Archive for April, 2008

Surat III

MWN saudaraku yang selalu baik.. (Tojeng!)

Begitulah, seperti di suratmu yang terakhir, "konsep sekolah" dan niat menikah tahun ini memang selalu kubawa kemana saja, dan sepertinya semesta sudah mengetahuinya, ketika kemarin seorang kawan bertamu ke kantor kecilku di Tondo, beliau dedengkot teknik mesin UH angkatan 84 yg wisuda 94, sekarang dosen senior di tadulako. Bisa kuraba betapa hausnya dia pada eksplorasi, hingga untuk mengenali kampus butuh waktu 10 tahun. Dia datang dan memberiku 3 oleh-oleh!

Pertama, menanyakan koneksi internet untuk rumahnya. Sudah 6 bulan beliau masuk waiting list calon pelanggan rumahan. Untuk menjaga kualitas koneksi aku terpaksa melakukan pembatasan jumlah pelanggan. Seperti rasio 1 orang guru efektif untuk 10 orang siswa.

Kedua dia menanyakan apakah aku sudah temukan apa yang aku cari di Makassar sebulan? Membran hatinya sudah sedemikian pekanya hingga bisa merasakan ada getaran kegelisahan di depannya. Aku belum menjawab dia sudah berbicara panjang lebar. Diceritakannya tentang proses tuning pada perangkat-perangkat mesin dan elektronis dan proses maintenance daya pancar pada perangkat radio. Manusia sehari 5 kali melakukan komunikasi khusus dengan Tuhannya, kualitas komunikasi itu amat ditentukan oleh dua hal, apakah kita sudah berada di frekuensi yang sama dengan-Nya? Dan apakah frekuensi carrier yang membawa harap kita sudah cocok? Salah memilih frekuensi carrier artinya informasi tidak sampai tujuan. Diteruskannya lagi, untuk proses tuning kita membutuhkan "istighfar" dan frekuensi pembawa yang paling baik adalah "shalawat".

Ketiga, dia bercerita tentang protesnya pada kepala sekolah anaknya yang telah memberikan hadiah berupa buku, sepatu, tas dan berbagai materi lainnya karena anaknya telah berprestasi pada pelajaran tertentu. Menurutnya itu salah, karena seorang anak yang cara berpikirnya masih sederhana, pemberian hadiah berupa materi akan membentuknya menjadi manusia yang "matter oriented". Anaknya akan mengukur setiap pencapaiannya adalah dengan meraih sebuah barang, bukan sudah seberapa banyak yang sudah diketahuinya.

Dia lalu memberi usul pada kepala sekolahnya supaya pemberian hadiah berupa materi pada siswa-siswa yang unggul dihentikan dan diganti seperti cara "pramuka" yang memberi "TKK" atau tanda kecakapan khusus untuk setiap keahlian yang dimiliki. Aku langsung teringat masa-masa SD bagaimana aku dan teman2 dalam persaingan yang penuh tawa, penuh canda dan sportifitas saling berlomba meraih pin "TKK".

Subhanallah.. Kenapa masih juga ada yang mengeluh Tuhan tidak mendengar? Bukannya malah kita yang seringkali tidak tahu cara mendengar?

Wassalamu’alaikum

Comments off

Surat II

Sudah sampai di Palu tadi pagi jam 7, si Budi yang ngantar. Aduh! Banyak sekali bengkalaiku yang belum sempat kuselesaikan sebelum berangkat. Padahal sudah sebulan di Makassar, kenapa menjelang pulang baru kuingat begitu banyak yang belum kuselesaikan? Seperti analogi kecil ketika manusia meregang nyawa, barulah teringat begitu banyak waktu terbuang dan begitu sedikit digunakan untuk berbuat baik.. :D

Sketsa rumah ta’, konsep sekolah versi beta, dan mengembalikan buku-bukumu yang kupinjam, terpaksa harus menunggu sampai ada long weekend lagi.

