Archive for October, 2008

Negeri Ini Akan Membaik. Amin

Makin banyak saja manusia-manusia luar biasa dengan karya-karya inspirasional, yang aku yakini bisa nandingi karya sampah –seperti video-video organ tunggal aseli made in indonesia di youtube.com seni yang invalid segala-galanya–. Negeri ini akan jadi lebih baik. Dunia ini akan menjadi tempat persinggahan yang indah sebelum mati menjemput. Amin.

Karya-karya mereka berhasil menyentuh hati banyak hati manusia. Saya ingat perkataan pak Taufiq Ismail, “Bila sebuah kata-kata keluar dari hati yang bersih dan tulus –entah itu lisan atau tulisan– maka orang lain akan merasakan kalimat-kalimat itu meluncur turun langsung ke hati, otak dan telinga kita tidak lagi menyaringnya.”

Semoga masih banyak anak-anak muda yang punya hati, yang tidak lagi melangkahkan kakinya di dunia karena dorongan perut dan bawah perutnya, tapi karena dorongan hatinya. Amin

Comments (2) »

Selamat Pagi Palu

Terimakasih udah bersusah payah untuk menjemputku..

Sempat sakit di Makassar 3 hari setelah lebaran, hari ini aku udah sehat lagi, Alhamdulillah. Ternyata penurunan tempo kerja secara drastis juga bisa jadi penyebab badan kita drop, kalo di Palu istirahat 4-5 jam sisanya kerja di Makassar kebalik, 4-5 kerja nggak jelas sisanya istirahat eh, malah jatuh sakit, meriang dan ngigo gak karuan. Kemaren jam 10.40 dah di Palu lagi, memang udara di sini jauh lebih bersih dari Makassar karena begitu nyampe Palu bawaannya ngantuk mulu. Badanku begitu sejak jaman suka naik gunung dulu, kalo dapat udara bersih maunya tidur aja biar sel-sel tubuh bisa istirahat dan beregenerasi. Dari semalam sejak udah megang tiket secara auto otakku udah mulai loading job sheet dan bengkalai list setiba di Palu apa aja. Parah ya? Coba soal akhirat otakku seencer itu nyusun planning. Huh, rupanya aku belon berimbang porsinya.

Di Makassar ngapain aja ya.. I’tikaf 3 hari akhir ramadhan di mesjid Raya, trus sungkeman silaturrahmi, ngelepasin rindu becanda ama Ariel, belanja gak jelas ngabisin THR, liat-liat gedung-gedung baru di Makassar, beberapa proyek thank you dan nanam benih buat panen tahun depan, dinner with Etos big family, menasehati dan memaki si Toto yang seperti orang kebingungan mau kemana dia dengan hidupnya (semoga ada gunanya)..

Image002.jpg
Suasana Mesjid Raya Makassar pukul 2.30 pagi selepas shalat lail. Seperti hari Jum’at aja. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya,kali ini bener-bener lebih ramai. Alhamdulillah bisa dapet 3 malam. Tempat yang bagus buat hunting jodoh! :D Tapi tahun ini aku malu kaloberdoa isinya meminta mulu, walaupun kita juga termasuk orang yg takabur kalo gak mau meminta, aku takut udah kelewat banyak minta tapi minim bersyukur.
ariel_mikirin_kantornya.jpg
Si Ariel ponakanku lagi antusias mikirin masa depannya kali ya?
Bos! Sepatunya satu lagi mana? Kegedean pula..
Image013.jpg
Undangan Reuni Akbar IKA Poltek Negeri Makassar (dulu Politeknik Unhas) aku cuma setahun di sana sebelum pindah ke Arsitektur. Reuni yang gak jelas konsepnya ini halal-bi halal, ramah tamah, atau event panitia nyari duit? Saran buat adik-adik panitia; 1. Konsep! Konsepnya mana bos?? Mau kemana dengan acara ini??; 2. Dulu poltek isinya pejantan semua, bahkan yg perempuan jadi ikut jantan, kalian aneh ada dancing pom-pom boys nya pula..; 3. Data. Jangan membuat sesuatu tanpa data atau kalian cuma bisa meraba-raba. Cuma saran loh, selanjutnya terserah kalianlah.. :)

Comments (2) »

Perempuan

Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi laki-laki, demikian pula sebaliknya. Sang Pencipta tentu sangat tahu bahwa perempuan adalah pendamping terbaik laki-laki, sebagaimana halnya laki-laki juga adalah pendamping terbaik bagi perempuan. Sungguh tidak berbudi laki-laki yang tidak menghormati, mencintai dan menghargai perempuan. Hanya lelaki bodoh yang sanggup melakukan pelecehan terhadap perempuan.

