Sedapat Mungkin…

Sedapat mungkin aku berbaik sangka pada setiap kejadian yang kualami dua minggu ini. Meski belum semua kejadian yg berhasil bikin suntuk itu bisa aku set ulang jadi look nice dengan ngorek2 sisi baik yg anehnya disetiap kejadian yg kuanggap ga enak selalu aja ada sisi baik yg bisa disyukuri.

Kalau lagi di Makassar saat ini aku mungkin sedang di pinggir danau buatan samping PLTU jalan ke Malino nyari pencerahan (padahal matahari terik banget cerahnya) kalo ga dapat pencerahan juga lanjut lagi sampai Malino, masih gelap? Masuk ampe dusun Lembanna di kaki gunung Bawakaraeng, masih juga mati lampu? Sekalian semua keruwetan hidupku aku bawa ampe puncak gunung. Tapi itu dulu.. Sekarang Alhamdulillah setelah ribuan kali mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, dengan tafakkur dan berserah diri beberapa jam, dadaku udah kembali plong dan ringan.

Sejarah akan berulang bila pelaku sejarah tidak ngambil pelajaran dari apa yg sudah pernah terjadi. Itu kata guru sejarahku waktu SMP biar kami mau naruh perhatian dikiit aja. Bukan ga suka gurunya ato pelajaran sejarah, tapi jam pelajaran terakhir di SMP PPSP IKIP itu memang paling nikmat buat tidur siang kadang sampe ileran di meja. Guru yang dapat jatah jam terakhir tiap kali ngomong bawain pelajaran kami serasa mendengar lagu rayuan pulau kelapa yang mendayu-dayu sambil ditimpali hembusan angin surga dari jendela kelas yang kaca nakonya –sengaja kami bikin– bolong-bolong.

Aku bukanlah orang yang suka mengabaikan sejarah, sedapat mungkin aku berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama yg udah pernah aku lakukan di masa lalu. Kambing aja ogah jatuh di lobang yang sama. Masalahnya kodok itu bukan kambing.. :D

Oleh beberapa teman aku disebut mengalami “inkonsistensi” yang parah dan setelah aku periksa ke belakang, beneran aku emang gitu. Habis nikmat sih.. Berpetualang dengan hidupku sendiri ngalir ama angin takdir.. Kemaren di Cipanas, besok dah di Makassar lagi, sekarang di Palu.. Selagi akal sehatku bisa aku matiin, beneran nikmat itu hidup ngalir gitu aja ngikutin takdir tanpa ada keinginan kita di dalamnya, tapi toh tiap pagi selalu aja yang paling pertama bicara ke aku itu akal sehatku, “Mas Aan! Sampai kapan?!”

Sebenarnya 3 bulan terakhir hidupku mulai tertata rapi dan konsisten. Ada banyak hal-hal yg tadinya tidak pernah kupikirkan kini malah jadi kepikiran. Sejak dari 3 tahun lalu aku udah punya rencana masa depan juga, mulai dari nikah, punya rumah kecil yg manis dan halaman yg bisa ditanami 2 pohong mangga besar, pensiun dari nyari duit dan kekurangan tidur di usia 45 tahun paling lama, pengen ngabisin waktuku ama anak-anak aku aja di rumah kalo insya Allah dipanjangin umur dan dipercaya dititipin anak ma Allah, amin.

Seminggu ini semua konsistensi itu dirusak oleh orang-orang yang ga bisa banget konsisten hati, ucapan dan perbuatannya dan 90% inkonsistensi itu aku temui tiap hari di kantor dan pada orang-orang yg terlibat kontrak kerjasama denganku. Bayangkan efek domino yang bisa ditimbulkan dari sebuah janji yang ingkar yang kita jadikan pegangan untuk menjanji orang lain, lalu orang lain itu kemudian menjanji lagi kepada yang lain begitu seterusnya hingga belasan down line? Kenyang deh aku –bahkan eneg– makan kebohongan.

