mungkinlah ada orang tua yang mampu bertahan. Pelan-pelan boy menabung, mengumpulkan sesuatu untuk anaknya, kemarin si Azriel dibelikannya kolam renang plastik. Bila moodnya sedang capek, sedang ilfil, lalu Azriel bikin ulah, kolam karet itu dirobek-robek Azriel karena naluri untuk mengasah giginya yang mulai tumbuh, marah-meradangkah Boy oleh ulah Azriel? Aku yakin si Boy tidak bakal marah. Kenapa? Pertama karena si Boy tahu, akal Azriel belum tumbuh, Azriel belon tahu mana yang boleh mana yang tidak. Kedua, karena si Boy emang bawaannya sabaran.

Tapi bila Azriel sudah dewasa, katakanlah 22 tahun. Lalu Azriel melakukan sesuatu yang menurut timbangan akal seorang yang berusia 20 tahun ke atas, sesuatu yang salah. Masih bisakah Boy bersabar? Bersabar dengan mood yang lagi hancur seberapa lama nahannya? Katakanlah dia habis ribut sama si Dewi gara-gara rebutan remote TV. Kira-kira si Azriel cuma dapet marah atau kena gampar? Kalau Azriel cuma diam, karena tahu dirinya salah, boleh jadi si Azriel cuma kena damprat ga pake gampar. Tapi kalau Azriel nunjukin sikap ngelawan? Kira-kira dia digampar gak ya?

Orang tua juga manusia Bold. Sama seperti kita yang serba punya batasan. Batasan kesabaran salah satunya. Ugh! Jangan bilang kita ga pernah minta untuk dilahirkan ke dunia dan menjadi anak mereka. Nanti kalau udah mulai nempuh jalan menuju ridha Allah, bakal kita sadari bahwa keberadaan kita bukanlah karena kolaborasi penuh cinta kedua orang tua kita, tetapi itu karena ikrar kita pada Allah ketika roh kita (kita yang sesungguhnya) menyanggupi tanggung jawab menjadi khalifah di muka bumi…

Comments off

Kalau Yg Ini Untukmu (lagi) Bold..

Sudah pernah kau baca hardcopy nya kan? Baca lagi nah dengan kepala dan hati yang berbaik sangka, tenang cuma kita berdua yang tau nick name "bold".. :D

Jangan mengeluh, jangan memaki-maki, jangan mengumpat ayah-ibumu. Biar kau gendong ayah-ibumu tujuh kali untuk thawaf berkeliling ka’bah sekalipun, belum bisa membalas ¼ jasanya terhadapmu. Kau tahu apa akibat untuk setiap tetes airmatanya? Satu pintu rejekimu di dunia terkatup, satu pintu berkah-Nya dari langit tertutup. Apa kau tahu? Bahkan jika ibumu menguliti badanmu itu juga belum cukup untuk membayar jasanya!

Sama seperti kau, saya juga merasa yakin berhak atas diriku, berhak atas pemenuhan keinginan-keinginanku dan statusku sebagai anak menghambat itu. Bold.. Jadi anak itu memang tidak gampang. Ketika kita lahir kedunia melalui rahim ibu, saat itu juga kita harus memikul tanggung jawab yang gunung pun menolak ketika ditawarkan Allah untuk memikulnya. Tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi, tanggung jawab sebagai pemberi rahmat bagi alam semesta, tanggung jawab sebagai seorang anak, tanggung jawab sebagai orang tua kelak, dan tanggung jawab sebagai pribadi yang memiliki keinginan-keinginan.

Untuk jalani tanggung jawab yang bejibun itu caranya gampang ji, dengan ikhlas! Yang susah melakukannya, butuh proses dan ketabahan luar biasa untuk ikhlas jalani itu semua. Saya juga belum paripurna serbagai seorang anak. Saya tidak mau menulis hal-hal yang saya sendiri tidak bisa lakukan. Orang tua, sama seperti kita, tidak ada yang sempurna karena kita semua manusia. Bukankah salah satu keindahan hidup itu adalah ketika kita bisa saling menerima kekurangan?