Konon, pertikaian pertama antara sesama saudara dalam sejarah manusia dipicu oleh persoalan perempuan. Itulah sebabnya ada anjuran untuk tidak menyanjung-nyanjung perempuan secara berlebihan, hingga memburamkan pandangan dan menutupi akal sehat.

Islam mendorong kepada setiap orang untuk memperlakukan perempuan sebagai perempuan.

Karena dalam “keperempuanan” itulah tersimpan rahasia Tuhan mengapa perempuan diciptakan.

- Cover belakang buku: “Perempuan, dari cinta sampai seks, dari nikah mut’ah sampai nikah sunnah, dari bias lama sampai bias baru” tulisan bapak M. Quraish Shihab

218257045_101486a26c_o.jpg

Tadi sudah sempat tertidur sekitar 30 menit, terus terbangun dan pengaruh obat pilek yang bikin ngantuk udah hilang, jadinya malah tidak bisa tidur. Turun ke bawah bikin susu hangat, trus lewat depan meja kerja Ayah. Hei! Ada buku bagus, bisa buat pengantar aku tidur –atau jadi teman begadangku– :D Hehehe.. Yang pertama terlintas dikepalaku waktu liat buku ini tergeletak di meja kerja Ayah, “Beliau aja yang udah hampir 70 tahun, udah punya cucu, udah bertemu dan berkenalan dengan beragam perempuan, toh masih juga butuh referensi tambahan tentang perempuan.. ” Mau aku baca dulu trus nanti aku tulis “oleh-oleh” yang aku dapat setelah baca buku ini…

Comments (1) »

Jujur

“Kalau saya boleh jujur… atau sejujurnya… atau jujur saya katakan… atau jujur, saya…”

Cuplikan iklan salah satu episode acara metrotv “the golden way” edisi “honestly” itu sumber inspirasi tulisanku. Iklannya sempat aku nonton, acaranya malah mungkin tidak sempat.. :D

2786699290_170dc4fb88_o.jpg

Coba deh kita periksa sms outbox kita, atau inbox, atau pembicarann lisan kita dengan siapa aja, seberapa sering kita membuka kalimat dengan kata-kata: ”Kalau saya boleh jujur… atau sejujurnya… atau jujur saya katakan… atau jujur, saya…” bila ada, patut bersyukur deh karena akhirnya kita tahu bahwa kita belumlah termasuk orang yang jujur jadi masih ada kesempatan merubah.

Iyalah, kalau memang jujur mestinya apa adanya, tidak perlu itu kalimat pembuka “sejujurnya aku katakan… ” dan lain-lain karena secara tidak sadar kita sudah mengakui pada orang lain yang mendengar atau membaca kalimat kita bahwa sebelum kalimat “sejujurnya..” tadi boleh jadi bohong belaka. :D Kalimat seperti ini paling sering aku dengar dari para politikus kita loh.. Tapi tidak semua.

Jujur itu tidak mudah dan setahuku baru Nabi Muhammad SAW yang diberi gelar Al-Amin (orang yg terpercaya) oleh masyarakat –dengan beragam kepercayaan dan keyakinan– dimana beliau hidup. Ada kisah seseorang yang ingin mengenal Islam itu seperti apa sesungguhnya, menghadap Nabi SAW dan bertanya, bagaimanakah caranya supaya ia dapat dikatakan telah Islam? Rasul SAW cuma meminta dia melakukan 1 hal saja, jujurlah. Dia pun kembali ke kehidupannya sehari-hari, dia bertemu dengan kawan yang biasa menemaninya minum tuak, baru saja dia ingin mengajak kawannya itu mabuk bersama hatinya langsung menegur, aku tidak boleh bohong bila ditanya Rasul nanti apakah hari ini aku mabuk? Mabuk batal. Ketika adzan mulai dikumandangkan Bilal, dia baru saja akan terlelap tidur siang. Males banget ke mesjid. Matahari terik, ngantuk, capek, tapi bila ia tidak ke mesjid dia pasti akan berbohong bila ditanya Rasulullah nanti. Tidur siang cancel deh.. Malamnya dia langsung menghadap Nabi SAW, “Sungguh jujur itu tidak mudah..”

