Archive for August, 2008

Alhamdulillah, Ramadhan Sudah Dekat Sekali..

Semoga dicukupkan umur dan iman untuk menjalaninya hingga selesai. Amin.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap kali menjelang Ramadhan rinduku makin tebal ingin berkumpul dengan orangtua, saudara, ponakan-ponakan di Makassar dan suara merdu imam besar Mesjid Raya Makassar memimpin shalat malam setiap 10 hari akhir Ramadhan diiringi isak tangis para jama’ah…

Sehabis Ramadhan tahun lalu aku sudah merencanakan tahun 2008 ini mulai dari awal hingga seminggu setelah Ramadhan aku ada di Makassar, dua bulan lalu bahkan aku sudah mulai prepare semuanya hingga kemungkinan untuk meninggalkan Palu sama sekali dan kembali ke Makassar. Keadaan juga seolah berpihak. Lingkungan kantor dengan budaya yang bertentangan dengan keyakinanku dan menurut hitunganku sudah lebih sedikit manfaat dibanding mudharat bila aku tetap di Palu. Syukurlah setelah memberikan sedikit “kejutan-kejutan” atmosfir kantor kini berangsur lebih baik.

Tetap Tuhan penentu. Sepulang dari Makassar bulan lalu todo-list sudah kususun untuk menuntaskan bengkalai pekerjaanku di Palu, tersusun rapi dan akan bisa aku selesaikan dalam waktu 2 minggu saja. Palu krisis listrik semua schedule dan time-sheet dibuatnya berantakan dan aku tidak bisa tinggalkan dia yang baru mulai bergabung di kantor kami. Semangatnya yang meluap-luap dan matanya yang berbinar-binar tiap kali bertanya tentang IT (dan honornya berapa? huahaha…) membuatku berpikir apa dia yang kelak jadi penerusku di sini? Septi masih begitu baru dan tidak melewati pengalaman muntah-muntah dan meriang saat di push keadaan untuk naik level pengetahuan dalam waktu singkat yang dialami oleh “horror team” ketika membangun infrastruktur tahap I kota Palu. Tau keyakinan dari mana aku yakin aja, dia bisa berbuat lebih banyak lagi untuk kota dan lembaga ini. Amin.

Semoga di 10 akhir Ramadhan bila tidak juga bisa ke Makassar aku bisa temukan tempat di Palu seperti di Mesjid Raya Makassar.

Comments (1) »

Cinta Kepada Tuhan

pada sekuntum mawar
hatiku bergetar

pada tatap matamu
jantungku menunda degupnya

pada tulus senyummu
gerimis turun di gersang ladangku

pada Allah
masih pantaskah aku meminta tambah?

Sajak Alm. Husni Djamaluddin
Sebenarnya judulnya ingin aku balik “Tuhan Cinta Kepada Kita” tapi takut tulisanku ngalir tidak terkendali menuliskan hal-hal rahasia yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu aku ini lagi nulis apa? Semoga tulisan di bawah ini dari Puji Wanto sudah bisa memberikan gambaran yang tepat tentang cinta kepada Tuhan.

Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) pernah bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: “Apakah engkau mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,”Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”.

Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq), dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (dis-interested). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna. Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: “Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.”

Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. “(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. 5: 54).

Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).

Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf– adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.

Bayazid Bustami sering mengatakan: “Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit.”

Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa-apa yang diberikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.

Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung.. “Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka “‘(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari “alastu” sebagai kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru’yah (melihat Allah) merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan “bodoh” dalam terminologi sufi dan mukmin pecinta.

“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman” begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa.

Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin”. Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya.

Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.

Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.

Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: “Apa yang sedang anda kerjakan?” Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: “Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia”.

Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: “Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia”. Malaikat itu berkata: “Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia”.

Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: “Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur”.

Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya.

Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah). Jawab beliau: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri.”

Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.


ketika engkau bertanya
tentang ketabahan—
tentu saja engkau tak akan mengenalinya
sebelum engkau dengan setia
meresapi detak-detik waktu
yang memanjang dalam sakitmu

tentang keharuan—
tentu saja engkau tak akan mencapainya
sebelum engkau memahami geriap angin
yang meletakkan embun
di tengah rimbun alismu

tentang kesunyian—
tentu saja engkau tak akan merasakannya
sebelum engkau dengan ikhlas
melepas senja, melepas semesta
dari jarak pandangmu

Sajak Alm. Husni Djamaluddin

Comments (2) »

I Wish…

Lagu punya Lighthouse Family aku denger dari hp waktu lagi duduk-duduk liat sunset tadi.. Pengen menuliskan semua apa yang aku rasa sekarang, tapi takutnya keburu mati lampu lagi. Lagu ini udah menghimpun apa yang aku rasa sore tadi..


I wish i knew how it would feel to be free
I wish i could break all the chains holding me
I wish i could say all the things that i should say
say ‘em loud say ‘em clear
for the whole wide world to hear

I wish i could share
all the love thats in my heart
Remove all the bars that keep us apart
And i wish you could know how it feels to be me
Then you’d see and agree that every man should be free

I wish i could be like a bird in the sky
How sweet it would be if i found i could fly
Well i’d soar to the sun and look down at the sea
and i sing cos i know how it feels to be free

I wish i knew how it would feel to be free
I wish i could break all the chains holding me
And i wish i could say all the things that i wanna say

Say ‘em loud say ‘em clear
For the whole wide world to hear
Say ‘em loud say ‘em clear
For the whole wide world to hear
Say ‘em loud say ‘em clear
For the whole wide world to hear

One love one blood
One life you’ve got to do what you should
One life with each other

One life but we’re not the same
We got to carry each other
carry each other

Comments (2) »

Siapa Pula Yang Bisa Nahan Rindu?

Coba deh liat slide show pic si Ariel di bawah..

Comments (2) »

Hari Besar

Hari ini 23 Agustus 2008 nambah satu lagi ponakan dari uni Nina, si Ariel sekarang sudah punya saingan ngerebut tahta jadi raja kecil di Makassar. (punyaku sendiri kapan ya? ;) yang jelas ikhtiarku tahun ini juga –ikhtiar nikah dulu anak sesudahnya tentu, mo pake jalur normal aja deh, nikah dulu baru anak, amin..– Skala prioritas numero uno! Yang lain nomer dua. Kerjaan, pemberdayaan diri sendiri dan lingkunganku, semua nomer dua. Kenapa juga baru sekarang jadi nomer dua? :D

Beneran mah kata si Steve Jobs, waktu kita terbatas jangan habiskan hidupmu untuk orang lain. Masalahnya kalo kita cinta ama semua mahluk Tuhan? Nah lo! Emang punya gitu? Cinta tak berbatas seluas semesta?  Gak lah, aku masih cetek banget soal being “rahmatan lil ‘alamin”..

Mungkin Aku Terlalu Pemilih
Padahal kalo diikutkan kompetisi aku juga belum tentu kepilih.. Hehehe.. Nggak, pemilih mungkin nggak. Berhati-hati iya karena pernah trauma. Soal trauma nggak usah dibahas di sini ya? Yang jelas bukan karena udah pernah gagal.

