Archive for July, 2008

Isra’ Mi’raj dan Bangun Pagi

sunsetbengkulu.jpg

Bangun pagi buatku adalah barang mewah, kalau tidur pagi sih udah 10 tahun terakhir aku akrabi. Anehnya, bangun pagi ini biasanya aku dapati pas liburan ke Makassar dan kali ini tidak bisa tidak aku harus tidur paling lambat jam 1 malam dan jam 5 subuh sudah bangun. Kalau tidak ponakanku si Ariel bakal nyolok-nyolok idungku dengan jempolnya, ngilik-ngilik kupingku sambil teriak-teriak.

Di Palu tempat aku 2 tahun terakhir bekerja nyari duit aku malah tidur pagi! Kerja yang aneh, tidak sehat, menyalahi sunnatullah tentang peruntukan waktu dan banyak lagi teguran (juga omelan) lainnya yang pernah aku terima :D

Kemarin subuh 15 menit sebelum Ariel menerobos masuk kamarku dan mulai main-main dengan lubang kupingku aku sudah bangun oleh azan subuh. Pagi yang indah. Angin berkesiuh sejuk agak lain. Hari apa ini?.

Sulit dibendung! tiap kali ingin menggambarkan keindahan langsung deh jadi puitik giliran ngumpat yang ada Aan si preman desa.. :D

Liat tanggalan di hape gada yg aneh dengan hari ini. Nanti liat mama papanya si Ariel di bawah lagi kolaborasi nyuci tabungan pakaian kotor mereka seminggu, pasti tanggal merah nih.. Isra’ Mi’raj… Begitu tahu hari ini Isra’ Mi’raj sel-sel dalam otakku menyemburkan hormonnya disusul oleh hatiku yang memberikan suasananya aku dibawanya mundur beberapa tahun ke belakang..

Lalu untuk apa mengangankan mesin waktu? Untuk apa ingin tetap muda? Bila hati nyaris bisa menampung semuanya? Masalahnya, nyimpen apa aja dalam hatimu?

Jaman MH. Ainun Nadjib masih muda, waktu itu aku baru tamat SMA. Dia lagi top-topnya diundang kemana-mana jadi pembicara untuk buku-bukunya, Menghitung dari 0 ke 99 lalu kembali ke 0. Indonesia, desa kecil kami. Kalau tidak salah itu beberapa buku yang dikupasnya saat itu di Gedung IMMIM Makassar selain tema utamanya, Isra’ Mi’raj. Aku ingat satu hal dari diskusi hari itu, kita bersependapat bahwa ketika Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW tidak bermimpi atau cuma rohnya yang berjalan tapi juga jasadnya dan berhasil dijabarkan dan dilmiahkan oleh kakak-kakak mahasiswa (aku kan masih SMA) dengan teori relativitas Enstein “E sama dengan m kali c kuadrat”.

Lalu aku membayangkan bagaimana bila beliau SAW tidak pernah Isra’ dan Mi’raj? Aku memahami Isra’ sebagai perjalanan atau farewell lap ke masa lalu ke Masjidil Aqsa saat masih menjadi qiblat dan Mi’raj bertemu dengan-Nya (oleh kaum sufi salah satu keutamaan Muhammad SAW ada di peristiwa ini, sebab katanya bila mereka yang mengalami “pertemuan” itu, tentulah mereka ingin tetap di sana bersamaNya..). Indahnya sebuah pertemuan Zat yang mencinta hingga setiap komponen Zat tak pernah berhenti menyebut namaNya itu tidak perlulah aku lukiskan, karena memang tidak mampu kubahasakan, aku memahami perintah Shalat yang diterima beliau SAW saat mi’raj adalah sebuah ungkapan kerinduan dan keinginan untuk selalu bertemu kembali 5 kali sehari.

Beberapa kisah tentang beliau SAW yang begitu berbekas di hatiku selain Isra’ Mi’raj, Hijrah, Siti Khadijah istri pertama beliau yang selalu saja membuat Siti Aisyah RA cemburu, dan saat-saat terkahir beliau.

Comments (4) »

Hawa 17

Hawa 17 Agustus maksudnya..

Rinduku pada teman2 di makassar sudah terbayar lebih separuh.. Aku rindu berada di lingkungan yang tidak berbicara tentang apapun.. Aku rindu pada kalimat-kalimat tanpa bunyi.. Diskusi-diskusi kesunyian.. Sungguh hal-hal teknis dan duniawi yang sedang kukerjakan pada kegiatan rutinku cukup menyiksa hingga kadang membuatku lost in space.. Bila bukan karena takut “sok tahu” tentang takdir apa yang sebaiknya kujalani, tentu sudah kupilih takdir-Nya yang lain..

Sengaja ku-repost beberapa tulisan lepas lama, yang pernah kita diskusikan kita baca, sebagai pelepas rindu berkumpul dengan kalian, sebagai katalis untuk memanusiakan diriku yang aku takut akan jadi “mesin”…

No comment »

Puisi-puisi Muharywn #1

sewaktu kecil

sewaktu kecil dulu aku ingat ibu seringkali melarangku ke
luar rumah bila sedang hujan lebat. aku ingat ayah bercerita
pada kami tentang seorang raksasa jahat yang berkeliaran
mencari anak-anak kecil dan memakannya hidup-hidup

aku begitu ketakutan! karena itu aku saling berebut dengan
kakak dan adikku mencari tempat sembunyi paling aman
dalam sarung ayah

tapi itu dulu, kini kami sudah besar dan tak satupun di
antara kami yang hilang dimakan raksasa. kini kami sudah
dewasa dan telah mengerti sepenuhnya apa arti cerita ayah.
hanya saja bila sedang hujan lebat begini, terbayang lagi
olehku wajah ibu dan ayah.

saat ini mereka berdua tentu tak lagi cemas anak-anaknya
akan dimakan raksasa, tapi mereka tetap tabah
mengintai kami dengan cintanya, berdoa demi keselamatan
dan kebahagiaan kami selalu

1995

daun, 1

pada suatu sore di bulan januari, angin yang biasa bertiup
kencang itu mendadak terhenti di bawah sebuah pohon
mangga, “maafkan aku,” ucapnya kepada daun yang jatuh,
“aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin
melihatmu tersenyum setiap kali aku menari.”

di atas rumput basah, daun itu menjawab, “angin, engkau
memang memiliki perangai aneh dan daya pesona yang
selalu menyihirku mengagumimu. rasa cintaku itulah yang
menyebabkan aku gemetar dan jatuh ke tanah.”