Kata Buya Hamka almarhum, “Bohong adalah pekerjaan paling mudah di dunia. Lisan ini dengan mudah mengucapkan apapun yang kita ingin keluarkan, tapi ingat pekerjaan paling sulit di dunia adalah menutupi kebohongan, karena seperti efek domino setiap kebohongan harus ditutupi dengan satu kebohongan baru, begitu seterusnya demi menjaga kebohongan awal. Bayangkan bila dosa satu kebohongan kita konversi sama dengan satu cubitan yang membuat perut kita biru, bisa-bisa satu badan kita berwarna biru dan gemuk karena bengkak.. ” :D

Itu jujur pada orang lain. Bagaimana dengan jujur pada diri sendiri?? Menurut aku sih –yang pasti pernah berbohong– jujur pada diri sendiri itu jauh lebih sulit lagi. Kenapa? Bohong pada orang lain sih gampaang, pertama boleh jadi kita tidak tiap hari ketemu dengan orang yang kita bohongi jadi kue lapis kebohongan kita nanti nambah tebelnya pas ketemu aja ama yang dibohongi. Kedua, kita bisa menciptakan alibi yang mendukung kebohongan kita dengan mudah untuk membuat orang yang kita bohongi percaya pada kebohongan kita. Misalnya ditelpon nih ama bos, “Lagi dimana An? Bisa ke kantor sekarang? Ada masalah teknis sama server.” Aku yang baru aja terlelap dan semalam begadang pasti males bangetlah ke kantor, bentar aja habis tidur siang deh.. Tinggal aktifin software “call fraud” yang bisa jalan di hape ber-OS Symbian trus pilih kebisingan di lokasi stasiun kereta api, “Lagi di stasiun pak, nganter temen 2 jam lagi baru bisa ke kantor..” Parahnya di Palu gada stasiun kereta api.. :D

Tapi berbohong pada diri sendiri gak bisa disiasatin, bagaimanapun! Kecuali kalau kita udah nggak punya hati nurani, kecuali kalau hati nurani bisa disimpan bentar dalam kulkas. Hati nurani itu hakim paling adil loh! Dan gak pilih kasih, kalo hitam menurutnya ya hitam keluarnya, dan hati nurani ikut kemanapun kita pergi. Kadang-kadang aku dibuat terkagum-kagum betapa hebatnya perjuangan orang-orang yang mampu menentang suara hati nuraninya sendiri.

Aku bukanlah orang jujur, itu pasti. Karena kadangkala aku masih juga bisa tertipu oleh “mengutamakan tujuan daripada proses” dalam urusan-urusan duniawiku. Misalnya tujuanku adalah menang tender maintenance BTS selular dan aku harus punya kualifikasi perusahaan dan SDM dengan persyaratan tertentu, nelpon kiri-kanan keluar deh referensi yang dibutuhkan. Nggak jujurkan? Kalau sudah begitu bisa aku pastikan bahwa pekerjaan itu mungkin pasti aku dapatkan, tapi kebahagiaan dan berbagai proses pembelajaran positif dalam bekerja aku pastikan hilang.

Kini, sedapat mungkin aku berbicara apa adanya utamanya pada diriku sendiri. Bila aku kangen, ya bilang kangen tanpa embel-embel apa-apa. Apakah yang aku kangenin juga kangen itu nggak penting, lebih penting aku udah jujur pada diriku sendiri. Bila aku benci pada suatu perilaku, harus aku ungkapkan secepatnya juga daripada kekesalanku numpuk lalu berubah jadi kemarahan yang boleh jadi destruktif bila ditunda pengungkapannya.

Pesan Nabi SAW, “Ungkapkan yang benar walau pahit akibatnya..” Dan sudah kubuktikan pesan ini benar adanya. Pernah dalam suatu kejadian yang aku alami aku dihadapkan pada “setting buah simalakama” bila aku mengungkap semua kebenaran maka resikonya adalah hancurnya sebuah rumah tangga, atau mereka akan bercerai tapi bila tidak diungkapkan maka aku akan terus menerus akan menjadi tameng sang suami bila berbohong pada istrinya, “Aku lagi di jalan sama Aan..” Aku memilih mengungkapkan semuanya. Apa adanya. Tahu apa yang terjadi kemudian? They live happily ever after dengan 2 cucu baru, amin. Mereka jadi bisa saling tahu “sebenarnya” sudah seberapa besar kesalahan yang harus dimaafkan..