Aku tidak suka dengan segala keruwetan dan kong-kalikong, tapi bukan berarti aku lantas kabur bila ketemu yang ruwet, tetep aku jalani kok sambil berusaha nyari ujung-pangkalnya. Dari mana keruwetan ini bermula dan akan berakhir dimana. Mana bisa benang kusut diurai bila ujung-pangkalnya ga ketemu dulu?? Kecuali kalo mo dicuekin aja atau ambil gunting potong ditengah2. Bukan solusi yang baik deh, kita malah jadi sibuk nyambung-nyambungin benang yang udah putus kegunting tadi dan aku gak pernah sekalipun ninggalin benang kusut di belakangku. Alhamdulillah sampai hari ini aku belum punya musuh dari keruwetan yang pernah aku alami.

Semoga aku bisa segera nemuin sisi baik dari semua keruwetan ini, dan ujung-pangkalnya, amin.

Comments (2) »

Harapan Keluarga

Harapan kita sendiri aja kadangkala udah terlalu berat buat diwujudkan, apalagi bila seluruh keluarga meletakkan harapannya di bahu kita. Tentang “distribusi” harapan keluarga, Khalil Gibran pernah menulis sebuah puisi yang indah tentang itu.

Mereka adalah putra putri dari kehidupan yang merindukan dirinya sendiri,
Mereka datang melaluimu tetapi bukan darimu,
Dan walaupun mereka tinggal bersamamu, mereka bukanlah milikmu.

Kau dapat memberikan kasih-sayangmu tetapi tidak pikiranmu,
Karena mereka mempunyai pemikiran sendiri.

Kau dapat memberikan tempat untuk raga tetapi tidak untuk jiwa mereka,
Karena jiwa mereka menghuni rumah masa depan, yang tak dapat kau kunjungi, bahkan tak juga dalam mimpi-mimpimu.

Kau dapat berupaya keras untuk menjadi seperti mereka, tetapi jangan mencoba membuat mereka sepertimu,
Karena kehidupan tidak berjalan ke belakang juga tak tinggal di masa lalu.

Kau adalah busur dari mana anak-anakmu melesat ke depan sebagai anak panah hidup…
Sang pemanah melihat sasaran di atas jalur di tengah keabadian, dan DIA meliukkanmu dengan kekuatanNYA sehingga anak panahNYA dapat melesat dengan cepat dan jauh.
Biarkanlah liukkanmu di tangan sang pemanah menjadi keceriaan;
Bahkan DIA pun mengasihi anak panah yang terbang, demikian juga DIA mengasihi busur yang mantap

Bila suatu hari nanti aku diberi amanah anak oleh Allah, insya Allah akan kubiarkan dia melesat pergi kemanapun ia mau mencari jalan bahagianya, seperti kebebasan yang telah diberikan kedua orang tuaku untuk membiarkan aku berpetualang tanpa henti menyusuri waktu menikmati setiap takdirku sambil sesekali menjenguk wajah orangtuaku yang bahagia dengan apa adanya aku..

Comments (1) »

Negeri Ini Akan Membaik. Amin

Makin banyak saja manusia-manusia luar biasa dengan karya-karya inspirasional, yang aku yakini bisa nandingi karya sampah –seperti video-video organ tunggal aseli made in indonesia di youtube.com seni yang invalid segala-galanya–. Negeri ini akan jadi lebih baik. Dunia ini akan menjadi tempat persinggahan yang indah sebelum mati menjemput. Amin.

Karya-karya mereka berhasil menyentuh hati banyak hati manusia. Saya ingat perkataan pak Taufiq Ismail, “Bila sebuah kata-kata keluar dari hati yang bersih dan tulus –entah itu lisan atau tulisan– maka orang lain akan merasakan kalimat-kalimat itu meluncur turun langsung ke hati, otak dan telinga kita tidak lagi menyaringnya.”

Semoga masih banyak anak-anak muda yang punya hati, yang tidak lagi melangkahkan kakinya di dunia karena dorongan perut dan bawah perutnya, tapi karena dorongan hatinya. Amin

Comments (2) »

Selamat Pagi Palu

Terimakasih udah bersusah payah untuk menjemputku..