Kau mungkin tidak tahu, bahwa konsep sekolah kita –kau inginkan aku untuk ikut mematangkannya– yang berlari-lari bolak-balik dari kepala ke hati sesekali singgah di wc begitu tiap hari, telah menyelamatkan aku dari merusak satu keluarga baru, satu generasi bahkan!

Seorang kawan telah dihukum lingkungannya. Dia dikucilkan, dia dihinakan, dia terusir dan dia meradang! Aku hampir saja melangkahkan kedua kakiku ikut bergabung menjadi "hakim sok suci" bersama kawan-kawan yang lain. Tahukah kau apa yang membuatku tersadar? Dia sudah begitu bencinya pada "hakim-hakim dadakan" dan lingkungan yang mengucilkannya, sampai-sampai aku merasakan kebencian itu bisa dibawanya hingga ke anak-cucunya!

Satu kebencian di hati pada seorang calon ayah sudah terlalu besar untuk ditanggung oleh janin dalam kandungan istrinya. Kubayangkan bagaimana jadinya anak itu bila perasaan yang paling pertama dikenalnya ketika menghirup udara dunia adalah rasa benci? Bagaimana bila kelak anak itu menjadi salah seorang siswa di sekolah kita? Dan ribuan "bagaimana" lainnya menyerbuku tanpa ampun!

Semoga sedikit langkah kecil sebelum aku pulang ada gunanya..
Semoga bila kelak aku pulang ke Makassar, kau sudah bisa kuundang untuk duduk dekatku menjadi saksi di suatu majelis..

No comment »

Surat I

Assalamu’alaikum Warahmatullah

Kau sudah laki-laki dengan bertanggung jawab. Jempol dan ucapan selamat untuk itu!

Satu tanggung jawab besar sudah kau selesaikan dan tanggung jawab besar lainnya sudah menunggumu. Bahagiakan istrimu dan berikan pendidikan yang baik untuk anakmu.

Sanksi sosial yang kau rasakan sekarang berupa cerita buruk dan pengucilan belum seberapa bila dibandingkan susahnya nabi Adam A.S. yang terbuang dari sorga karena melanggar janjinya pada Tuhan.

Hadapi semua dengan senyuman, karena bila kau bersedih cuma sedikit orang yang mau meneteskan air matanya untuk kau, tapi kalau kau tersenyum, seluruh dunia akan tersenyum padamu.

Saya sekaligus minta maaf karena kelepasan ngomong waktu ngobrol dengan Om Boss ajak dia tinggalkan Jakarta untuk terlibat kegiatan di Pangkep, kubilang apa yang kudengar, kau pergi melamar ke Bone.

Ada yang jauh lebih penting dari sekedar ikuti emosi dan amarahmu pada sanksi sosial yang sedang kau jalani (ingat, masih ada sanksi akhirat dan percayalah pintu ampunan-Nya selalu terbuka untuk orang-orang yang sungguh-sungguh bertaubat).

Bahagiakan istrimu! Besarkan anakmu dan didik dia dengan baik.

Wasssalamu’alaikum wr.wb.

Comments off

Husni Djamaluddin Bergabung dengan Kehendak Allah Saja

 

Tulisan bapak Taufiq Ismail, yang kebetulan masih nangkring di PC di  Makassar, ketika bersama-sama MWN menjadi editor buku untuk bapak Husni Djamaluddin…

 

Tengah hari, Selasa 7
September 2004, sahabat kami Husni Djamaluddin muncul di Rumah Horison, Jalan Galur Sari II/54, Jakarta
Timur. Koalisi penyakit di dalam tubuhnya telah menjadikan dia alumnus (paling
kurang) lima hospital: Rumah Sakit Akademis, MMC, Persahabatan, Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo, dan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. 

 

Pisau bedah telah
menyayat-nyayat tubuhnya dua kali untuk menyingkirkan kanker di saluran
pencernaannya dan meringkas sembilan meter ususnya. Dalam tiga tahun terakhir
ini, penyair ini telah melompat-lompat antara hayat dan maut silih berganti
dengan tangkas dan ritmis, menghindar jangan sampai tersentuh tali yang
diayun-ayunkan ke kiri ke kanan ke atas ke bawah dalam permainan kehidupan ini,
mondar-mandir Makassar-Jakarta-Makassar-Jakarta.

