Archive for November, 2008

Dear God……

 

Thank God, untuk …

Kemerdekaan menjalani hidup

Keleluasaan mengejar karier

Waktu melimpah untuk hang-out

Masa yang panjang untuk bersenang-senang

Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran

Kemewahan untuk menikmati kesendirian

dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami

 

Beri kami kesabaran untuk ….

Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan orang tua

Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang

Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

 

Beri kami kekuatan untuk ….

Tidak melepas masa lajang karena everybody does

Tidak melepas masa lajang karena takut stigma perawan/perjaka tua …

Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami

Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua …

Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang

 

Dear God,

Biarkan kami menikmati kesendirian kami

Dan merelakannya pergi pada waktunya

Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri

Tolong berikan kami teman hidup terbaik untuk berbagi kesenangan

Secepatnya juga boleh kalau Engkau berkenan

The good one, of course, if You dont mind …..

Amin.

Comments (2) »

Kisah Senyuman Tulus

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana .

Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!

Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.

Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” 

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. 

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. 

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! 

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” 

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ’sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. 

Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri. 

Dan saya amat bersyukur bisa berkenalan dan akrab dengan seseorang seperti kisah di atas.. (Aan)

No comment »

Relativitas Waktu dan Sunatan Massal

Waktu aku lagi nulis ini gedung aula di samping kantor lagi bising banget ama suara tangisan anak-anak kecil yg ketakutan karena ujung tititnya mau dipotong ama mahasiswa angkatan pertama fakultas kedokteran Untad, udah ritual anak2 kedok kali ya? Soalnya waktu aku masih kuliah di Unhas tiap tahun juga mahasiswa baru kedokterannya nyari “korban-korban” barunya. Aku sama temen-temen di teknik suka becandain mereka, ikut2an daftar sunatan, pas ditanya siapa yg mau disunat? Ponakannnya ya? Ngeliat si Mukti yg memang agak waras *dikit aja warasnya* mulai buka gespernya, meja pendaftarannya langsung kosong. :D

Ada yg beda dengan FK Unhas dengan FK Untad. Kalau di Unhas mahasiswinya pada cool, sebagian besar berjilbab dan wajib pakai rok, trus lagu yang paling sering mereka puter kalo pas ada hajatan gitu biasa mozart, beethoven, kenny g atau instrument pop lainnya, atau sekalian kaset ngaji karena yg ikut sunatan massal hampir pasti muslim semua, kalau di gedung samping ini, anak2 nangis itu di hibur ama ST12, D’masiv, Peterpan, dan band-band Indie lainnya plus suara bising game counter strike si Tapa dari ruang depan dan mahasiswa FK yang tidak bisa menahan diri untuk ikut nyanyi jadi backing vocal.

Beberapa hari yg lalu aku sempet ym2an ma Tyas, betapa waktu itu gak berasa banget berlalunya, aku bilang perasaan baru kemarin aku pulang sunatan ama adikku almarhum tau2 tahun depan udah 36.. Dah tua. Eh! hari ini di gedung samping anak2 itu lagi disunat, besok tau2 dah jadi dosen di Untad. :D

Wal Ashri. Demi masa, sesungguhnya manusia itu termasuk golongan yang merugi.
Yang membiarkan waktunya berlalu begitu aja tanpa bisa dia pertanggung-jawabkan kelak di hadapan Tuhan-Nya.. Kecuali orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan di muka bumi..

Permisi bentaran… Mo periksa diri sendiri lagi ke belakang sebelum masuk 36 tahun aku udah ngapain aja selama ini??

No comment »

Sedapat Mungkin…

Sedapat mungkin aku berbaik sangka pada setiap kejadian yang kualami dua minggu ini. Meski belum semua kejadian yg berhasil bikin suntuk itu bisa aku set ulang jadi look nice dengan ngorek2 sisi baik yg anehnya disetiap kejadian yg kuanggap ga enak selalu aja ada sisi baik yg bisa disyukuri.

Kalau lagi di Makassar saat ini aku mungkin sedang di pinggir danau buatan samping PLTU jalan ke Malino nyari pencerahan (padahal matahari terik banget cerahnya) kalo ga dapat pencerahan juga lanjut lagi sampai Malino, masih gelap? Masuk ampe dusun Lembanna di kaki gunung Bawakaraeng, masih juga mati lampu? Sekalian semua keruwetan hidupku aku bawa ampe puncak gunung. Tapi itu dulu.. Sekarang Alhamdulillah setelah ribuan kali mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, dengan tafakkur dan berserah diri beberapa jam, dadaku udah kembali plong dan ringan.

Sejarah akan berulang bila pelaku sejarah tidak ngambil pelajaran dari apa yg sudah pernah terjadi. Itu kata guru sejarahku waktu SMP biar kami mau naruh perhatian dikiit aja. Bukan ga suka gurunya ato pelajaran sejarah, tapi jam pelajaran terakhir di SMP PPSP IKIP itu memang paling nikmat buat tidur siang kadang sampe ileran di meja. Guru yang dapat jatah jam terakhir tiap kali ngomong bawain pelajaran kami serasa mendengar lagu rayuan pulau kelapa yang mendayu-dayu sambil ditimpali hembusan angin surga dari jendela kelas yang kaca nakonya –sengaja kami bikin– bolong-bolong.