Sempat sakit di Makassar 3 hari setelah lebaran, hari ini aku udah sehat lagi, Alhamdulillah. Ternyata penurunan tempo kerja secara drastis juga bisa jadi penyebab badan kita drop, kalo di Palu istirahat 4-5 jam sisanya kerja di Makassar kebalik, 4-5 kerja nggak jelas sisanya istirahat eh, malah jatuh sakit, meriang dan ngigo gak karuan. Kemaren jam 10.40 dah di Palu lagi, memang udara di sini jauh lebih bersih dari Makassar karena begitu nyampe Palu bawaannya ngantuk mulu. Badanku begitu sejak jaman suka naik gunung dulu, kalo dapat udara bersih maunya tidur aja biar sel-sel tubuh bisa istirahat dan beregenerasi. Dari semalam sejak udah megang tiket secara auto otakku udah mulai loading job sheet dan bengkalai list setiba di Palu apa aja. Parah ya? Coba soal akhirat otakku seencer itu nyusun planning. Huh, rupanya aku belon berimbang porsinya.

Di Makassar ngapain aja ya.. I’tikaf 3 hari akhir ramadhan di mesjid Raya, trus sungkeman silaturrahmi, ngelepasin rindu becanda ama Ariel, belanja gak jelas ngabisin THR, liat-liat gedung-gedung baru di Makassar, beberapa proyek thank you dan nanam benih buat panen tahun depan, dinner with Etos big family, menasehati dan memaki si Toto yang seperti orang kebingungan mau kemana dia dengan hidupnya (semoga ada gunanya)..

Image002.jpg
Suasana Mesjid Raya Makassar pukul 2.30 pagi selepas shalat lail. Seperti hari Jum’at aja. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya,kali ini bener-bener lebih ramai. Alhamdulillah bisa dapet 3 malam. Tempat yang bagus buat hunting jodoh! :D Tapi tahun ini aku malu kaloberdoa isinya meminta mulu, walaupun kita juga termasuk orang yg takabur kalo gak mau meminta, aku takut udah kelewat banyak minta tapi minim bersyukur.
ariel_mikirin_kantornya.jpg
Si Ariel ponakanku lagi antusias mikirin masa depannya kali ya?
Bos! Sepatunya satu lagi mana? Kegedean pula..
Image013.jpg
Undangan Reuni Akbar IKA Poltek Negeri Makassar (dulu Politeknik Unhas) aku cuma setahun di sana sebelum pindah ke Arsitektur. Reuni yang gak jelas konsepnya ini halal-bi halal, ramah tamah, atau event panitia nyari duit? Saran buat adik-adik panitia; 1. Konsep! Konsepnya mana bos?? Mau kemana dengan acara ini??; 2. Dulu poltek isinya pejantan semua, bahkan yg perempuan jadi ikut jantan, kalian aneh ada dancing pom-pom boys nya pula..; 3. Data. Jangan membuat sesuatu tanpa data atau kalian cuma bisa meraba-raba. Cuma saran loh, selanjutnya terserah kalianlah.. :)

Comments (2) »

Perempuan

Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi laki-laki, demikian pula sebaliknya. Sang Pencipta tentu sangat tahu bahwa perempuan adalah pendamping terbaik laki-laki, sebagaimana halnya laki-laki juga adalah pendamping terbaik bagi perempuan. Sungguh tidak berbudi laki-laki yang tidak menghormati, mencintai dan menghargai perempuan. Hanya lelaki bodoh yang sanggup melakukan pelecehan terhadap perempuan.

Konon, pertikaian pertama antara sesama saudara dalam sejarah manusia dipicu oleh persoalan perempuan. Itulah sebabnya ada anjuran untuk tidak menyanjung-nyanjung perempuan secara berlebihan, hingga memburamkan pandangan dan menutupi akal sehat.

Islam mendorong kepada setiap orang untuk memperlakukan perempuan sebagai perempuan.

Karena dalam “keperempuanan” itulah tersimpan rahasia Tuhan mengapa perempuan diciptakan.

