Archive for May, 2008

Farewell Inspirasiku!

Semoga arwah bapak Sophan Sophiaan diterima di sisi Allah SWT, amin (Sabtu, 17-05-2008 20:52:12) .

Lepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, almarhum sudah memberikan inspirasi besar padaku saat memutuskan mundur dan keluar dari keanggotaannya di MPR/DPR-RI pada tahun 2003, bahwa betapa sebuah jabatan dan kedudukan yang dimata sebagian besar orang adalah prestisius tidak dapat menghalanginya untuk mempertahankan apa yang menurutnya prinsip.

Dia telah mengajarkan pada bangsa ini bagaimaan politisi itu sebenarnya dapat berjalan di atas hati nurani yang jujur dan moralitas yang tinggi.

Comments (1) »

Akhirnya Aku Tergoda Juga…

Tergoda untuk nyoba hunting money online. Aku bahkan sudah bikin satu situs di hosting gratisan buat trial-error tapi baru sebulan belakangan ini aku intens update. Udah daftar google adsense pula (tapi belum di approve ama om google), bikin studi pasar sederhana juga sudah! Ampun deh, serius banget?

Gini… Eh? Aku kok seperti lagi mo prospek orang biar ikut multilevel? :D Awalnya aku kurang tertarik ama making money online business or something like that, rasanya gak “jantan” banget deh! Get paid karena nge-click? Jantanan jadi carder, ups! Kenal internet tahun 1991 di Makassar, tahun pertama indosatM2 buka cabang di Makassar, waktu itu blon ada pay-per-click yg banyak affiliate banner. Oh! Tau deh sekarang! Kenapa aku alergi ama making money online, karena dulu aku sebel banget kalo buka situs yg penuh banner iklan dengan koneksi dial-up yang leletnya minta maaf!

Godaan untuk mulai nyari passive income di internet itu mulainya pas 2 tahun terakhir, gara2 koneksi internet di kantor berlimpah dan waktu luang yang banyak banget. Asyiknya jadi network administrator kalo gak ada masalah ama jaringan, gada keluhan, gada komplain, alamat bakal makan gaji buta deh! :D Tapi giliran ada masalah, entah server diserbu trojan yang suka makan bandwidth, atau pemkot Palu minta di bantu susun program kerja IT nya, rasanya gajiku sebulan kok gak layak banget. :D Hehehehe…

Pointnya. Dengan koneksi berlimpah dan banyak waktu luang, aku jadi mikir… Blog aku yang sifatnya emang jurnal pribadi ya tetap seperti itu adanya. Menulis sesuatu yang mungkin berguna untuk diriku dan orang lain adalah kebahagiaan. Membuat situs passive income adalah rem buatku untuk tidak melakukan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat waktu lagi online.

No comment »

Waktunya Berkemas

Assalamu’alaikum Warahmatullah..

Kupikir tidak perlu kuceritakan panjang lebar padamu sari’ (sari’=saudara, kandung, bahasa makassar lebih halus nilai rasanya dari pindu’) mengapa akhirnya kuputuskan untuk berkemas. Aku tidak mau kelihatan seperti orang yang berkeluh kesah dan berputus asa pada rahmat-Nya.

Sudah kucukupkan semuanya. Angka minimal 3 kali petunjuk Rasul sudah kujalani, lebih 3 kali bahkan. Dosaku sudah terlalu banyak, dan akan makin banyak saja bila aku tidak segera berlalu dari sini. Menurutmu aku mungkin serba ragu dalam hal melangkah ke gerbang yang satu itu –tidak usah dibahas ya? nanti saja!– Aku meragu di awal agar yakin di akhir. Lagian ini bukan soal berhitung 1 sampai 3. Ini soal prinsip.

Tunggu aku di makassar sari’.
Kita bangun sekolah kita itu, Bismillah.

No comment »

Bold.. Jadi Orangtua Sama Susahnya Jadi Anak..