Pasti kau masih ingat jinggle penutupnya radio Madama FM di Makassar, "..hanya ikhlas yang bisa membuat kita tenang…" Ditambah lagi kau sudah nonton the secret, sudah baca quantum ikhlas..

Comments off

Untuk Inna Ana Syahidah

Yth. Redaksi SDP
Harian Pagi Fajar

"Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tidak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan, atau seniman palsu."
(“Sajak Palsu” Agus R. Sarjono)   

Puisi ciptaan salah seorang sastrawan negeri ini yang saya kutip sebelum mendapatkan ijin tertulis penyairnya (semoga dia tidak keberatan) sungguh adalah sebuah potret nyata dunia pendidikan di negeri ini, sebagian besar jika tidak semuanya demikian. Namun untung saja negeri ini masih punya guru seperti Lusino (30) yang memiliki dedikasi tinggi pada profesi gurunya, yang rela bangun subuh-subuh dan dengan motor bututnya masuk ke pedalaman hutan di Lahat Sumatera Selatan, sehingga wajah dunia pendidikan di negeri ini masih punya sisi yang indah. Belum habis keterperangahan saya setelah membaca berita tentang Haryanto murid SD berumur 12 tahun yang nyaris tewas karena menggantung dirinya gara-gara tidak mampu membayar uang 2500 rupiah untuk ekstrakurikulernya. Muncul lagi 2 buah surat dari pembaca di harian ini yang membuat miris hati saya (sdp. Muhary Wahyu Nurba 30/8/2003, dan sdp. Tanggapan KASEK SDN Bontokamase 1/9/2003 tentang anak dan murid bernama Inna Ana Syahidah).

Saya tidak ingin mengambil posisi mendukung salah satunya dan menyalahkan yang lain. Saya yang bodoh ini hanya ingin mengingatkan bapak dan ibu guru, para kepala sekolah, dan para orang tua siswa bahwa profesi guru bukanlah profesi yang mudah, enak dan “basah”. Guru adalah profesi yang menuntut pengabdian, keikhlasan dan profesionalisme tinggi. Jangan pernah mengharapkan menjadi kaya raya dengan menjadi guru, apalagi sampai mengkomersilkan profesi guru. Sekali lagi biarkan saya yang bodoh ini mengingatkan bapak dan ibu guru, para kepala sekolah, dan para orang tua siswa, bahwa anak-anak yang hari ini duduk di ruangan kelas anda, anak-anak yang dihukum ketika berbuat salah (tanpa kontak fisik tentunya) untuk menanamkan disiplin sejak dini, anak-anak yang melihat dan mengamati tindak-tanduk guru-gurunya, ayah ibunya, saudara-saudaranya, dan lingkungannya untuk dijadikan suri tauladan, adalah masa depan negeri ini! Tolong didik mereka dengan baik agar bangsa ini menjadi baik kelak ditangan mereka.

Comments off

30 Tahun Plus

Baru bangun, udah  jam 4 subuh… tidak terasa, Januari kemaren udah
35. Tua juga. Padahal rasanya sekarang aku lagi duduk di kamarku, masih
pake seragam putih biru baru pulang sekolah langsung nyalain komputer,
mo nulis jurnal harian. Masukin disket 5,5 inch yang berisi IBM DOS ke
kompi AT286, setelah "A prompt" muncul, (itu loh gambar "A>_") masukin
lagi disket yg berisi chiwriter (CW) aku suka banget make CW dibanding
WS (wordstar), fontnya CW lebih variatif. Makasih tante
Rasdianah yg udah maksa-maksa bokap biar beliin aku PC. Jadilah aku
termasuk 1000 orang pertama yg punya PC di makassar tahun 1988, termuda
pula! Beneran! Kalo ga percaya coba deh cek di database infotaintment..
:D

Nyatanya sekarang aku lagi depan laptop, nunggu subuh dateng menulis ini. Sudah berapa banyak materi yang aku kumpulkan
(yang tidak akan kubawa mati)? Apalagi yang ingin kuraih? Sudahkah
kutemukan apa yang kucari? Sudah beranikah aku menghadap-Nya bila
tiba-tiba Dia mengambil nyawa yang dipinjamkan-Nya untukku?