Atau Too Much Choice Kah?
Nggak. Kok masih soal pemilih? Memilih dan dipilih? Apaan, pemilu kali? Emang gue sapa gitu mo memposisikan diri sebagai pemilih. :D

SO WHAT!!!
Iya ya.. Jadi kenapa belum juga? Pertanyaan susah.. Begini, setelah masa-masa usia belasan ampe 20an terlampaui, romantika menikah karena cinta sudah gada dalam pikiranku, sekarang yang ada mencintai yang kunikahi. Dan motivasi terbesarku cuma satu, ibadah. Beberapa temanku di Makassar kalo membaca posting ini pasti protes keras: “Lalu kenapa kandidat kami tidak pernah kau follow up?!!” Kata siapa nggak aku follow-up? Aku “do-follow” kok… Buktinya dari pertama dikenalin, nama mereka satu-persatu (nggak sepanjang daftar nama RT/RW kok, di bawah 5 nama aja) aku sebutin hampir di tiap sujud-sujud panjangku. Sepertinya, barangkali mereka yang belum nyebut namaku dalam do’anya.. :D

Aku mengalir aja. Tahun ini akhir siklus 2 tahunanku. Sudah 10 tahun terakhir setiap 2 tahun aku hijrah. Kadang karena memang aku rencanakan, kadang karena memang takdir yang inginkan aku untuk pindah. Aku nerimo aja ngikutin jalan yang bermuara ke telapak tangan, soalnya udah pasti Pemilik Takdir lebih tau. Alhamdulillah, so far udah lebih banyak ninggalin yang baik-baik di tempat yg pernah aku singgahi daripada ninggalin keburukan. At least aku udah nyimpen tabungan kebaikan, kalo saja bidadariku ternyata adanya di dunia akhir nanti.

Jadi pengen nyebut nama lagi dalam shalatku, kali ini satu nama saja.

Comments (2) »

PADAM PAM PADADAM PAM PADADA PAM

Belakangan postinganku gaya menulisnya serius semua, serasa baca buku terbitan Balai Pustaka aja. Masalahnya kalo mo nulis dengan bahasaku sehari-hari yang bercampur aduk makassar, sunda, jakarta, palu dan bahasa hewan –bisa-bisa yang ngerti cuma aku– lalu untuk apa dank? (nah lo! dank: imbuhan khas yg biasa dipake di Palu, Manado, dan Gorontalo) –yang dalam kurung lebih parah lagi, JS. Badudu bangeeet! :D

Alhamdulillah, walaupun listrik ama air di Palu selalu “padam dam padadam pam” (baca dengan gayanya peterpan nyanyiin lagu Aku dan Bintang :) Ada bagian yg aku ilangin.. Ntar kelelep beneran! :D


Mohon maaf buat temen-temen blogger, aku belon sempat “do follow” gara-gara “padam dam padadam pam” itu tadi. Tadi sebenarnya sudah mau posting artikel terjemahan soal “Pemetaan Pikiran” yang bisa membantu kita berpikir secara “holistik” atau menyeluruh dengan segala keruwetan masalah yang melingkari kepala, cuma bahasanya masih “Transtool & Smart Translator” banget, masih mau dibikin lebih manusiawi bahasa mesinnya. Itulah, kemampuan berbahasa inggrisku yang pas-pasan baru sampai pada tahap “understanding what they wrote” belon bisa “translating so whole of us can understand it”.

Mbak Tyas, mbak Else, mas Gus, mas Firdaus, mas Wendra, dan temen-temen blogger yang lain aku minta maaf bila beberapa tulisan serasa seperti sindiran, sungguh tidak kumaksudkan untuk menyindir siapa-siapa kecuali untuk menyindir diri sendiri. Tulisan-tulisanku yg terjemahan atau kutipan kalo dipuji, bingung aku nerusin pujiannya, soalnya yang nulis bukan aku, aku cuma copy+paste entah dari buku/blog yang pernah aku baca, pengalaman, berdiskusi dan berdebat (dengan orang lain atau dengan diri sendiri), dengan asumsi semoga ada gunanya bila di “share”. Aku malu. Beneran.

Selain bahagia dan malu saat ini aku juga menyimpan rasa bersalah dari kejadian 2 tahun lalu dan sebulan lalu plus bingung oleh situasi yang aku hadapi. Soal pekerjaan. Entah apa aku memang mesti disalahkan atau tidak yang jelas aku merasa bersalah. Bentar aku sambung 5 menit lagi mati lampu.. :D

Ini sudah pernah aku tulis sebagian di “Tips Ngambil Project As Sub-Vendor” di point jangan melibatkan diri dalam intrik.