 

Husni kelihatan segar
siang itu. Dia memperhatikan galeri foto sastrawan yang baru disusun rapi
fotografer-wartawan Ed Zoelverdi di dinding ruang tamu Rumah Horison, dan melihat citra wajahnya
dibingkai. Husni suka sekali fotonya yang diambil Ed itu. “Belum pernah saya
melihat itu,” katanya. “Bagus sekali.” Ed memang memiliki kemampuan merekam
karakter obyek pemotretannya.

 

Himpunan lengkap empat
kumpulan sajaknya, Indonesia, Masihkah
Engkau Tanah Airku?,
Pustaka Jaya, telah terbit, mendahului peringatan
ulang tahunnya ke 70 (10 November 2004). Dalam sisipan Kakilangit/Horison, edisi Agustus 2004, orang Mandar ini menjadi
penyair tamu yang dibicarakan khusus sepanjang 13 halaman.

 

Saya tanyakan apakah
undangan untuk besok peluncuran buku baru saya Katastrofi Mendunia —Marxisma Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba,
8 September pukul 14:00 di TIM sudah sampai? Sudah, katanya, dan dia akan
datang. (Karena salah baca, Husni datang malam harinya. Dia disambut galeri
yang gelap, dan sejumlah karangan bunga yang masih dipajang di depannya).

 

Husni memiliki rasa
humor yang tinggi. Dia memberi saya tiga helai kertas ketikan puisi barunya.
Halaman pertama berbunyi begini:

 

 Apa Kata
Rakyat Tentang HPH Konglomerat

 seluruh
kawasan hutan ini

 kita
yang punya

 kecuali
pohon-pohonnya.

 Makassar, 17 Agustus 2004.

 

Sajak ini
baru berumur 20 hari. Saya tertawa terbahak-bahak membacanya. Rasa jenaka yang
kritis ini khas Husni, baik dalam sajak maupun dalam percakapan sehari-hari.
Dia sering mengejutkan orang dengan metafor-metafornya. Sejenak saya lupa bahwa
sahabat saya ini, alumnus lima hospital penting, dalam keadaan sakit.

 

Istilah cuti, biasanya melekat pada pekerjaan. Bagi Husni,
istilah ini merujuk pada rumah sakit. Demikianlah, dia berkali-kali mendapat
cuti rawatan rumah sakit, karena kegiatan kemasyarakatannya. Dalam
memperjuangkan terbentuknya provinsi baru Sulawesi Barat, yang makan energi dan
waktu banyak, ketika delegasi harus pergi ke DPR-RI, Husni sebagai penggagas
dan aktivis yang masih terbaring di rumah sakit, tiba-tiba seperti hilang
sakitnya, minta cuti untuk ikut berangkat berunding di DPR.

 

Begitu pula ketika
berlangsung acara Indonesia International
Poetry Festival
 di Makassar (2002),
saat dia harus dioperasi di Jakarta, Husni mendapat cuti, bangkit dari
pembaringannya di rumah sakit. Sebagai penyair senior paling dihormati di
Indonesia Timur, kehormatan membuka acara dunia itu diserahkan kepadanya,
dengan membaca tiga puisi yang akan dikenang lama sekali, yaitu “Namaku
Toraja”, sebuah puisi indah tentang Tana Toraja, “Salib”, mengenai Jesus yang
turun ke Jerusalem kini dan kecewa melihat kondisi di dunia, dan “Tepi”, puisi
menghormati Mandela.

 

Baca puisi hebat itu
dilakukannya di atas kursi roda. Hadirin gemuruh bertepuk tangan, termasuk
penyair-penyair dari lima negara luar. Sehabis baca puisi pembukaan itu Husni
langsung dilarikan ke bandara, terbang ke Jakarta untuk operasi keesokannya.
Saya tidak tahu macam apa ketahanan badannya, menangkis rasa nyeri di tubuhnya
itu.