1994

meditasi

tak perlu kau bertanya
tentang arah yang kutuju
aku berangkat di waktu subuh yang lusuh

atau mereka-reka siapa yang begitu setia
menungguku sejak lama di jalan basah

tak perlu kau bertanya:
bukankah seseorang telah bercerita

padamu tentang sajak yang paling rahasia
maka berdiamlah
kau ada di dalamnya

1995


Comments (3) »

16 Januari 5 tahun yang lalu..

Sudah Tiga puluh…
Dalam tiga puluh tahun mestinya ada banyak hal yang telah terjadi, dan itu yang selalu mengusik ketenanganku. Apa yang sudah saya lakukan dalam tiga puluh tahun ini? Apa yang sudah kulakukan setelah minus 30 tahun sebelum aku mati? Tidak ada! Apa iya aku tidak melakukan sesuatu, satu saja, sesuatu yang berarti.. berarti untuk kuman, bakteri, virus, jamur dan parasit dalam tubuhku, untuk bumi yang kupijak, untuk tanah air tempat aku dilahirkan, untuk rumah yang kutinggali, untuk udara yang kuhirup, untuk air yang kuminum, untuk guru-guruku, untuk ibu yang melahirkanku, untuk ayah yang mendidikku, untuk seseorang yang telah berkorban untukku hingga batas akhirnya, untuk saudara-saudaraku, untuk ponakan-ponakanku, untuk komunitasku, untuk hidupku, dan yang paling penting untuk matiku? Apakah sudah ada sesuatu yang kulakukan dalam tiga puluh tahun hidupku?  Aku hanya bisa mengatakan bahwa “rasa” yang diberikan-Nya padaku adalah berkah. Dengan rasa aku mencoba memaknai hidup, dengan rasa aku mencoba menuliskan apa-apa yang pernah singgah di perasaanku. Dengan rasa aku mulai melukis lagi. Semoga aku tidak sedang seperti “merasa amat!”.


Tulisan-tulisan ini, entah mau disebut apa, terserah! Aku melihatnya seperti coretan sketsa-sketasku di selembar kertas buram, kali ini tidak dengan sebatang pensil, selembar kertas dan coretan tanganku, tapi dengan huruf dan kata-kata yang sepertinya bakal berbau kesombongan egoku. Tapi aku tidak akan berhenti menulis jikalau ini hanya sebuah pembuktian untuk egoku yang tersinggung karena dalam tiga puluh tahun ini aku tidak melakukan sesuatu apa pun. Seperti potongan-potongan ruang dan waktu yang bisa kusimpan dengan rapi selama tiga puluh tahun ini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar  egoku tidak mendapat peran di dalamnya. Jika gagal membendungnya maka tulisan ini tidak akan pernah dicetak, tidak akan pernah diperbanyak. Setiap lembar, setiap bit data tentang tulisan ini akan kumusnahkan. Aku menyimpan harapan ada sesuatu yang berguna yang telah aku lakukan dengan ini. Barangkali yang paling pertama merasakan manfaatnya adalah kuman dalam tubuhku, dan warung rokok, jam tidurku berkurang dan komsumsi rokokku meningkat gila! Sebulan berikutnya giliran PLN yang akan mendapat manfaat dari lonjakan pembayaran listrik karena komputerku hanya off selama 2 jam dalam sehari semalam.

Sungguh! Jangan pernah menganggap remeh hidup di dunia! Hidup sama sekali tidak mudah, tapi tidak juga susah-susah amat, karena tidak sampai membuatku ingin membunuh diri sendiri. Capek jalani hidup itu biasa dan manusiawi kok. Minggir sebentar, tarik nafas dalam-dalam, jalan lagi. Life goes on ‘coz time wait for nobody. Dulu, membuat rencana itu salah satu hobby, sewaktu kuliah mata kuliah “Azas Perencanaan” jadi mata kuliah yang terindah di arsitektur, 60 menit sebelum dosennya datang, aku sudah ada di plazgoss ft-unhas (plaza gossip), menunggu dengan harap-harap cemas akankah dia datang hari ini, setiap kuliah berakhir mataku selalu basah oleh air mata, aku terharu, dosenku kok berani bawakan kuliah “Azas Perencanaan” tanpa perencanaan sebelumnya.. Sekarang hidupku bisa dibilang tanpa rencana, tanpa aturan. Muak aku buat perencanaan yang ternyata tidak bisa aku laksanakan. Hidup sudah kepalang basah dijalani dan harus dipertanggungjawabkan saat mati. Aku hanya mau setiap hari-hari yang kujalani berarti, aku upayakan kulalui setiap hariku dengan sebaik mungkin. Moga-moga ini akan terus berproses hingga akhirnya, dengan ijin Allah, setiap jam, setiap menit, setiap detik akan berarti tidak tersia-siakan.
Sekarang…

Wek! :D


No comment »

Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang Taufik Ismail *)

“Murid-murid, pada hari Senin ini
Marilah kita belajar tatabahasa
Dan juga sekaligus berlatih mengarang
Bukalah buku pelajaran kalian
Halaman enam puluh sembilan

“Ini ada kalimat menarik hati, berbunyi
‘Mengeritik itu boleh asal membangun’
Nah anak-anak, renungkanlah makna ungkapan itu
Kemudian buat kalimat baru dengan kata-katamu sendiri.”