Ini sok tahu aku aja, belon jadi orangtua sih sekarang. Setelah lihat sendiri bagaimana Dewi dan Boy bahu-membahu pontang-panting membesarkan Azriel mulai dari kolaborasi mereka yg penuh cinta (Yg ini tentu saja tidak kulihat! Yang bener aja man!) kemudian Azriel lahir, dan sekarang sudah berusia 1 tahun 3 bulan. Tiap jam 3 pagi Azriel bangun minta nenen, Dewi bangun. Jam 4 Azriel bangun, minta ganti popok yang udah full tank, si Boy yang bangun trus sambil nunggu subuh digendongnya Azriel, kasi tidur kembali, kalo mau tidur lagi. Kalo tidak? Terpaksa si Boy nemenin Azriel main, dengan bahasa planet pula! Vavah.. Vavah.. Auuuww Aaahh.. Elaaapphh… atau capppph capppph cappphhhh tteehh, itu sampai jam 6.30 pagi, mandi. Jam 7.15 dia sudah tinggalkan Ratulangi, ke kantor. Aku? Baru aja mau tidur..

Dewi berhenti kerja. Si Boy jadi tulang punggung ekonomi rumah tangga mereka. Sampai di sini sudah bisa kurasakan capeknya jadi orang tua. Kalau bukan karena cinta yang seluas semesta, nggak mungkinlah ada orang tua yang mampu bertahan. Pelan-pelan boy menabung, mengumpulkan sesuatu untuk anaknya, kemarin si Azriel dibelikannya kolam renang plastik. Bila moodnya sedang capek, sedang ilfil, lalu Azriel bikin ulah, kolam karet itu dirobek-robek Azriel karena naluri untuk mengasah giginya yang mulai tumbuh, marah-meradangkah Boy oleh ulah Azriel? Aku yakin si Boy tidak bakal marah. Kenapa? Pertama karena si Boy tahu, akal Azriel belum tumbuh, Azriel belon tahu mana yang boleh mana yang tidak. Kedua, karena si Boy emang bawaannya sabaran.

Tapi bila Azriel sudah dewasa, katakanlah 22 tahun. Lalu Azriel melakukan sesuatu yang menurut timbangan akal seorang yang berusia 20 tahun ke atas, sesuatu yang salah. Masih bisakah Boy bersabar? Bersabar dengan mood yang lagi hancur seberapa lama nahannya? Katakanlah dia habis ribut sama si Dewi gara-gara rebutan remote TV. Kira-kira si Azriel cuma dapet marah atau kena gampar? Kalau Azriel cuma diam, karena tahu dirinya salah, boleh jadi si Azriel cuma kena damprat ga pake gampar. Tapi kalau Azriel nunjukin sikap ngelawan? Kira-kira dia digampar gak ya?

Orang tua juga manusia Bold. Sama seperti kita yang serba punya batasan. Batasan kesabaran salah satunya. Ugh! Jangan bilang kita ga pernah minta untuk dilahirkan ke dunia dan menjadi anak mereka. Nanti bakal kita sadari bahwa keberadaan kita bukanlah karena kolaborasi penuh cinta kedua orang tua kita, tetapi itu karena ikrar kita pada Allah menyanggupi tanggung jawab menjadi khalifah di muka bumi…

No comment »

Action Speaks Louder Than Words..

Baru pulang acara traktiran perpisahan si Wati yg mo pulang ke Palopo besok pagi, katanya mo jagain neneknya yang sakit keras, rame-rame ma anak-anak yg suka nongkrong di warnet Islamic Center Untad. Aku kok sedih ya? Apa sedih ini akumulasi dari semua emosi yang bercampur aduk beberapa minggu ini? Sedih juga gemes. Entah. Aku dah ga kuat mikir lagi, capek banget, pengen tidur. Nulis ini juga pake nahan kantuk, nungguin update server fedora teknik mesin Untad, tanggung dah 99% daripada ntar mati lampu lagi. Gada lagi deh si imut ponakan si Iyut iparku, yg suka bikin mukaku merah karena aku lagi asyik depan komputer, dia gelar sajadah sesaat setelah mesjid samping kantor adzan..