 

Kini Husni, Ati dan
saya makan siang bersama, Selasa 7 September itu. Husni bercerita bahwa dia
sudah lepas dari semua kehendak pribadi. Dalam hidup, ujarnya, kita condong
membuat daftar panjang kehendak, tapi banyak betul yang tak tercapai. Ternyata
yang pasti tercapai adalah kehendak Allah. Karena itu, Husni memutuskan, dia
bergabung dengan kehendak Allah saja. Dia tak lagi memikirkan dosa, tak lagi
mengurus pahala. Husni menyerahkan semua itu bulat-bulat pada Allah semata.

 

Saya tercenung
mendengarkan Husni. Maqam sahabat
saya ini sudah tinggi benar. Saya merasakan ucapannya tidak dibuat-buat, karena
gelombang getaran kata-katanya masuk mulus tanpa gangguan ke dalam kalbu saya.

 

Selepas shalat asar di
rumah adik iparnya, Azwan Hamir, suatu sore Februari yang lalu, Husni berdoa
minta panjang umur. Tiba-tiba dia merasa luar biasa malu pada Allah. Sudah
diberi usia (hampir) tujuh puluh tahun, kok masih minta panjang umur juga?
Husni merasa sangat-sangat-sangat malu pada Sang Maha Pemberi dan Maha Pemurah
itu.

 

Karena keputusan
bergabung dengan kehendak Allah itu, antara kehilangan dan mendapat, tak terasa
lagi bedanya.

 

Di bulan Februari silam
itu dua barang mahalnya, arloji Raymond Weil dan telepon genggam Nokia-nya
hilang. Raib. Aneh, kata Husni. Dia tidak merasa rugi, tak risau apa pun.

 

Minggu yang lalu,
Agustus 2004, seorang kawannya yang kaya-raya (pemilik mobil balap Bentley
seharga 10 milyar rupiah), mendengar Husni kehilangan arloji, memberinya ganti.
Tidak tanggung-tanggung, dia dihadiahi arloji Vacheron Constantine, produk
Jenewa, seharga $AS21.000. Dikonversi ke kepeng kita, setara Rp189 juta. “Saya
tidak merasa jadi kaya,” kata Husni.

 

Sekali lagi saya
merasakan ucapannya polos tak berpura-pura, karena gelombang getaran
kata-katanya masuk mulus tanpa gangguan ke dalam kalbu saya. Saya memeriksa
arloji Jenewa itu dipergelangan tangan kiri Husni. “Cobalah pakai,” kata Husni.
Saya coba pakai. Seumur hidup baru kali itu saya menyentuh kronometer seharga
tiga rumah itu.

 

Dalam menu makan siang
di Rumah Horison waktu itu antara
lain terhidang kari ayam. Husni terkejut. “Masya Allah,” katanya. “Ada apa?”
tanya Ati. Sejak dari rumah pagi tadi, dia ingin betul makan kari ayam,
sehingga berencana mau mencarinya ke restoran. Eh, karena Allah menentukan menu
siang itu di Horison kari ayam, dan
Husni sudah berkoalisi dengan kehendak Allah, maka secara tepat kari ayamlah
yang diperolehnya.

 

Sebagai alumnus S-5, tamatan 5 hospital penting, zikrul-maut sudah basah di
lidah dan bibir Husni. Wiridnya antara lain membaca shalawat Rasul 202 kali
sehari. Penyair yang pernah tiga kali bertemu Rasulullah Muhammad SAW di dalam
mimpi sebelum shalat subuh ini (pengalaman rohani luar biasa hadiah bagi
seorang Muslim, bahkan kiyai-kiyai pun belum tentu mengalaminya), sebulan yang
lalu, 7 Agustus 2004 menulis puisi mengharukan tentang El-Maut berikut ini:

 

Ajal, Sebelum Datang

 