Demikianlah kelas itu sepuluh menit dimasuki sunyi
Murid-murid itu termenung sendiri-sendiri
Ada yang memutar-mutar pensil dan bolpoin
Ada yang meletakkan ibu jari di dahi
Ada yang salah tingkah, duduk gelisah
Memikirkan sejumlah kata yang serasi
Menjawab pertanyaan pak guru ini

“Ayo siapa yang sudah siap?”
Maka tak ada seorang mengacungkan tangan
Kalau tidak menunduk sembunyi dari incaran guru
Murid-murid itu saling berpandangan saja

Akhirnya ada seorang yang disuruh maju ke depan
Dan dia pun memberi jawaban

“Mengeritik itu boleh, asal membangun
Membangun itu boleh, asal mengeritik
Mengeritik itu tidak boleh, asal tidak membangun
Membangun itu tidak asal, mengeritik itu boleh tidak
Membangun mengeritik itu boleh asal
Mengeritik membangun itu asal boleh
Mengeritik itu membangun
Membangun itu mengeritik
Asal boleh mengeritik, boleh itu asal
Asal boleh membangun, asal itu boleh
Asal boleh itu mengeritik boleh asal
Itu boleh asal membangun asal boleh
Boleh itu asal
Asal itu boleh
Asal asal
Itu itu
Itu.”

“Nah anak-anak, itulah karya temanmu
Sudah kalian dengar ‘kan
Apa komentar kamu tentang karyanya tadi?”

Kelas itu tiga menit dimasuki sunyi
Tak seorangpun mengangkat tangan
Kalau tidak menunduk di muka guru
Murid-murid itu Cuma berpandang-pandangan
Tapi tiba-tiba mereka bersama menyanyi:

“Mengeritik itu membangun boleh asal
Membangun itu mengeritik asal boleh
Bangun bangun membangun kritik mengeritik
Mengeritik membangun asal mengeritik

“Dang ding dung ding dang ding dung
Ding dang ding dung ding dang ding dung
Leh boleh boleh boleh boleh
Boleh boleh asal boleh”

“Anak-anak, bapak bilang tadi
Mengarang itu harus dengan kata-kata sendiri
Tapi tadi tidak ada kosa kata lain sama sekali
Kalian cuma mengulang bolak-balik yang itu-itu juga
Itu kelemahan kalian yang pertama
Dan kelemahan kalian yang kedua
Kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan
Itu karena malas baca buku apalagi karya sastra

“Wahai pak guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi.”

*) Sumber:  kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya di Makassar 2003


No comment »

Merdeka - Putu Wijaya

PADA hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan, seorang anak lahir di sebuah kota kecil. Bapaknya, seorang bekas pejuang kemerdekaan, menimang orok itu dengan bangga.

“Selamat datang ke atas dunia. Selamat datang di Indonesia, anakku,” kata lelaki yang bahagia itu. “Kau adalah harapanku, masa depanku dan pewarisku. Aku beri kau nama Merdeka dan jadilah kusuma bangsa. Tulis sejarah yang berbeda dari apa yang sudah aku alami di masa lalu. Merdekakan diri kamu dari segala macam penjajahan, jangan seperti bapakmu ini. Bebaskan negeri ini dari kemiskinan. Merdekakan rakyat dari kesengsaraan akibat kezaliman para pemimpinnya sendiri. Jadilah masa depan kami semua!”

Merdeka kecil, sudah bisa mendengar, tetapi belum bisa menyimak. la hanya membuka mulutnya dan tertawa. Bapaknya tersenyum dan berbisik. “Syukur kamu sudah mendengar apa yang aku katakan. Mudah-mudahan nanti, setelah kamu dewasa dan mengerti apa yang aku katakan, kamu masih bisa tertawa.

risetheflag.jpgDuapuluh tahun kemudian, Merdeka tumbuh dan dewasa. la menjadi seorang anak muda yang gagah. Wajahnya cakap. Otaknya encer. Barangkali juga terlalu cerdas untuk ukuran seusia dia. Merdeka sangat enerjetik dan suka membantah. Teman-temannya semua suka dan segan. Tetapi guru-gurunya sebaliknya. Mereka kesal.

“Merdeka adalah seorang anak yang hebat. Dia jenius. Dia bisa menjadi pemimpin di masa depan untuk negeri ini. Jenis orang seperti Merdeka sangat kita butuhkan di zaman millenium ini. Tapi sayang dia terlalu PD,” kata guru-gurunya.

“Andaikan saja dia lebih rendah hati sedikit, tak ayal lagi, dia bisa menjadi harapan kita semua.” lanjut gurunya yang lain. “Karena di masa globalisasi, ketika kita akan bersaing secara terbuka dengan seluruh dunia, kita memerlukan SDM yang canggih. Merdeka adalah contohnya. Tetapi sayang, dia terlalu cepat matang. Di dalam menuntut ilmu, mula-mula yang diperlukan adalah menyerap, bukan bersikap. Kalau belum apa-apa sudah bersikap, sebagamana ulah Merdeka, kita akan konyol. Kita tidak akan mungkin bisa maju. Lihat saja, di dalam ilmu pasti, pada dalil satu dan dua kita harus mau menerima saja dulu, tidak boleh membantah. Nah! nanti sesudah dalil tiga boleh pertanyakan apa saja dengan logika. Sesudah menguasai ilmu, perkara mau mendobrak atau melabrak, itu terserah. Tap tidak mungkin memberontak sebelum menguasai. Jadi Merdeka, sudah salah kaprah!”

Merdeka tidak peduli apa yang dikatakan guru-gurunya. la lapar ilmu. la buka mulutnya lebar-lebar untuk mereguk. Dia tidak peduli sama sekali apa perasaan guru-gurunya. Kalau ia tak setuju, tanpa pertimbangan lagi ia protes. Tidak pandang tempat dan waktu, la langsung dobrak.

Sebagai akibatnya, Merdeka terkenal sebagai anak kurang ajar. la ditakuti tetapi sekaligus dikucilkan. Guru-guru ngeper semua kalau ada Merdeka. Akhirnya karena kasus yang sangat sepele, terlambat bayar sekolah, Merdeka dipecat.