- Cover belakang buku: “Perempuan, dari cinta sampai seks, dari nikah mut’ah sampai nikah sunnah, dari bias lama sampai bias baru” tulisan bapak M. Quraish Shihab

218257045_101486a26c_o.jpg

Tadi sudah sempat tertidur sekitar 30 menit, terus terbangun dan pengaruh obat pilek yang bikin ngantuk udah hilang, jadinya malah tidak bisa tidur. Turun ke bawah bikin susu hangat, trus lewat depan meja kerja Ayah. Hei! Ada buku bagus, bisa buat pengantar aku tidur –atau jadi teman begadangku– :D Hehehe.. Yang pertama terlintas dikepalaku waktu liat buku ini tergeletak di meja kerja Ayah, “Beliau aja yang udah hampir 70 tahun, udah punya cucu, udah bertemu dan berkenalan dengan beragam perempuan, toh masih juga butuh referensi tambahan tentang perempuan.. ” Mau aku baca dulu trus nanti aku tulis “oleh-oleh” yang aku dapat setelah baca buku ini…

Comments (1) »

Jujur

“Kalau saya boleh jujur… atau sejujurnya… atau jujur saya katakan… atau jujur, saya…”

Cuplikan iklan salah satu episode acara metrotv “the golden way” edisi “honestly” itu sumber inspirasi tulisanku. Iklannya sempat aku nonton, acaranya malah mungkin tidak sempat.. :D

2786699290_170dc4fb88_o.jpg

Coba deh kita periksa sms outbox kita, atau inbox, atau pembicarann lisan kita dengan siapa aja, seberapa sering kita membuka kalimat dengan kata-kata: ”Kalau saya boleh jujur… atau sejujurnya… atau jujur saya katakan… atau jujur, saya…” bila ada, patut bersyukur deh karena akhirnya kita tahu bahwa kita belumlah termasuk orang yang jujur jadi masih ada kesempatan merubah.

Iyalah, kalau memang jujur mestinya apa adanya, tidak perlu itu kalimat pembuka “sejujurnya aku katakan… ” dan lain-lain karena secara tidak sadar kita sudah mengakui pada orang lain yang mendengar atau membaca kalimat kita bahwa sebelum kalimat “sejujurnya..” tadi boleh jadi bohong belaka. :D Kalimat seperti ini paling sering aku dengar dari para politikus kita loh.. Tapi tidak semua.

Jujur itu tidak mudah dan setahuku baru Nabi Muhammad SAW yang diberi gelar Al-Amin (orang yg terpercaya) oleh masyarakat –dengan beragam kepercayaan dan keyakinan– dimana beliau hidup. Ada kisah seseorang yang ingin mengenal Islam itu seperti apa sesungguhnya, menghadap Nabi SAW dan bertanya, bagaimanakah caranya supaya ia dapat dikatakan telah Islam? Rasul SAW cuma meminta dia melakukan 1 hal saja, jujurlah. Dia pun kembali ke kehidupannya sehari-hari, dia bertemu dengan kawan yang biasa menemaninya minum tuak, baru saja dia ingin mengajak kawannya itu mabuk bersama hatinya langsung menegur, aku tidak boleh bohong bila ditanya Rasul nanti apakah hari ini aku mabuk? Mabuk batal. Ketika adzan mulai dikumandangkan Bilal, dia baru saja akan terlelap tidur siang. Males banget ke mesjid. Matahari terik, ngantuk, capek, tapi bila ia tidak ke mesjid dia pasti akan berbohong bila ditanya Rasulullah nanti. Tidur siang cancel deh.. Malamnya dia langsung menghadap Nabi SAW, “Sungguh jujur itu tidak mudah..”