Wati mungkin ga balik lagi ke WARTEKnet, dan itu wajar. Wajarlah bila sarjana mencari pekerjaan yg sesuai dengan disiplin ilmunya, yg sallary nya sesuai dengan tingkat pendidikan dan keahliannya. Kantor ini bukan tidak bisa memberi sallary yang layak. Aku tahu kok kemampuan kantor ini, masalahnya aku bukan pimpinan puncak kantor ini. Idiih sok amat. Emangnya kalo aku yg mimpin aku bisa jamin kalo semua karyawan bakal sejahtera. Paling tidak waktu megang distributor VICO 2004-2006 di Makassar, karyawan lebih sejahtera dari aku.. Bukan bisnis yg sehat karena tidak menguntungkan kata temen-temenku yag kapitalis, tapi buatku VICO itu bisnis yang mengajarkan aku satu hal yang belum tentu pernah dirasain oleh para kapitalis, kebahagiaan ketika diberi kepercayaan ama Allah untuk mendistribusikan rizqi-Nya..

Do something.. How to makes this “ship” survive without me.. Bagaimana membuat para karyawan mendapatkan gaji yang sesuai bahkan lebih, yg tidak akan didapatkannya di tempat lain..

Ribet! WARTEKnet cuma salah satu divisi dari UPT Prodtek UNTAD. Apalah dayaku sebagai kepala divisi kalau kepala lembaga punya kebijakan dan perhitungan matematika ekonomi yang beda ama aku soal gaji karyawan. Apa aku lepas aja dari UPT Prodtek Untad trus bangun usaha sendiri di Palu? Lalu bagaimana dengan rencanaku di Makassar? Kalo bangun usaha lagi, artinya investasi. Investasi itu duit. Tertunda lagi deh rencana nikah. Mang dah jelas mo ngelamar siapa? Udah ah! Besok lagi mikirnya.

Comments (1) »

Titik NOL

Laki-laki di titik Nol
Aku memilih untuk menjadi
laki-laki cerdas
melacurkan diriku pada imanku
agar aku merdeka dari
perbudakan nafsu dan keinginanku
berupa seks, kelembutan, keindahan,
kekayaan, kekuasaan atau

Apa pun itu!

2002 (adaptasi perempuan di titik Nol)

Dalam tiga puluh tahun mestinya ada banyak hal yang telah terjadi, dan itu yang selalu mengusik ketenanganku. Apa yang sudah saya lakukan dalam tiga puluh tahun ini? Apa yang sudah saya lakukan setelah minus 30 tahun sebelum aku mati? Tidak ada! Apa iya aku tidak melakukan sesuatu, satu saja, sesuatu yang berarti.. berarti untuk kuman, bakteri, virus, jamur dan parasit dalam tubuhku, untuk bumi yang kupijak, untuk tanah air tempat aku dilahirkan, untuk rumah yang kutinggali, untuk udara yang kuhirup, untuk air yang kuminum, untuk guru-guruku, untuk ibu yang melahirkanku, untuk ayah yang mendidikku, untuk seseorang yang telah berkorban untukku hingga batas akhirnya, untuk saudara-saudaraku, untuk ponakan-ponakanku, untuk komunitasku, untuk hidupku, dan yang paling penting untuk matiku? Apakah sudah ada sesuatu yang kulakukan dalam tiga puluh tahun hidupku?  Aku hanya bisa mengatakan bahwa “rasa” yang diberikan-Nya padaku adalah berkah. Dengan rasa aku mencoba memaknai hidup, dengan rasa aku mencoba menuliskan apa-apa yang pernah singgah di perasaanku. Dengan rasa aku mulai melukis lagi. Semoga aku tidak sedang seperti “merasa amat!”.