Ketika teman-temarmya menamatkan pelajaran dan pada mengantongi ijazah, Merdeka hanya mengantongi pengetahuan. Tetapi la tidak kecil hati. Aku hanya memerlukan pengetahuan, aku tidak memerlukan ijazah, kata Merdeka. Dengan bekal kepintarannya itu, ia terjun ke masyarakat dan mereguk hidup yang sebenarnya.

DI masyarakat, kenyataan berbeda dengan apa yang dibicarakan di dalam kelas. Walaupun semua orang setuju bahwa ilmu pengetahuan adalah utama, pada prakteknya, yang menentukan orang dapat pekerjaan adalah ijazah. Ke mana saja Merdeka pergi, dia selalu diminta untuk memperlihatkan ijazahnya sebelum mereka mau membuka pintu. Dan waktu mereka tahu Merdeka tak punya ijazah, pintu langsung ditutup.

“Boleh ngomong besar tapi mana bukti Mana dokumen rekomendasi?”

Teman-teman Merdeka yang goblok, semuanya mendapat pekerjaan dan jabatan. Bahkan yang dulu lulus karena membeli ijazah dan nodong kepala sekolah, mendapat posisi penting. Merdeka melihat kejanggalan itu dengan jijik. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Kontan la mencak-mencak, berkoar menggelar aksi protes. Tetapi kepada siapa. Ternyata semua orang hanya mengaku menyuarakan keadilan dan kebenaran. Bila waktunya tiba untuk menunjukkan aksi, semuanya punya alasan untuk menghindar. Bahkan surat-surat kabar yang paling vokal, tak berani memuat gugatannya, ketika itu menyentuh orang yang berkuasa hanya yang mampu menyumpalnya dengan duit.

“Kalian semua hanya ngomong-ngomong muluk, prakteknya semua dagang. Segala kegombalan yang kalian maki-maki, nyatanya kalian kaji sendiri!” teriak Merdeka.
Merdeka mulai marah dan benci kepada kehidupan, karena hidup berpihak kepada ketidakadilan. la menjadi sinis dan apatis. Dunia yang dibayangkannya sebagai lautan harapan, sekarang sudah menjadi sarang kebobrokan. Masa depan hanya enak dalam obrolan, pada kenyataannya semua kentut.

Tetapi untunglah tidak semua yang hitam itu hitam. Rupanya di dalam belantara kebrengsekan itu, masih ada orang-orang yang idealis. Setelah kepalanya bonyok ditonjok oleh rasa kesal, Merdeka bertemu dengan seseorang yang berpihak kepada kebenaran.

“Memang ijazah itu perlu, karena itulah satu-satunya yang bisa jadi pegangan kita untuk memilih orang terbaik. Tetapi diploma sekarang sudah gampang saja dipalsu,” kata orang idealis itu. “Jadi Bung Merdeka, keunggulan yang digaransi oleh sebuah ijazah pun hanya keunggulan macan kandang, sedangkan kita menggarap hidup keras di lapangan yang memerlukan siasat. Itulah yang selama ini lupa diajarkan di sekolah mana pun. Walhasil, Bung Merdeka, jangan merasa kesepian. Aku tidak buta. Aku melihat secara transparan potensimu. Persetan dengan ijazah, bukan orang-orang yang bertopeng ijazah itu yang akan memperbaiki negerl ini, tetapi SDM jenius seperti Ente!”

Merdeka lantas dirangkulnya. Diberikan tanggungjawab untuk memimpin sebuah proyek raksasa yang menentukan nasib berjuta-juta orang. Merdeka disodori jabatan, kekuasaan dan harapan.

Merdeka kontan sembuh. Darah membara lagi di mukanya. la terima jabat tangan itu dan siap berpacu. Tetapi apa lacur, pada hari pengangkatannya sebagai  panglima proyek, orang yang merangkulnya muncul membawa segepok uang. Dengan muka manis tetapi malu-malu, ia menarik Merdeka ke sudut.

“Merdeka” katanya dengan suara orang yang bersalah, “kita semua tahu, setiap orang mencari pekerjaan, untuk mendapatkan uang. Betul tidak, Bung?”

Merdeka mengangguk. Betul.

“Nah, berarti Bung, mereka yang lain itu juga bekerja untuk mendapatkan uang. Kalau uang yang Bung cari itu sudah Bung dapatkan, buat apa lagi pekerjaan. Ya kan? jadi, Iihat ini, aku bawakan Bung duit sekarung. Terima rezeki nomplok ini. Dan serahkan jabatan yang sudah ada di tanganmu ini kembali kepadaku. Karena ada seorang anak pejabat yang memerlukan itu. la punya duit. Banyak sekali. Tetapi la tidak punya kehormatan karena tidak ada jabatan. Ia membeli jabatan kamu. Jadi klop! Bung untung dan aku juga untung!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, jabatan itu diambilnya kembali sambil menaruh segepok uang di tangan Merdeka. Sebelum Merdeka bisa mencegah, idealis itu sudah kabur. Merdeka jadi histeris. Uang itu dicampakkannya sambil mengumpat.

“Bangsat! Aku memang perlu uang. Aku tahu untuk hidup orang membutuhkan uang. Tapi aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup. Dan aku hidup untuk menjalankan amanat bapakku untuk membangun bangsa ini. Untuk menjadi manusia yang berarti dan berbuat kebajikan kepada negeri dan rakyatku.”‘

Suara Merdeka lantang dan jelas. Tapi idealis itu sudah ngibrit entah ke mana. Tinggal Merdeka yang sekarang benar-benar merasa nasibnya sangat sialan. la berteriak-teriak karena tak mampu lagi menahan emosinya- Orang-orang bilang, anak muda itu sudah mulai terganggu.

“Kamu kelihatannya frustasi Merdeka,” kata seorang sahabat. “Di zaman edan ini, siapa yang tidak frustasi. Kalau kamu terus ikutkan perasaanmu, kamu akan gim. Kamu tidak akan menjadi istimewa, hanya karena kamu gila. Karena semua orang memang sudah gelo sekarang. Jadi lebih baik kamu waras saja. Lawan semua itul”

“Lawan? Lawan dengan apa? Musuhku tidak kelihatan. Kalau ada, aku hajar sekarang jugal”

“Makanya jangan lawan secara konfrontatif, lawan dengan cara mencintainya. Terima! Pasrah, Merdeka!”