Bukan usia yg muda lagi. Mestinya di usia begini aku sudah:

1.
Punya anak & istri.. :) Mohon do’anya.. Insya Allah tahun ini,
amin. Jujur, aku tidak kuat lagi jalani idup sendirian. Godaan makin
berat, dan beda banget nikmatnya berkeluh kesah ama someone special
dengan berkeluh kesah lewat tulisan seperti sekarang. Lho? Kok tahu
bedanya? Ya iyalah.. :D

2.
Punya rumah sendiri buat anak istriku berlindung… Sudah ngambil tanah
kapling sih (Alhamdulillah), di kompleks perumahan karyawan bank BNI
Makassar, karena si bungsu Dewi ama suaminya karyawan bank BNI. Tadinya
ditawarin ama pemkot Palu rumah juga di kompleks PNS pemkot Palu, uang
mukanya mo dibayarin lagi, tapi gak jadi, minta mentahnya aja deh.. :D
Habis mo gimana, aku kok gak pernah merasa Palu ini rumahku?

3.
Finansial sudah 3 lapis. Lapis terluar untuk kebutuhan sehari-hari,
lapis tengah untuk kondisi emergency dan darurat, serta lapis paling
dalam yang gak boleh diganggu untuk dana abadi. Huuufh.. Kalo gini mah,
berarti aku ninggalin jalan indah yg kurintis sejak lama. Ogah! Gada
nikmat yg lebih nikmat ketika berjalan menuju ridha Allah, dan mengejar
dunia artinya muter arah dari jalan menuju ridha Allah. Kumpulkan dunia
secukupnya aja, materi gak dibawa mati.

4. Asuransi
kesehatan, dana pensiun, dana pendidikan anak. Buat jaga-jaga, supaya
kalo aku dah nikah trus punya anak dari istri yg soleha, Amiin, trus
tiba-tiba dipanggil Allah SWT (bukan minta cepet mati, tapi siapa yang
tahu kapan kita mati?)  orang-orang yang kusayangi gak terlantar karena
ada polis asuransi. Kayaknya ini penting juga yah? Apalagi aku gak mau jadi PNS yang ada
pensiunnya.
Hmmm.. Rupanya
makrifatku masih cetek, masih dangkal, belum bisa berserah diri untuk
orang-orang yg kutinggal.

5. Low risk business investment.
Bisnis beresiko rendah yang tentu aja gak menghasilkan banyak duit,
tapi stabil dan terus menghasilkan, jadi jaminan selalu ada rizki dari
Allah yg bisa diraih tiap hari buat makan anak-istriku.. Bikin loper
koran pinggir jalan atau buka warung-warung selular, atau warung
Padang? :D

6. Naik haji! Amin, amin, amiin ya Allah yang Maha mengabulkan.. Bukan
karena apa-apa, aku pernah dinasehati khusus ama pak Haji deket rumah
yang usianya udah 71 tahun. Kata beliau gini, "An, kalau kau sudah
punya cukup uang untuk berhaji. Bersegeralah! Karena bila sudah tua,
ada rasa sesal yg dalam karena otot yang kendur sudah tidak bisa
mengikuti gejolak semangat beribadah.. Tapi buat kau nak.. Jangan haji
dulu sebelum nikah!".. Halah, pak Haji.. Sempet-sempetnya ingetin soal
nikah..

Amin ya Rabbul ‘Alamin..

Comments off