No comment »

Bersyukur Dengan Yang Sedikit

Aku mencintaimu, tapi cuma sedikit saja*, begitu sedikitnya hingga tidak mungkin dibagi lagi pada yang lain, cuma buatku.. :D - *IyankSeperti mudik ditahun-tahun sebelumnya, tujuan utamaku mudik ke tanah kelahiran adalah bersilaturrahmi dan bersimpuh di kaki kedua orang tuaku, bertemu kerabat dan para sahabat tentu saja adalah skala prioritas kedua. Selepas malam takbiran yang menguras energi dan melelahkan karena hatiku harus berbagi ruang antara sedih kehilangan ditinggal pergi Ramadhan dengan gamang pada kenyataan berada di persimpangan untuk mengambil pilihan hidup berikutnya, esok paginya lenyap nyaris tak berbekas oleh luapan kegembiraan Idul Fitri di lapangan stadion Mattoangin. Kemurunganku kalah oleh keriangan pagi kemenangan. Walaupun sempat muncul kekesalan kenapa mesti minta advice pada orang yang belum tentu obyektif secara emosional? Tapi kekesalan itu menguap begitu saja ketika takbir mulai bersahut-sahutan saat kugelar sajadahku. Betapa kecilnya segala masalah, kekesalan, dan kerinduanku sejak 3 hari lalu ditengah semesta yang berpesta akbar. Aku bersyukur dengan apa yang ada padaku, apapun itu. Terimakasih Tuhan.

311294698_137e087c39_o.jpg

Beberapa jam yang lalu sebelum mulai menulis ini di hadapanku ada laki-laki dengan mata kuyu di bawah pengaruh koplo meminta bantuanku untuk merubah hidupnya. Pikirnya aku ini siapa? Juru tulis pohon takdir di lauhful mahfudz kah? Dimana digantungkan catatan rejeki, jodoh, takdir baik dan buruk serta ajal tiap manusia di bumi. Sungguh aku bukan ingin memaksakan pola pikirku atau pola pikir orang lain yang juga bagus, tapi saya tidak bisa mengerti bagaimana bisa dia mabuk untuk sebuah perkara yang amat remeh temeh? Betapa banyak orang diluar sana yang bernasib jauh, jauh, jauh lebih buruk dari dia dan tidak secengeng dia dalam menghadapi beban hidup, tidak sampai membuat mereka mabuk untuk sekedar lari tunggang langgang dari kenyataan hidup layaknya pengecut.

Sedih sekali aku dibuatnya, padahal yang sudah kubuktikan hingga saat ini, menjalani hidup di dunia hanya membutuhkan dua sifat utama, sabar dan syukur yang seiring waktu akan mengalami peningkatan kualitas terus menerus sebelum kemudian kita mati. Kita bersabar saat berada dititik terendah –betapa utama manusia yang masih bisa bersyukur dimasa sulit– dan kita bersyukur dengan berbagi saat berada di puncak. Apa dia sudah tidak lagi memberi ruang untuk Tuhan dalam hatinya? Naudzubillahi min dzalik.. Sungguh aku bukan tidak mau menolong, tapi sudah kubuktikan sendiri saat ingin berubah menjadi lebih baik bahwa segala sesuatu di luar diri kita cuma bisa menjadi katalisator yang bisa mempercepat –atau melambatkan– perubahan, reaksi berantai memperbaiki diri sendiri itu harus dimulai dari yang bersangkutan, barulah pertolongan susul menyusul datang. Bagaimana pertolongan bisa datang bila dia sendiri belum memulai menolong dirinya?

Mulailah dengan yang sedikit, dengan yang kecil karena sebuah rumah yang besar terdiri dari milyaran hal-hal kecil yang dikumpulkan dan dibangun tiap hari. Bismillah, kumohon mulailah berubah sebelum mati menjemput, karena mustahil apa yang telah pernah dicapai manusia lain tidak dapat kau capai juga, karena Tuhan itu maha Adil kemampuan yang ada pada manusia lain pasti ada padamu juga, kau yang belum berusaha lebih keras.

Comments (1) »