“Tidak! Aku tidak mau jadi orang Jawa yang nrimo. Itu sudah kuno! Aku manusia baru. Aku bukan proyek feodalisme yang mau saja menjadi budak segala ketidakadilan ini. Aku mau berontak!”

“Tidak mungkin! Orang gila tidak mungkin berontak. Paling banter kamu akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kalau mau berontak jangan pakai otot, pakai mulut dan diplomasi. Belajar dari para politisi. Untuk menguasai diplomasi pikiran kamu harus tenang. Dan untuk tenang jiwa kamu harus stabil. Untuk membuat emosimu stabil, kamu harus punya seorang pendamping. Dengan kata lain, Merdeka, satu-satunya jalan yang bisa kamu pilih sekarang adalah kawin. Kawinlah Merdeka, sebelum terlambat!”
Merdeka terkejut.

“Apa kawin?”

“Ya! Menikah! Apa kamu tidak sadar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri? Setiap manusia wajib punya teman hidup. Baik untuk diajak bersetubuh maupun untuk berkomplot. Kalau kamu tetap sendiri, kamu akan menjadi manusia separuh yang tidak lengkap. Emosimu akan labil. Dan staminamu hanya sebatas ayam sayur. Jati dirimu akan kropos. Pasti kamu akan cepat tamat. Makanya, cepat-cepat saja, carilah seorang teman hidup. Mesti berkongsi, melawan semua kebejatan dunia ini. Kalau tidak kamu akan terlambat. Coba umurmu sudah berapa sekarang? Jangan terlalu sibuk berjuang, nanti kamu keburu tua bangka dan tidak jadi apa-apa! Apa kamu mau kedaluwarsa?”
Merdeka terkejut. Buru-buru la berdiri di depan kaca. Lalu dilihatnya sebilah rambut putih berkibar di bulu hidungnya. Garis-garis tua sudah merayap di wajahnya. Ia tidak semuda yang ia kira lagi. Merdeka terpaksa menerima, ia hampir basi.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi Merdeka mengajak pacarnya menikah. Pacar Merdeka menyambut lamaran itu dengan pekik gembira. Setelah bertahun-tahun dan hampir kehilangan kesabaran, akhirnya Merdeka berani mengambil keputusan. Siap untuk mengambil resiko melepaskan kebebasannya, memasuki penjara suami-istri.
Tetapi celaka tiga belas. Meskipun dukungan pacarnya seratus persen, calon mertua Merdeka bertingkah. Mereka yang semula menerima Merdeka, tiba-tiba menolak. Alasannya bagi Merdeka sama sekali tak masuk akal.

“Kamu mau menikah dengan putri tunggalku, Merdeka?” tanya calon mertuanya. “Kenapa? Karena kalian saling mencmita?”

“Betul, Pak, kami saling mencintai.”
Calon mertuanya tersenyum pahit.

“Merdeka, jangan main-main. Apa kamu tidak tahu, cinta saja tidak cukup untuk hidup? Tak sampai tiga bulan, kamu akan bosan mengisap cinta, lalu kesulitan hidup akan mulai merongrong. Kamu memerlukan lebih dari cinta. Kamu perlu duit dan jabatan. Itulah sumber kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak. Kamu tidak bisa menikah dengan putriku, kalau kamu tidak bisa memberikan janji yang baik. Hendak kamu bawa ke mana putri tunggalku yang cantik jelita ini. Buktikan dulu bahwa aku pantas menyerahkan anakku kepadamu, baru ngomong. Jangan suruh aku bersabar dan menunggu. Kalau kamu tidak bisa memberikan jaminan bahwa kamu akan bisa membahagiakan dia jasmani dan rohani, relakan putriku dengan orang lain. Atau jangan-jangan kamu sebenarnya tertarik bukan kepada putriku, tetapi kepada warisannya. Kepada kekayaan dan jabatanku. Kalau begitu, maaf anak muda, sekarang juga minggat, tinggalkan rumah ini dan jangan berani kembali, karena aku akan tembak kepalamu!”

Merdeka pingsan. Belum pernah ia menerima kenyataan yang begitu parah.

“Aku manusia sial. Aku ditakdirkan menjadi orang gagal,” teriak Merdeka putus asa. Pikirannya benar-benar mulai terganggu. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan, apa lagi yang harus dilakukan.

Akhirnya dalam keadaan panik dan terjepit, Merdeka datang kepada seorang dukun. Ya dukun. Kenapa tidak. Meskipun ini zaman millenium, banyak orang masih pergi ke dukun. Para pejabat juga ke dukun. Olahragawan ke dukun. Para politikus ke dukun. Presiden juga ada yang punya dukun. Bahkan beberapa seniman malahan jadi dukun itu sendiri.

Dukun memegang tangan Merdeka dan membaca nasibnya.

“Sebenarnya menurut skenario, kamu ini orang jenius, seperti Pak Habibie, Merdeka” kata dukun. “Pada dasarnya kamu adalah manusia hebat. Kamu bisa menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan. Di dalam tubuhmu mengalir darah kesatria yang berwarna putih. Tetapi sayang pada prakteknya, kamu tidak jadi apa-apa, karena sajenmu kurang!”

“Sajen? Sajen apa?”

“Kamu tahu. Segala sesuatu itu memerlukan sajen. Otak saja tidak cukup, kepintaran saja tidak menjamin Bahkan kelihaian juga bukan kartu kunci untuk membuat kamu sukses. Kamu memerlukan keikhlasan. Kamu harus ikhlas. Ikhlas berarti kamu tulus. Tulus berarti kamu harus rela. Rela untuk berkorban. Kamu harus mengorbankan apa yang diperlukan. Kamu tidak akan bisa sukses kalau kamu tidak berani berkorban dengan ikhlas, Merdeka!”