Tulisan-tulisan ini, entah mau disebut apa, terserah! Aku melihatnya seperti coretan sketsa-sketasku di selembar kertas buram, kali ini tidak dengan sebatang pensil, selembar kertas dan coretan tanganku, tapi dengan huruf dan kata-kata yang sepertinya bakal berbau kesombongan egoku. Tapi aku tidak akan berhenti menulis jikalau ini hanya sebuah pembuktian untuk egoku yang tersinggung karena dalam tiga puluh tahun ini aku tidak melakukan sesuatu apa pun. Seperti potongan-potongan ruang dan waktu yang bisa kusimpan dengan rapi selama tiga puluh tahun ini. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar  egoku tidak mendapat peran di dalamnya. Jika saya gagal membendungnya maka tulisan ini tidak akan pernah dicetak, tidak akan pernah diperbanyak. Setiap lembar, setiap bit data tentang tulisan ini akan aku musnahkan. Aku menyimpan harapan ada sesuatu yang berguna yang telah aku lakukan dengan ini. Barangkali yang paling pertama merasakan manfaatnya adalah kuman dalam tubuhku, dan warung rokok, jam tidurku berkurang dan komsumsi rokokku meningkat gila! Sebulan berikutnya giliran PLN yang akan mendapat manfaat dari lonjakan pembayaran listrik karena komputerku hanya off selama 2 jam dalam sehari semalam.

Sungguh! Jangan pernah menganggap remeh hidup di dunia! Hidup sama sekali tidak mudah, tapi tidak juga susah-susah amat, karena tidak sampai membuatku ingin membunuh diri sendiri. Capek jalani hidup itu biasa dan manusiawi kok. Minggir sebentar, tarik nafas dalam-dalam, jalan lagi. Life goes on ‘coz time wait for nobody. Dulu, membuat rencana itu salah satu hobby, sewaktu kuliah mata kuliah “Azas Perencanaan” jadi mata kuliah yang terindah, 60 menit sebelum dosennya datang, saya sudah ada di plazgoss ft-unhas (plaza gossip), menunggu dengan harap-harap cemas akankah dia datang hari ini, setiap kuliah berakhir mataku selalu basah oleh air mata, aku terharu, dosenku kok berani bawakan kuliah “Azas Perencanaan” tanpa perencanaan sebelumnya.. Sekarang hidupku bisa dibilang tanpa rencana, tanpa aturan. Muak aku buat perencanaan yang ternyata tidak bisa aku laksanakan. Hidup sudah kepalang basah dijalani dan harus dipertanggungjawabkan saat mati. Aku hanya mau setiap hari-hari yang kujalani berarti, aku upayakan kulalui setiap hariku dengan sebaik mungkin. Moga-moga ini akan terus berproses hingga akhirnya, dengan ijin Allah, setiap jam, setiap menit, setiap detik akan berarti tidak tersia-siakan.

No comment »

Surat 0,5

Sudah sampai di Palu tadi pagi jam 7, si Budi yang ngantar. Aduh! Banyak sekali bengkalaiku yang belum sempat kuselesaikan sebelum berangkat. Padahal sudah sebulan di Makassar, kenapa menjelang pulang baru kuingat begitu banyak yang belum kuselesaikan? Seperti analogi kecil ketika manusia meregang nyawa, barulah teringat begitu banyak waktu terbuang dan begitu sedikit digunakan untuk berbuat baik.. :D

Sketsa rumah ta’, konsep sekolah versi beta, dan mengembalikan buku-bukumu yang kupinjam, terpaksa harus menunggu sampai ada long weekend lagi.

Kau mungkin tidak tahu, bahwa konsep sekolah kita –kau inginkan aku untuk ikut mematangkannya– yang berlari-lari bolak-balik dari kepala ke hati sesekali singgah di wc begitu tiap hari, telah menyelamatkan aku dari merusak satu keluarga baru, satu generasi bahkan!

Seorang kawan telah dihukum lingkungannya. Dia dikucilkan, dia dihinakan, dia terusir dan dia meradang! Aku hampir saja melangkahkan kedua kakiku ikut bergabung menjadi “hakim sok suci” bersama kawan-kawan yang lain. Tahukah kau apa yang membuatku tersadar? Dia sudah begitu bencinya pada “hakim-hakim dadakan” dan lingkungan yang mengucilkannya, sampai-sampai aku merasakan kebencian itu bisa dibawanya hingga ke anak-cucunya!