Comments (4) »

Cermin, Apple dan Cinta (part 2 of 2)

Cerita ketiga Saya sekitar kematian.

Ketika saya berusia 17, Saya membaca suatu kalimat dengan tanda kutip yang bunyinya kira-kira: “Jika anda hidup setiap hari seolah-olah hari ini adalah hari terakhir anda, maka suatu hari anda akan menemukan bahwa anda adalah orang yang benar.” Kalimat tu memberi kesan yang  mendalam pada saya, dan sejak itu, Saya singgah di depan cermin setiap pagi dan berkata pada diri sendiri: “Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, akankah saya melakukan apa yang saya ingin lakukan hari ini?” Dan bila jawabannya “Tidak” untuk beberapa hari berturut-turut, Saya menjadi tahu bahwa saya perlu mengubah sesuatu.


Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah perangkat terpenting yang saya temui untuk membantu saya membuat aneka pilihan besar dalam hidup.  Karena hampir semuanya — semua harapan dari luar, semua kebanggaan, semua ketakutan, kebingungan atau kegagalan — rontok di depan wajah kematian, meninggalkan hal-hal yang memang sungguh-sungguh penting saja. Ingat akan mati adalah jalan terbaik yang saya tahu untuk menghindari perangkap dari pemikiran bahwa anda akan gagal. Anda sudah telanjang di depan kematian yang bisa datang kapan saja. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mengikuti keyakinan di hati anda.

Sekitar satu tahun lalu saya di diagnose mengidap kanker. Dari hasil scan dengan jelas menunjukkan tumor di pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Dokter mengatakan kepada saya hampir bisa dipastikan ini salah satu jenis kanker yang tak dapat disembuhkan, dan saya harus mulai berpikir usia saya sisa berkisar 3-6 bulan ke depan. Dokter  menyarankan saya untuk segera pulang dan menyusun urutan skala prioritas sebelum mati, ini adalah kode dari dokter untuk menyiapkan pasien yang akan meninggal. Itu artinya anda akan menceritakan kemungkinan yang akan anda hadapi kira-kira 10 tahun di depan kepada anak-anak anda hanya dalam waktu sebulan. Ini  berarti untuk meyakinkan bahwa segalanya telah diselesaikan dengan tepat sedemikian rupa. Ini  berarti waktunya anda mengucapkan “goodbye”.

Saya menyesuaikan diri diagnosis itu sepanjang hari. Berikutnya mereka memasukkan endoskop kerongkongan saya, melalui perut saya dan ke dalam isi perut saya, meletakkan satu jarum ke dalam pankreas saya dan mengambil beberapa sel-sel tumor. Saya tersiksa, syukurlah isteri saya ada di sana, dia mengatakan setelah dokter memeriksa sel-sel kanker tersebut dokter itu menangis dan mengatakan ini adalah jenis tumor yang bisa disembuhkan lewat operasi. Saya pun menjalani operasi medis dan saya sudah baik sekarang.

Ini adalah moment terdekat saya dengan kematian, dan saya berharap setelah sedekat itu saya bisa mendapatkan kesempatan beberapa dekade lagi. Saat ini saya bisa mengatakan kepada anda bahwa ada sedikit lebih banyak kepastian ketika berhadapan dengan kematian dan itu adalah suatu hal yang  bermanfaat.

Tak ada seorangpun yang ingin meninggal. Bahkan orang yang ingin pergi ke surga tidak ingin meninggal agar bisa sampai ke sana. Kematian adalah tujuan kita  bersama. Tak seorangpun telah pernah lepas itu. Dan itu suatu keharusan, karena kemungkinan besar kematian sekaligus merupakan temuan terbaik dari kehidupan. Kematian memberi jalan kepada yang lebih muda untuk menggantikan yang lebih tua. Sekarang ini anda adalah generasi baru, tetapi tidak terlalu  lama dari sekarang, anda akan secara gradual menjadi tua dan lenyap. Maaf bila kalimat saya ini terlalu dramatis, namun itulah kenyataan.