Merdeka terkejut.
“Berkorban? Berkorban apa? Ini sudah zaman merdeka, kita tidak memerlukan pengorbanan jiwa lagi seperti di masa revolusi seperti Bapakku. Kita memerlukan pekerja-pekerja lapangan yang canggih. Dan aku canggih. Aku tidak mau mengorbankan jiwaku. Aku mau berbakti kepada bangsa, negara dan rakyatku. Kamu jangan macam-macam, Duk!”

“Tenang, Merdeka, pengorbanan ini bukan pengorbanan fisik. Ini adalah pengorbanan spiritual. Dengan berkorban, tidak berarti kamu akan kehilangan apa-apa. Kamu hanya harus mengikhlaskan diri kehilangan namamu. Tukar namamu sekarang. Ganti nama kamu. Jangan lagi Merdeka. Nama itu terlalu besar, terlalu berat untuk kamu pikul sendirian. Tidak mungkin. Kalau kamu memikulnya kamu akan terlalu repot sehingga kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi lepaskan saja. Ganti dengan yang lain. Oper Merdeka itu dengan sesuatu yang lebih ringan. Apa artinya nama. Ya tidak?”
Merdeka tidak setuju.

“Mengganti nama? Tidak. Tidak mungkin,” katanya. “Nama ini pemberian bapakku. Dia seorang pejuang yang hebat. Dia orang yang jujur. Dia sudah berjasa kepada negeri ini, tetapi dia tidak punya uang. Dia tidak punya pabrik. Dia tidak punya kekuasaan. Dia hanya punya cita-cita dan konsep. Dan semua itu dia wariskan kepadaku. Aku tidak bisa mengganti apa yang diwariskan oleh orang tuaku begitu saja. Karena itu adalah amanat. Aku tidak mau menjadi manusia durhaka!”

Dukun menggeleng.
“Memang susah bicara dengan orang pinter tetapi picik seperti kamu, Merdeka!” katanya sambil mengusir Merdeka supaya pergi karena pasien-pasiennya yang lain berjubel.

Merdeka pulang sambil mencak-mencak uring-uringan. Berhari-hari ia bergulat dengan usul dukun itu. Pada hari yang ketujuh puluh, ia kalah. Lalu sambil mengenakan baju batik, ia berangkat ke rumah orang tuanya.

“Romo,” kata Merdeka sambil mencium tangan bapaknya yang sudah tua. “Aku datang untuk melaporkan apa yang sudah terjadi di lapangan. Terus-terang aku sudah gagal. Tetapi bukan berarti aku menyerah. Aku terus berusaha. Aku datang bukan untuk minta bantuan. Aku datang hanya untuk meminta restu. Karena aku bebas dari Merdeka “
Orang tua Merdeka kontan mengernyitkan alisnya.

“Apa?”

“Aku ingin mengganti nama yang sudah Bapak berikan.”

“Mengganti nama? Apa maksudmu Merdeka?”

“Dukun bilang, nasibku jadi sial, karena namaku terlalu berat. Kalau aku ganti nama itu dengan nama lain, dalam sekejap aku akan menjadi orang baru yang sukses. Jadi apa salahnya kalau namaku diganti. Aku juga tidak akan memilih nama sendiri. Aku serahkan kepada Romo untuk memberiku petunjuk.”

Mata orang tua itu sekarang terbuka.
“Kamu mau berhenti menjadi Merdeka, Merdeka?”

“Ya”

“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Ya! Kenapa!” bentak orang tuanya.

Merdeka tertegun. Waktu kecil la tidak peduli kalau dibentak. Tetapi sekarang ia sudah dewasa, sudah jauh lebih pintar dari bapaknya, di samping itu hidupnya sudah pahit, la tidak mau lagi dibentak.

“Karena aku tidak mau terus-menerus sial!” teriak Merdeka.

Tetapi orang tuanya semakin keras lagi mendamprat.
“Gelo! Tidak!”

Merdeka takjub.
“Kenapa tidak?”

“Pokoknya tidak!”
“Ya!”
“Tidak!”
“Yaaaaaal”
“Tidakkkkkk!”

“Brengsek!” teriak Merdeka kelepasan.
“Bapak kan tidak tahu apa yang sudah terjadi di lapangan. Aku yang berkutat di sana. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku yang mengalami apa yang terjadi. Sekolahku jebol, gara-gara aku Merdeka. jabatan-jabatan copot dan luput dari tanganku gara-gara aku Merdeka. Bahkan pacarku direbut orang lain gara-gara aku Merdeka. Dukun juga bilang aku goblok, karena aku Merdeka. Aku tidak mau jadi Merdeka lagi. Sudah cukup! Aku tidak mau diperintah terus. Aku mau bebas dari Merdeka! Aku mau sukses, aku mau bahagia, aku mau berhasil, aku tidak mau lagi jadi Merdeka!”

“Goblok!” teriak Bapak Merdeka sambil menampar anaknya.

Merdeka terkesima. la melotot memandangi Bapaknya. la belum pernah digebrak seperti itu. Masak putra harapan bangsa disebut goblok dan ditampar.

Sebaliknya bapak Merdeka juga tidak takut. la mendekat dan menghembuskan nafas kesalnya. Lalu mencekek leher Merdeka.

“Merdeka!” bisik orang tua itu dengan nafas menggebu-gebu, “Merdeka, apa kamu kira Merdeka itu nikmat? Apa kamu kira merdeka itu bebas dari segala kesialan. Apa kamu kira merdeka itu berarti kamu akan mendadak jadi kaya dan bahagia. Kamu sudah keblinger! Merdeka itu adalah beban. Selangit beban di atas pundakmu sendirian. Merdeka itu adalah penderitaan. Merdeka adalah sejuta kesengsaraan yang tak putus-putusnya. Merdeka berarti kamu jalan sendirian, kamu tidak punya tuan dan majikan yang akan menolongmu kalau celaka. Merdeka itu berarti kamu harus menghadapi keperihan, kesengsaraan, nasib busuk itu sendiri. Merdeka itu sakit. Sakit yang maha besar. Tapi kamu harus bangga karena kamu yang terpilih untuk memikulnya. Berarti kamu dianggap mampu. Kamu masih dipercaya. Kalau kamu masih dipercaya, berarti kamu masih diperhitungkan. Kalau kamu masih diberikan kesengsaraan, berarti kamu masih hidup. Kamu belum jadi mayat, belum jadi robot, belum mati seperti yang lain, berarti kamu masih merdeka. Goblok kalau kamu mau berhenti Merdeka. Mengerti? Mengerti!”