Kata Buya Hamka almarhum, “Bohong adalah pekerjaan paling mudah di dunia. Lisan ini dengan mudah mengucapkan apapun yang kita ingin keluarkan, tapi ingat pekerjaan paling sulit di dunia adalah menutupi kebohongan, karena seperti efek domino setiap kebohongan harus ditutupi dengan satu kebohongan baru, begitu seterusnya demi menjaga kebohongan awal. Bayangkan bila dosa satu kebohongan kita konversi sama dengan satu cubitan yang membuat perut kita biru, bisa-bisa satu badan kita berwarna biru dan gemuk karena bengkak.. ” :D

Itu jujur pada orang lain. Bagaimana dengan jujur pada diri sendiri?? Menurut aku sih –yang pasti pernah berbohong– jujur pada diri sendiri itu jauh lebih sulit lagi. Kenapa? Bohong pada orang lain sih gampaang, pertama boleh jadi kita tidak tiap hari ketemu dengan orang yang kita bohongi jadi kue lapis kebohongan kita nanti nambah tebelnya pas ketemu aja ama yang dibohongi. Kedua, kita bisa menciptakan alibi yang mendukung kebohongan kita dengan mudah untuk membuat orang yang kita bohongi percaya pada kebohongan kita. Misalnya ditelpon nih ama bos, “Lagi dimana An? Bisa ke kantor sekarang? Ada masalah teknis sama server.” Aku yang baru aja terlelap dan semalam begadang pasti males bangetlah ke kantor, bentar aja habis tidur siang deh.. Tinggal aktifin software “call fraud” yang bisa jalan di hape ber-OS Symbian trus pilih kebisingan di lokasi stasiun kereta api, “Lagi di stasiun pak, nganter temen 2 jam lagi baru bisa ke kantor..” Parahnya di Palu gada stasiun kereta api.. :D

Tapi berbohong pada diri sendiri gak bisa disiasatin, bagaimanapun! Kecuali kalau kita udah nggak punya hati nurani, kecuali kalau hati nurani bisa disimpan bentar dalam kulkas. Hati nurani itu hakim paling adil loh! Dan gak pilih kasih, kalo hitam menurutnya ya hitam keluarnya, dan hati nurani ikut kemanapun kita pergi. Kadang-kadang aku dibuat terkagum-kagum betapa hebatnya perjuangan orang-orang yang mampu menentang suara hati nuraninya sendiri.

Aku bukanlah orang jujur, itu pasti. Karena kadangkala aku masih juga bisa tertipu oleh “mengutamakan tujuan daripada proses” dalam urusan-urusan duniawiku. Misalnya tujuanku adalah menang tender maintenance BTS selular dan aku harus punya kualifikasi perusahaan dan SDM dengan persyaratan tertentu, nelpon kiri-kanan keluar deh referensi yang dibutuhkan. Nggak jujurkan? Kalau sudah begitu bisa aku pastikan bahwa pekerjaan itu mungkin pasti aku dapatkan, tapi kebahagiaan dan berbagai proses pembelajaran positif dalam bekerja aku pastikan hilang.

Kini, sedapat mungkin aku berbicara apa adanya utamanya pada diriku sendiri. Bila aku kangen, ya bilang kangen tanpa embel-embel apa-apa. Apakah yang aku kangenin juga kangen itu nggak penting, lebih penting aku udah jujur pada diriku sendiri. Bila aku benci pada suatu perilaku, harus aku ungkapkan secepatnya juga daripada kekesalanku numpuk lalu berubah jadi kemarahan yang boleh jadi destruktif bila ditunda pengungkapannya.

Pesan Nabi SAW, “Ungkapkan yang benar walau pahit akibatnya..” Dan sudah kubuktikan pesan ini benar adanya. Pernah dalam suatu kejadian yang aku alami aku dihadapkan pada “setting buah simalakama” bila aku mengungkap semua kebenaran maka resikonya adalah hancurnya sebuah rumah tangga, atau mereka akan bercerai tapi bila tidak diungkapkan maka aku akan terus menerus akan menjadi tameng sang suami bila berbohong pada istrinya, “Aku lagi di jalan sama Aan..” Aku memilih mengungkapkan semuanya. Apa adanya. Tahu apa yang terjadi kemudian? They live happily ever after dengan 2 cucu baru, amin. Mereka jadi bisa saling tahu “sebenarnya” sudah seberapa besar kesalahan yang harus dimaafkan..