Ajal

sepertinya semakin mendekat

setelah dua tahun lewat

aku digerogoti kanker usus stadium
empat

 

ajal adalah tamu

yang tak mungkin kuhindari

tamu yang tak tahu basa-basi

dan tak kenal kompromi

 

ajal

pelaksana eksekusi

yang taat pada waktu

tak mau terburu-buru

tapi tak pernah terlambat biar
sesaat

 

ajal

adakah pilihan lain

kecuali menunggumu

di depan pintu

dengan sikap tawakkal

atas segala amal

dan dosa-dosaku

 

ajal

kau tahu apa yang paling kudambakan

menjelang detik-detik kedatanganmu

ampunan dari Tuhan

doa dari keluarga

dan simpati dari teman-teman

 

ajal

jemputlah kapan saja

pada saatnya

toh kita bukan seteru

kita adalah sekutu

yang mestinya sudah kenal

sejak dari awal

 

ajal

sebelum kau datang

perkenankan aku bilang

selamat pagi matahari

selamat malam rembulan

aku cinta kehidupan

 

Makassar,
7 Agustus 2004

 

Puisi ini ditulis dalam
lembar halaman 2 dan 3 kertas ketikan yang diberikannya kepada saya tadi. Di
rumah saya merenungkan kedalaman makna zikrul maut yang digoreskan sahabat saya
Husni Djamaluddin, yang cuma bisa ditulis penyair yang telah diping-pong intensitas pengalaman fisik dan batin,
melintas net antara hayat dan maut. Terima kasih Husni, terima kasih. Kapan
saya akan sanggup mengikuti siraath
Anda, bergabung dengan kehendak Allah semata? ***

 

Jakarta, 27 September 2004.

 

 Taufiq Ismail,
penyair dan salah seorang pendiri majalah sastra Horison.

  

Comments off

Dari kota Palu ke kabupaten Pangkajene Kepulauan

Rencana Tuhan Memang Unpredictible
Aku boleh berencana apa aja, menargetkan bahkan, pulang ke Makassar untuk nikah, rencana rahasia yang sudah kusimpan sejak kelas 1 SMP pas pertama kali "mimpi basah" tanda akil-balik :D Berencana meninggalkan FS, dan banyak rencana lain. Toh aku belum bisa. Belum. Paling tidak aku masih punya cadangan 8 bulan lagi untuk rencana menikah tahun ini.

Waktu nulis ini sudah masuk minggu ke 3 di Makassar. Bagaimana gelisahnya teman-teman di Palu seperti SMS mereka tiap malam sejak minggu lalu, "Besok jadi pulang?" "Kapan pulang Palu?" (Sms dari big boss) "An, Mie Keringku!! Ponakanmu ini ngidam Mie Kering!" (Sms dari Uni Nina yg ngidam Mie titi) "Komandan cepat maki pulang, capek makan ala anak gunung, indomie, indomie, indomie.." "Dicariki pak Taka.." (Sms dari Tapa Arwana) "Sudah nikah ya di Makassar? Makanya tidak mikir Palu lagi?" "43 Kelurahan sudah siap pak" "Ada teman yang mau sharing koneksi internet dengan kantorta, warnetnya di jalan monginsidi.." (Sms dari Rijal)

Obladi Oblada Life Goes On
Menjaga hati agar tidak keruh ketika harapan tidak seperti kenyataan, ternyata bukanlah hal yang mustahil. Tidak mudah memang, tapi ketika kita berbaik sangka boleh jadi Allah memiliki rencana lain yang lebih baik dari harapan dan keinginan kita, maka saat itu juga hati menjadi ringan dan plong.

Sekarang Aku Berencana Jadi Orang Pangkep
Iya. Itu yang kuniatkan. Bukan karena jatuh cinta pada gadis Pangkep, malah gadis antah berantah yang aku temui di warung 189 jalan poros Maros-Pangkep yang membuatku tersenyum sepanjang jalan. Ciri kegilaan akibat kelewat lama menjomblo kali? :D Gila dan mata keranjang. Itu lebih tepat. Tunggu dulu, sebelum menuduh aku mata keranjang aku cerita dulu deh kenapa sampe senyam-senyum sepanjang jalan Maros-Pangkep selepas warung 189.