Merdeka bingung
“Mengerti!”
“Tidak!”

“Ya Tuhan, aku juga tidak mengerti” teriak orang tua itu lebih dahsyat lagi. Lalu memegang dadanya. Lehernya seperti tercekek. Kemudian mendadak tumbang dan mati di tempat.

Merdeka kebingungan. Ketika sadar, dengan panik la memeluk tubuh bapaknya. Tetapi tiba-tiba saja tangan lelaki tua itu kembali bergerak dan mencekek Merdeka. Sambil menangis tersedu-sedu, ia berbisik.

“Anakku, tetaplah Merdeka. Jangan pernah berhenti Merdeka. Berikan aku janji. Sekali Merdeka kamu harus tetap Merdeka, jangan pernah berhenti Merdeka, anakku. Jangan bablas. Tetaplah Merdekal”
Tangan orang tua itu gemetar. Cekekannya semakin lemah, semakin lemah, lalu perlahan-lahan terlepas. Tubuhnya terhempas lagi ke bumi, melanjutkan mati

Seperti yang dibacakan pada kegiatan sastrawan bicara siswa bertanya tahun 2003 di Makassar.


Comments (2) »

Bhinneka Tunggal Ika

Tidak di kabupaten terpencil Parigi Moutong, atau kabupaten Donggala yang dulu lebih terkenal dari kota Palu sebelum Palu jadi ibukota Propinsi Sulawesi Tengah, di Makassar dan di beberapa kota kecil di NTT, tutur Muharywn (yang baru pulang dari pulau terpencil di Kupang) memang benar kita ini bangsa yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bau, warna dan bahasa tapi tetap memiliki kesamaan dan salah satu kesamaan yang “tunggal ika” adalah spanduk pilkada. Format dan bentuknya serupa. Foto sepasang calon atau sendirian lengkap dengan slogan dan janji.

Meminjam istilah Taufiq Ismail, mungkin ini ya euforia demokrasi itu? Kalau kata aku sih, kita sudah belajar tanpa sadar (atau sadar) pada Amerika Serikat yang paling jago “mengemas dan mencitrakan” apapun menjadi “dagangan” atau sesuatu yang bisa dijual. Blogging ini salah satu contoh keberhasilan mengemas hobby menulis menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bisa menghasilkan uang. Kemampuan melakukan dan memanipulasi “image” atau “pencitraan” itu lumrah dalam dunia dagang tapi dalam dunia politik etiskah itu? Jangan-jangan benar adanya, politikus kini hanyalah pedagang sapi berdasi. Sinis ya? Tapi fakta, sebagian besar perilaku politikus mau orangnya, parpolnya atau penguasanya di Indonesia itu soal bargaining, soal tawar menawar, aku punya ini untukmu, kamu punya apa buatku?

Apa target mereka memasang baliho raksasa? Apa yang dicari dengan memasangnya hingga ke sudut-sudut kampung? Marketing. Iya itu taktik marketing namanya meningkatkan pengetahuan tentang produk yang akan dilempar ke konsumen sekaligus membuat “brand image” yang diharapkan kokoh dan tertanam ke dalam benak konsumen.


Parah. Ketokohan calon pemimpin Indonesia kini dibangun lewat marketing bukan karena memang dia seorang tokoh, seorang pemimpin. 

Pernah baca kisah almarhum Daud Bereuh dari Aceh? Berikut kutipan yang pernah aku baca dari sisipan majalah Tempo sebelum SIUPP nya di cabut:

Begitu besarnya kharisma beliau sampai dianggap perlu dijauhkan dari rakyat Aceh dengan dipindah rumahkan paksa ke Jakarta. Jalan trans Sumatera yang masuk ke Aceh adalah buah tangannya. Buah tangan di sini benar-benar buah tangan, bukan dengan bulldozer atau alat beratnya. Ketika beliau tergerak hatinya untuk membuka hutan agar jalan trans sumatera yang kehabisan dana bisa masuk hingga ke pelosok Aceh, serentak rakyat aceh keluar rumah membelah hutan menimbun rawa. Seorang penduduk bahkan mengiba-iba pada beliau supaya tidak mengotori tangannya dengan bekerja kasar. Apa kata beliau? “Tak bisa aku menganjurkan orang untuk melakukan hal yang aku sendiri tak lakukan. Teruslah bekerja! Sabang masih jauh!”

Nah. Para pemimpin hasil pencitraan berakarkah anda di hati para pemilih anda?

Comments (3) »

Blogger Menjadi Karir

Bila melihat fakta jumlah blog baru yang muncul dan meningkat setiap hari, blogging adalah sesuatu yang sangat populer saat ini. Tetapi blogging kini bukan saja berfungsi sebagai hobby ada banyak orang yang mendapatkan penghasilan hanya dengan menulis blog. Hal yang paling mengagumkan dari itu semua, bahkan ada orang yang menjadikan blogging sebagai sebuah karier.

Ada banyak cara untuk mendapatkan uang dengan blogging, yang paling populer tetapi ironisnya paling sulit untuk mencari uang dari adalah Google Adsense dari segi jumlah yang dihasilkan dari pay-per-click. Anda membutuhkan traffic yang amat besar untuk mendapatkan uang lewat adsense dengan asumsi dari jutaan pengunjung blog anda ada yang berbaik hati meng-klik link iklan anda. Seorang Blogger Full time biasanya mempunyai beberapa blog untuk meningkatkan pemasukan mereka dengan posting blog dan sekaligus untuk meningkatkan traffic blog mereka.