Aku bukanlah orang yang suka mengabaikan sejarah, sedapat mungkin aku berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama yg udah pernah aku lakukan di masa lalu. Kambing aja ogah jatuh di lobang yang sama. Masalahnya kodok itu bukan kambing.. :D

Oleh beberapa teman aku disebut mengalami “inkonsistensi” yang parah dan setelah aku periksa ke belakang, beneran aku emang gitu. Habis nikmat sih.. Berpetualang dengan hidupku sendiri ngalir ama angin takdir.. Kemaren di Cipanas, besok dah di Makassar lagi, sekarang di Palu.. Selagi akal sehatku bisa aku matiin, beneran nikmat itu hidup ngalir gitu aja ngikutin takdir tanpa ada keinginan kita di dalamnya, tapi toh tiap pagi selalu aja yang paling pertama bicara ke aku itu akal sehatku, “Mas Aan! Sampai kapan?!”

Sebenarnya 3 bulan terakhir hidupku mulai tertata rapi dan konsisten. Ada banyak hal-hal yg tadinya tidak pernah kupikirkan kini malah jadi kepikiran. Sejak dari 3 tahun lalu aku udah punya rencana masa depan juga, mulai dari nikah, punya rumah kecil yg manis dan halaman yg bisa ditanami 2 pohong mangga besar, pensiun dari nyari duit dan kekurangan tidur di usia 45 tahun paling lama, pengen ngabisin waktuku ama anak-anak aku aja di rumah kalo insya Allah dipanjangin umur dan dipercaya dititipin anak ma Allah, amin.

Seminggu ini semua konsistensi itu dirusak oleh orang-orang yang ga bisa banget konsisten hati, ucapan dan perbuatannya dan 90% inkonsistensi itu aku temui tiap hari di kantor dan pada orang-orang yg terlibat kontrak kerjasama denganku. Bayangkan efek domino yang bisa ditimbulkan dari sebuah janji yang ingkar yang kita jadikan pegangan untuk menjanji orang lain, lalu orang lain itu kemudian menjanji lagi kepada yang lain begitu seterusnya hingga belasan down line? Kenyang deh aku –bahkan eneg– makan kebohongan.

Aku tidak suka dengan segala keruwetan dan kong-kalikong, tapi bukan berarti aku lantas kabur bila ketemu yang ruwet, tetep aku jalani kok sambil berusaha nyari ujung-pangkalnya. Dari mana keruwetan ini bermula dan akan berakhir dimana. Mana bisa benang kusut diurai bila ujung-pangkalnya ga ketemu dulu?? Kecuali kalo mo dicuekin aja atau ambil gunting potong ditengah2. Bukan solusi yang baik deh, kita malah jadi sibuk nyambung-nyambungin benang yang udah putus kegunting tadi dan aku gak pernah sekalipun ninggalin benang kusut di belakangku. Alhamdulillah sampai hari ini aku belum punya musuh dari keruwetan yang pernah aku alami.

Semoga aku bisa segera nemuin sisi baik dari semua keruwetan ini, dan ujung-pangkalnya, amin.

Comments (2) »

Harapan Keluarga

Harapan kita sendiri aja kadangkala udah terlalu berat buat diwujudkan, apalagi bila seluruh keluarga meletakkan harapannya di bahu kita. Tentang “distribusi” harapan keluarga, Khalil Gibran pernah menulis sebuah puisi yang indah tentang itu.

Mereka adalah putra putri dari kehidupan yang merindukan dirinya sendiri,
Mereka datang melaluimu tetapi bukan darimu,
Dan walaupun mereka tinggal bersamamu, mereka bukanlah milikmu.

Kau dapat memberikan kasih-sayangmu tetapi tidak pikiranmu,
Karena mereka mempunyai pemikiran sendiri.

Kau dapat memberikan tempat untuk raga tetapi tidak untuk jiwa mereka,
Karena jiwa mereka menghuni rumah masa depan, yang tak dapat kau kunjungi, bahkan tak juga dalam mimpi-mimpimu.

Kau dapat berupaya keras untuk menjadi seperti mereka, tetapi jangan mencoba membuat mereka sepertimu,
Karena kehidupan tidak berjalan ke belakang juga tak tinggal di masa lalu.

Kau adalah busur dari mana anak-anakmu melesat ke depan sebagai anak panah hidup…
Sang pemanah melihat sasaran di atas jalur di tengah keabadian, dan DIA meliukkanmu dengan kekuatanNYA sehingga anak panahNYA dapat melesat dengan cepat dan jauh.
Biarkanlah liukkanmu di tangan sang pemanah menjadi keceriaan;
Bahkan DIA pun mengasihi anak panah yang terbang, demikian juga DIA mengasihi busur yang mantap

Bila suatu hari nanti aku diberi amanah anak oleh Allah, insya Allah akan kubiarkan dia melesat pergi kemanapun ia mau mencari jalan bahagianya, seperti kebebasan yang telah diberikan kedua orang tuaku untuk membiarkan aku berpetualang tanpa henti menyusuri waktu menikmati setiap takdirku sambil sesekali menjenguk wajah orangtuaku yang bahagia dengan apa adanya aku..

Comments (1) »