Sambil menunggu no antrian 48 pesanan "Jalangkote" di warung 189 ato "Risoles" kata orang Jawa, oleh-oleh untuk temen di Pangkep yang sudah menunggu dari kemarin, aku ngirim sms ke Ditha, teringat bagaimana ade’ yang satu ini bersemangat banget menasehati aku tentang pernikahan.. Padahal dia kurang lebih sama denganku, zero experience :D.. Tiba-tiba dari mobil avanza krem metalik turun anak gadis, senyum lalu hampiri aku di bangku tempat nunggu di teras, "Aga? dst.dst.dst….." (Gak ngerti saia bahasa Bugis! Kalo Bahasa Makassar aku ladeni deh!) Busyet. Dia nyerocos dengan bahasa Bugis, speednya 200km/jam seperti bertemu saudara sekampung yang belasan tahun terpisah karena perang! Aku bengong. Kulirik si Toto dengan mata memohon bantuan, "To! Apa nabilang itu?" Toto cuma menggeleng, dia sama bodohnya berbahasa bugis sepertiku.

Gadis itu berhenti ngomong karena ayah ibunya turun dari mobil negur, "Siapa nak?" (Pake bahasa bugis juga, "Niga?" Gitu yg kudengar. Ayah Ibunya mungkin tidak tega liat aku dihantam dengan bahasa Bugis dan cuma bisa membalas dengan senyum campur bengong..) Seperti tersadar kalo dia salah orang, mukanya merah, senyum malunya segede gunung mengembang, "Maaf di’.. Kukiraki teman SMA ku.." dan segera masuk ke dalam warung bersama ibunya yang berkerudung mulai memilih-milih kue-kue kecil yang ada di etalase. Nah! Adegan dia memilih2 kue itu seperti slow-motion di mataku. Waaaah! Indah banget! Kolaborasi Ibu dan anak perempuan memilih penganan terbaik buat keluarganya yang nunggu di rumah! Karena dia tidak beli Jalangkote yang harus antri, dia keluar warung lebih dulu, dikatupkannnya kedua tangannya seperti orang Thailand kalo bertemu, sambil senyum "Maafkan ka di’?"..

Nabi Khaidir Pernah Mampir di Pangkep
Konon kabarnya, bila di suatu daerah ada pohon Kelapa, tanaman Padi yang subur, sungai yang tidak pernah kering, itu berarti Nabi Khaidir pernah mampir di situ. Pangkep begitu. Kabupaten ini diberkahi, amin.

Jum’at malam tiba di perumahan karyawan PT. Semen Tonasa, sabtu pagi sampai malam aku diajak keliling Pangkep daratan (Kabupaten Pangkep itu singkatan dari Pangkajene Kepulauan, ada 117 pulau 83 diantaranya berpenghuni yang masuk wilayah kabupaten ini selain daratan dan perbukitan yang kaya bahan tambang dan hasil bumi). Naik motor ditemani suami cucu Pak Ali, aku diajak keliling hingga masuk ke pelosok kampung di Pangkep. Sebelum presentasi tentang infrastruktur IT dan e-Government di hadapan para petinggi kabupaten Pangkep, aku sudah bilang setelah ini ajak aku keliling ke pelosok Pangkep, ke kampung-kampungnya. Dan aku dibuat Pangkep jatuh cinta pada alamnya!

Di dalam jalan-jalan kampung, aku diajak ke sebuah warung sop Kikil. Subhanallah! Warung itu di tepi sawah, berdinding anyaman bambu, gerimis di pangkep melengkapi potret keindahannya, dan aku lebih takjub lagi ketika masuk ke dalamnya.. Bapak haji pemilik warung itu tengah bertutur pada 4 orang muda (karyawannya barangkali) tentang sejarah Mekkah dari jaman Nabi Adam hingga Rasulullah SAW dengan bahasa Makassar halus. Bahasa Makassar dengan logat Bugis!

No comment »