Untuk bisa mempunyai satu blog bagus dan mempertahankan trafficnya dengan cara menerapkan optimisasi ‘’search engine” atau teknik SEO. Teknik Lain adalah web 2.0 dengan menggunakan RSS, XML dan aplikasi lain yang meningkatkan kesempatan untuk blog anda untuk dikunjungi. Dan tidak kala penting, setelah blog anda dikunjungi, konten atau isi blog anda memang menarik untuk dikunjungi kembali.

Berkarir Sebagai Blooger


Infogue.com

Comments (2) »

I Had Three Friends..

… this story touched my heart… hope it touches yours too……

I had three friends. Eric, Cathlyn, Carol.

Eric was chased by all the girls in our high school. Cathlyn was one of those popular girls. Cheerleader, sexy, and stylish. Carol was just one of those plain and average girls.

Cathlyn and Carol were both totally crazy and wacko over Eric.

Cathlyn didn’t have to do anything to attract Eric. For she was already attractive enough. Carol on the other hand, showered Eric with love and care.

Carol wasn’t ugly at all. In fact, she looked sweet and pleasant. But she wasn’t a cheerleader, she didn’t wear spaghetti-straps or tubes.

So like everyone expected, Eric chose Cathlyn. For Carol was just one ordinary and plain girl while Cathlyn was labelled as the cool and attractive type.

Eric always insulted Carol, telling her what a ‘Plain Jane’ she was and how dumb she looked. Which obviously made Carol feel so hurt and useless.

That’s life!

Carol never gave up though. She wanted to prove something to Eric. She wanted to prove that looks aren’t everything. She studied hard, really hard. She became the top girl, and all the guys who once ignored her, chased her.

But she never forgot Eric. Everyday, she put a red rose in Eric’s locker. Always with the same words, ‘I care for you, and I always will.’

Because she knew that Eric was facing a hard time. Eric began to realise how dumb he had been. His beloved girlfriend, Cathlyn was flirting with other guys. He regretted for choosing the wrong girl.

Cathlyn broke up with Eric later. For she had found a wealthier guy. Eric felt so cheated, stupid and dumb. He went to look for Carol, he knelt on his knees, and said “Carol, please forgive me. Do you want to be my girlfriend?”

Carol rejected him, much to everyone’s surprise. She only uttered these words, “You’ve suffered a great loss, so I don’t want you to face another one”.

Eric felt disappointed. He didn’t understand a word that she said to him.

But they became good friends. Did everything together. Eric began to change into someone better. Because Carol showered him with the love he never experienced before.

His ex-girlfriends had never treated him that way. They just accepted him for his looks. But Carol accepted him for himself. She changed him.

Carol continued putting a red rose into his locker everyday with the same words. She never forgot.

One day, Carol didn’t turn up in school. She didn’t come for a week. At first, Eric thought that she was on a vacation with her family. Because she told him that she would be going to Hawaii with them.

But one day, he received a call from the General Hospital saying that Carol was about to die. She had been suffering from cancer. But Carol forbade them from telling him because she didn’t want Eric to worry about her.

But now that she was about to die, she wanted to see Eric for the last time.

Eric rushed to the hospital. When he saw how weak Carol was. Tears began rushing down his cheeks. He whispered, “Why didn’t you tell me earlier? Why did you hide this from me?”

She looked at him and smiled weakly at him, “When I said that I didn’t want you to suffer from facing another loss, I meant this. I didn’t want to tell you because I didn’t want you to worry. I wanted to spend my last days with you cheerfully.”

Eric looked at her, “You can’t leave me!” he said, “What will I be without you?”

“You’ll be who you are now. I will always be there by your side. Never forget that. Cherish those times. Live life happily. And one more thing.”

“Yes?”

“I love you.”

And she died.

Eric screamed.

He still couldn’t accept Carol’s death.

He had only spent a month with Carol.

A month.

But Carol changed his life in a way. A way that no one could ever explain. He regretted. But he knew that Carol would always be keeping an eye on him from Heaven.

Sometimes, we just don’t appreciate those people who really care for us. Until they leave us, until we lose them. Then we regret.

Outer beauty doesn’t matter; it’s the inner one that counts. It’s better to tell someone how much you love them. Rather than to not tell them and lose them without telling them. You’ll regret.

Love is when we fight till the very last minute just to show and tell someone how much we love them.


Comments (2) »

Hero Pack dari Microsoft

P7260188.jpgKemarin pas baru nyampe Makassar selain perintah ponakanku si Ariel, aku juga dapat kiriman dari Microsoft {Hero Pack Inside} katanya. Udah lupa ngisi form apa ya sampai aku bisa dapet ini dari Microsoft?

Isinya OS Windows 2008 Server versi 32bit dan 64bit (2 DVD’s) 120 days evaluation dengan Visual Studio 2008 90 days evaluation.

Yang menarik ada kalimat di bagian belakang amplop:

{Christ Travers: Chelan, Washington}
Founder and President, Metatron Technology Consulting. Tends to his 30+ heirloom rose garden in his off time. Skiis religiously from November to April. Authors technical papers on Open Sources interoperability. Long-time member and advocate of the IEEE Computer Society. Now that’s a hero.
{Open Source} Heroes Happen Here.
Dari bulan November sampai April setiap tahun hanya bermain ski? Dan masih punya waktu mengurus kebun mawarnya saat libur? Waaah.. Dia kerja hanya 6 bulan setahun! Dan masih bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat buat komunitas Open Source? Wah! Interesting life!

P7270198.JPGPaket ini sepertinya aku terima setelah sign-in di salah satu komunitas Open Source yang di sponsori oleh Microsoft, maaf aku lupa dimana URL nya, nanti aku posting kalo udah ingat. Positive thinking aja, ini bukan trik Microsoft untuk mengambil hati para GNU’ers karena Microsoft (akhirnya) diterima bergabung di komunitas Open Source dengan membagi beberapa source code dot NET dan beberapa lainnya. Barangkali memang Microsoft tidak seburuk yang didengungkan di internet, pastilah masih ada sisi baiknya, seperti yang baru aku dapat :D

No comment »