Waktu Anda terbatas, jangan memboroskan hidup anda di kehidupan orang lain. Jangan terjerat oleh dogma. Jangan membiarkan gangguan opini mengaburkan suara dari dalam yang milik anda sendiri. Dan  terpenting, punyai keberanian untuk mengikuti hati dan intuisi anda. Mereka bagaimanapun juga tidak mungkin lebih tahu dari anda.

Ketika saya muda, ada terbitan yang mengagumkan disebut Katalog Seluruh Bumi, yang menjadi kitab suci generasi saya. Diciptakan oleh Stewart Brand dari di Menlo Park, dan dia membawa buku itu ke dalam hidup saya dengan sentuhan puitis nya. Ini dibuatnya pada akhir 1960-an, sebelum komputer pribadi dan penerbitan desktop, semuanya dibuat dengan mesin ketik,  gunting, dan kamera polaroid. Itu 35 tahun sebelum Google datang dengan luapan semangat idealistis, dengan perangkat yang rapi serta pikiran besar.

Di cover terbitan akhir mereka terpajang foto matahari pagi dengan latar depan sebuah jalan panjang. Di bawahnya ada kata-kata:  “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” yang merupakan pesan selamat jalan mereka sebagaimana mereka mengakhiri siaran. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya telah selalu berharap kalimat itu untuk memotivasi diri saya sendiri. Dan sekarang, Saya berharap bahwa anda akan tetap lapar dan tetap bodoh.

Terima kasih banyak.

Comments (4) »

Semuanya Diawali Cinta (part 1 of 2)

Blog ini mestinya saya posting 4 hari yang lalu, tapi PLN di Palu lagi gak karu-karuan sehari cuma 6 jam nyala selebihnya gelap. Habislah gelap masih gelap juga ya? Saya makin yakin bahwa segala sesuatunya sudah diatur-Nya. Begini –sudah bukan soal PLN yang jadwal pemadamannya aja tidak teratur– sehabis posting tentang Apel dan cermin, iseng ngeklik tombol “stumble” di toolbar browserku, yang muncul teks pidato Steve Jobs, CEO Apple komputer & Pixar Animation Studio. Teks pidato ini udah pernah ada di buku “Sekolah Saja Tidak Cukup” tapi versi ini lebih lengkap dan yang mencengangkan dia berbicara tentang cermin dan apel juga! Versi asli dalam bahasa inggris udah saya posting di versi inggris blog ini.

Saya merasa sangat terhormat berkumpul dengan anda semua di sini dan memberikan sambutan di acara wisuda di salah satu univeritas yang terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus dari perguruan tinggi, saat ini adalah momen terdekat saya pada acara wisuda. Saat ini saya ingin mengisahkan kepada anda tentang tiga cerita dari hidup saya. Tidak begitu penting dan hanya tiga cerita.

Cerita Pertama sekitar menghubungkan titik.

Saya berhenti kuliah dari Reed College setelah 6 bulan, akan tetapi saya masih tetap berada di sekitar kampus sebelum betul-betul drop-out setelah 18 bulan atau sekitar itu. Mengapa drop-out?