Satu kebencian di hati pada seorang calon ayah sudah terlalu besar untuk ditanggung oleh janin dalam kandungan istrinya. Kubayangkan bagaimana jadinya anak itu bila perasaan yang paling pertama dikenalnya ketika menghirup udara dunia adalah rasa benci? Bagaimana bila kelak anak itu menjadi salah seorang siswa di sekolah kita? Dan ribuan “bagaimana” lainnya menyerbuku tanpa ampun!

Semoga sedikit langkah kecil sebelum aku pulang ada gunanya..
Semoga bila kelak aku pulang ke Makassar, kau sudah bisa kuundang untuk duduk dekatku menjadi saksi di suatu majelis..

No comment »

Kepada MWN 1

Saudaraku yang selalu baik.. (Tojeng!) Begitulah, seperti di suratmu yang terakhir, “konsep sekolah” dan niat menikah tahun ini memang selalu kubawa kemana saja, dan sepertinya semesta sudah mengetahuinya, ketika kemarin seorang kawan bertamu ke kantor kecilku di Tondo, beliau dedengkot teknik mesin UH angkatan 84 yg wisuda 94, sekarang dosen senior di tadulako. Betapa hausnya dia pada eksplorasi, hingga untuk mengenali kampus butuh waktu 10 tahun. Dia datang dan memberiku 3 oleh-oleh!

Pertama, menanyakan koneksi internet untuk rumahnya. Sudah 6 bulan beliau masuk waiting list calon pelanggan rumahan. Untuk menjaga kualitas koneksi aku terpaksa melakukan pembatasan jumlah pelanggan. Seperti rasio 1 orang guru efektif untuk 10 orang siswa.

Kedua dia menanyakan apakah aku sudah temukan apa yang aku cari di Makassar sebulan? Membran hatinya sudah sedemikian pekanya hingga bisa merasakan ada getaran kegelisahan di depannya. Aku belum menjawab dia sudah berbicara panjang lebar. Diceritakannya tentang proses tuning pada perangkat-perangkat mesin dan elektronis dan proses maintenance daya pancar pada perangkat radio. Manusia sehari 5 kali melakukan komunikasi khusus dengan Tuhannya, kualitas komunikasi itu amat ditentukan oleh dua hal, apakah kita sudah berada di frekuensi yang sama dengan-Nya? Dan apakah frekuensi carrier yang membawa harap kita sudah cocok? Salah memilih frekuensi carrier artinya informasi tidak sampai tujuan. Diteruskannya lagi, untuk proses tuning kita membutuhkan “istighfar” dan frekuensi pembawa yang paling baik adalah “shalawat”.

Ketiga, dia bercerita tentang protesnya pada kepala sekolah anaknya yang telah memberikan hadiah berupa buku, sepatu, tas dan berbagai materi lainnya karena anaknya telah berprestasi pada pelajaran tertentu. Menurutnya itu salah, karena seorang anak yang cara berpikirnya masih sederhana, pemberian hadiah berupa materi akan membentuknya menjadi manusia yang “matter oriented”. Anaknya akan mengukur setiap pencapaiannya adalah dengan meraih sebuah barang, bukan sudah seberapa banyak yang sudah diketahuinya. Dia lalu memberi usul pada kepala sekolahnya supaya pemberian hadiah berupa materi pada siswa-siswa yang unggul dihentikan dan diganti seperti cara “pramuka” yang memberi “TKK” atau tanda kecakapan khusus untuk setiap keahlian yang dimiliki. Aku langsung teringat masa-masa SD bagaimana aku dan teman2 dalam persaingan yang penuh tawa, penuh canda dan sportifitas saling berlomba meraih pin “TKK”.

Subhanallah.. Kenapa masih juga ada yang mengeluh Tuhan tidak mendengar? Bukannya malah kita yang seringkali tidak tahu cara mendengar?

Wassalamu’alaikum

Comments (1) »