Sebenarnya cerita ini sudah dimulai sebelum saya dilahirkan. Ibu kandung Saya masih amat muda, dia melahirkan saya di luar nikah sebelum menamatkan kuliahnya di perguruan tinggi lalu dia memutuskan mendaftarkan saya sebagai anak adopsi. Dia sangat yakin bahwa saya sebaiknya diadopsi oleh keluarga lulusan perguruan tinggi. Semuanya diaturnya agar saya dapat diadopsi oleh seorang pengacara dan istrinya. Begitulah keyakinan orang tua saya. Hingga suatu malam setelah menerima daftar calon orang tua adopsi dia memutuskan untuk menelpon nama yang berada di urutan teratas, “Kami memiliki satu bayi laki-laki yang tidak kami harapkan, maukah anda mengadopsinya?” Mereka mengatakan, “Tentu saja.” Ibu kandung saya kemudian mendapati bahwa mereka tidak pernah lulus dari perguruan tinggi, suaminya bahkan tidak pernah lulus sekolah menengah. Ibu menolak menandatangani surat adopsi buatku. Ibuku amat sedih selama beberapa bulan dan kemudian berjanji padaku bahwa suatu saat saya akan masuk ke perguruan tinggi.

Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk ke perguruan tinggi. Tetapi saya dengan naif memilih perguruan tinggi yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, dan orang tua saya yang berasal dari kalangan kelas pekerja menghabiskan seluruh uang tabungannya untuk membayar uang kuliah. Saya tidak melihat ada manfaat di situ. Saya tidak punya gambaran apa yang ingin saya lakukan dengan hidup saya dan bagaimana perguruan tinggi dapat memberikan saya jalan keluarnya? Sementara saya disini menghabiskan seluruh uang orang tua saya yang telah ditabungnya seumur hidup. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku buat dalam hidupku. Betul, saat itu juga adalah masa yang paling menakutkan dalam hidupku. Saya mulai tidak mengambil mata kuliah yang saya tidak sukai dan hanya memprogramkan mata kuliah yang benar-benar aku sukai.

Itu bukanlah cerita yang romatis. Saya tidak mempunyai kamar tidur, saya tidur di lantai di kamar seorang teman, Saya menjual botol coke 5 sen dan menyimpannya untuk membeli makanan, dan setiap malam senin saya berjalan 7 mil untuk mendapat makanan enak seminggu sekali di kuil Hare Krishna. Saya mencintai itu. Dan sebagian besar yang membuat saya tertegun, mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi ternyata adalah sesuatu tak ternilai di kemudian hari. Biarkan saya memberi satu contoh:

Brosur dari Reed College pada waktu itu barangkali adalah brosur dengan kaligrafi terbaik di negeri ini. Di dalam kampus, di setiap poster, setiap label di lemari dan laci, semuanya bertuliskan kaligrafi yang indah. Karena saya telah mengundurkan diri dan tidak bisa lagi mengambil kelas normal, Saya memutuskan untuk mengambil kelas kursus singkat kaligrafi untuk belajar bagaimana untuk melakukan itu. Saya belajar tentang serif dan san serif typefaces, tentang variasi jumlah celah antara kombinasi huruf berbeda, tentang apa membuat tipografi besar besar. Indah, bersejarah, dan itu membuat saya terpesona.

Tidak satupun ada bayangan bahwa kaligrafi itu akan terpakai dalam hidup saya. Saya mempelajari kaligrafi karena dia telah mempesona saya. Sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama, hal itu semua kembali kepada saya. Lalu kita merancang Mac. menjadi komputer pertama dengan tipografi indah. Jika saya belum pernah mengikuti kursus singkat di perguruan tinggi tentang tipografi, Mac  tidak akan pernah mempunyai berbagai typefaces atau spasi yang secara proporsional terpisah. Dan sejak Windows mengcopy Mac, membuat personal komputer pertama dengan tipografi indah. Jika saya tidak pernah mengundurkan diri, Saya tidak akan pernah ikut kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi mungkin tidak mempunyai tipografi seindah seperti sekarang. Tentu saja mustahil untuk menghubungkan situasi saat ini dengan ketika saya masih di perguruan tinggi. Tetapi itu adalah titik yang sangat jelas yang menghubungkan saya dengan sepuluh tahun kemudian.

Anda tidak bisa menghubungkan titik dimana anda berada sekarang dengan titik dimana anda akan berada di masa depan, anda hanya bisa menghubungkan titik-titik itu bila telah berada di depan dan memutar kembali kembali ke belakang. Namun anda harus percaya bahwa titik itu bagaimanapun juga akan menghubungkan anda dengan masa depan anda. Anda harus memiliki keyakinan pada sesuatu - nasib anda, takdir, tujuan, hidup, karma, atau apa saja. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, dan itu telah membuat seluruh perbedaan dalam hidup saya.

Cerita kedua Saya tentang cinta dan kerugian.

Saya termasuk beruntung — Saya menemukan apa saya cintai untuk dilakukan di awal hidupku. Woz dan saya mulai Apple di garasi orang tua saya ketika saya berusia 20. Dan dalam 10 tahun Apple telah tumbuh dari kami berdua di dalam garasi ke sebuah perusahaan bernilai $2 milyar dengan lebih dari 4000 karyawan. Kita baru saja melepaskan kreasi terbaik kita — Macintosh — satu tahun lebih awal, dan saya baru saja memulai usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana bisa anda dipecat dari perusahaan yang anda rintis? Begini, sebagai perusahaan yang sedang berkembang Apple mempekerjakan orang-orang berbakat untuk bekerja bersama-sama dengan saya memajukan perusahaan. Akan tetapi visi kami tentang masa depan perusahaan mulai berbeda dan kami mulai saling berbeda pendapat. Dewan komisaris Apple berpihak padanya dan di usia 30 saya dipecat dan itu terpublikasikan ke publik. Apa yang telah menjadi fokus hidup saya di usia dewasa telah pergi, dan itu menghancurkanku.

Saya benar-benar tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk beberapa bulan. Saya merasakan saya telah membuat usahawan generasi sebelum saya menjadi kecewa - bahwa saya telah menjatuhkan tongkat estafet yang sedang ada pada saya. Saya menemui David Packard dan Bob Noyce dan mencoba minta maaf telah mengacaukan semuana. Saya adalah sebuah kegagalan, dan saya bahkan mulai memikirkan untuk menjauh dari lembah silikon. Tetapi sesuatu secara pelan-pelan memberikan harapan nyata pada saya — Saya masih mencintai apa yang saya lakukan. Pemecatan di Apple tidak membuat 1 bit pun cinta saya berkurang. Saya telah ditolak, tetapi saya masih mencintai pekerjaan saya. Saya memutuskan untuk mulai kembali dari nol.

Saya tidak lagi menoleh ke pemecatan itu sesudahnya, tetapi pemecatan di Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Beratnya menjadi orang sukses telah tergantikan oleh keringanan menjadi seorang pemula lagi, serba tidak pasti tentang segalanya. Itu membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode yang paling kreatif dari hidup saya.

Selama lima tahun berikutnya, Saya memulai suatu perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain bernama Pixar, lalu jatuh cinta kepada seorang perempuan mengagumkan yang akan menjadi isteri saya. Pixar meneruskan perjalanan ke menciptakan film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan saat ini adalah studio animasi paling berhasil di dunia. Dalam suatu kejadian luarbiasa, Apple membeli NeXT, Saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kita kembangkan di NeXT adalah di pusat kebangkitan kembali Apple saat ini. Dan Laurene bersama saya memiliki satu keluarga yang indah.

Saya sangat yakin tidak ada satupun dari kejadian itu bisa terjadi bila saya tidak pernah dipecat dari Apple. Itu adalah sebuah pengobatan yang kejam, tapi saya kira kadang-kadang pasien membutuhkannya. Kadang-kadang hidup ini seperti menghantam jidat anda dengan batu bata. Jangan kehilangan keyakinan. Saya memastikan bahwa satu-satunya hal yang membuat saya untuk terus berjalan karena saya mencintai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang anda cintai. Dan adalah benar adanya bekerjalah sebagaimana anda mencintai kekasih anda. Pekerjaan Anda akan mengisi sebagian besar hidup anda, dan satu-satunya cara untuk yang sungguh-sungguh terpuaskan dengan pekerjaan anda, anda harus meyakini bahwa apa yang anda lakukan adalah pekerjaan besar. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar anda harus mencintai apa yang anda lakukan. Jika anda belum menemukan itu, jangan putus asa. Sejalan dengan segala hal yang telah memenuhi hati anda, anda akan tahu ketika anda menemukan itu. Dan, seperti hubungan besar lainnya, cinta anda akan terus menguat dan membesar seiring dengan berjalannya waktu. Tetaplah mencari hingga anda menemukannya. Jangan putus asa.

Comments (2) »

Apel Tidak Jatuh Jauh dari Pohonnya

Buah apel nggak jatuh jauh dari pohonnya, karena kalo jatuhnya jauh.. Newton tidak bakal ngeliatin buah apel jatuh yang bikin dia mikir sampe2 nemuin teori gravitasi, padahal semua orang ngeliat buah apel jatuh ke bawah, tapi cuma Newton yang nanya kenapa?.. Nggak. Aku bukan mau nulis tentang dosa turunan atau tabiat keluarga juga bukan tentang kesalahan gen. Aku lebih percaya bahwa kita yang memilih dengan sadar atau tidak, –tapi lebih banyak tidak sadarnya– hingga kita menjadi kita hari ini. Mengambil pilihan untuk secara sadar menjadi sesuatu (baca: manusia seutuhnya) atau (pura-pura) tidak sadar dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja, hingga suatu hari ketika bercermin yang terpantul wajah seorang pecundang bangun kesiangan.

Apel tidak jatuh jauh dari pohonnya, kata-kata itu yang kupikirkan waktu bercermin setelah ganti baju kehujanan naek motor. Ribuan flashback tentang apa saja yang telah kulalui sebelum sampai pada hari ini dan ribuan kemungkinan lain yang menungguku besok. Betapa nisbi dimensi waktu. Aku di depan cermin tidak lebih 5 menit tapi aku seperti berada di tahun 1996 ketika memutuskan untuk berhenti kuliah di Arsitektur. Aku seperti sedang berada diantara teman-temanku yang lagi having fun untuk berpamitan, hari itu kucukupkan mengakrabi segala kesia-siaan menguji larangan Tuhan. Bila aku tidak menggelinding jauh dari kebiasaan burukkku, malam ini di depanku cuma ada pantulan wajah pecundang.

Apel tidak bisa memilih di pohon mana dia akan tumbuh kemudian jatuh, tapi kita bukan apel. Oke. Kita tidak bisa memilih dari orang tua mana dan dari belahan bumi mana kita akan lahir ke dunia, tapi kita diberi kebebasan memilih apa cuma akan menjadi sekedar apel dengan tabiat yang kurang lebih sama dengan pohon tempat dia jatuh dan tumbuh menyerap keburukan (juga kebaikan) disekitar atau memilih untuk menjadi manusia yang punya pilihan dan berani memilih. Berpetualang, berpindah kebiasaan, belajar dari kesalahan dan terus belajar, makin manusia sebelum mati sepertinya petualangan yang harus aku ambil.

Jadilah apa yang kau pikir terbaik untuk dirimu. Bila engkau yakin itu terbaik untukmu, percayalah semesta disekitarmu akan merasakan kebaikan yang sama seperti dirimu dan akan mengamininya. Kusudahi dialogku dengan cerminku malam ini.

Sepertinya cermin di lemariku besok mau disikat bersih, tingkahnya mulai aneh ngajak aku ngobrol. Ada-ada aja. Cermin ngajak ngobrol.. :D

Comments (6) »

Pesta Rakyat Tujuhbelasan

Comments (5) »