No comment »

Bersyukur Dengan Yang Sedikit

Aku mencintaimu, tapi cuma sedikit saja*, begitu sedikitnya hingga tidak mungkin dibagi lagi pada yang lain, cuma buatku.. :D - *IyankSeperti mudik ditahun-tahun sebelumnya, tujuan utamaku mudik ke tanah kelahiran adalah bersilaturrahmi dan bersimpuh di kaki kedua orang tuaku, bertemu kerabat dan para sahabat tentu saja adalah skala prioritas kedua. Selepas malam takbiran yang menguras energi dan melelahkan karena hatiku harus berbagi ruang antara sedih kehilangan ditinggal pergi Ramadhan dengan gamang pada kenyataan berada di persimpangan untuk mengambil pilihan hidup berikutnya, esok paginya lenyap nyaris tak berbekas oleh luapan kegembiraan Idul Fitri di lapangan stadion Mattoangin. Kemurunganku kalah oleh keriangan pagi kemenangan. Walaupun sempat muncul kekesalan kenapa mesti minta advice pada orang yang belum tentu obyektif secara emosional? Tapi kekesalan itu menguap begitu saja ketika takbir mulai bersahut-sahutan saat kugelar sajadahku. Betapa kecilnya segala masalah, kekesalan, dan kerinduanku sejak 3 hari lalu ditengah semesta yang berpesta akbar. Aku bersyukur dengan apa yang ada padaku, apapun itu. Terimakasih Tuhan.

311294698_137e087c39_o.jpg

Beberapa jam yang lalu sebelum mulai menulis ini di hadapanku ada laki-laki dengan mata kuyu di bawah pengaruh koplo meminta bantuanku untuk merubah hidupnya. Pikirnya aku ini siapa? Juru tulis pohon takdir di lauhful mahfudz kah? Dimana digantungkan catatan rejeki, jodoh, takdir baik dan buruk serta ajal tiap manusia di bumi. Sungguh aku bukan ingin memaksakan pola pikirku atau pola pikir orang lain yang juga bagus, tapi saya tidak bisa mengerti bagaimana bisa dia mabuk untuk sebuah perkara yang amat remeh temeh? Betapa banyak orang diluar sana yang bernasib jauh, jauh, jauh lebih buruk dari dia dan tidak secengeng dia dalam menghadapi beban hidup, tidak sampai membuat mereka mabuk untuk sekedar lari tunggang langgang dari kenyataan hidup layaknya pengecut.

Sedih sekali aku dibuatnya, padahal yang sudah kubuktikan hingga saat ini, menjalani hidup di dunia hanya membutuhkan dua sifat utama, sabar dan syukur yang seiring waktu akan mengalami peningkatan kualitas terus menerus sebelum kemudian kita mati. Kita bersabar saat berada dititik terendah –betapa utama manusia yang masih bisa bersyukur dimasa sulit– dan kita bersyukur dengan berbagi saat berada di puncak. Apa dia sudah tidak lagi memberi ruang untuk Tuhan dalam hatinya? Naudzubillahi min dzalik.. Sungguh aku bukan tidak mau menolong, tapi sudah kubuktikan sendiri saat ingin berubah menjadi lebih baik bahwa segala sesuatu di luar diri kita cuma bisa menjadi katalisator yang bisa mempercepat –atau melambatkan– perubahan, reaksi berantai memperbaiki diri sendiri itu harus dimulai dari yang bersangkutan, barulah pertolongan susul menyusul datang. Bagaimana pertolongan bisa datang bila dia sendiri belum memulai menolong dirinya?

Mulailah dengan yang sedikit, dengan yang kecil karena sebuah rumah yang besar terdiri dari milyaran hal-hal kecil yang dikumpulkan dan dibangun tiap hari. Bismillah, kumohon mulailah berubah sebelum mati menjemput, karena mustahil apa yang telah pernah dicapai manusia lain tidak dapat kau capai juga, karena Tuhan itu maha Adil kemampuan yang ada pada manusia lain pasti ada padamu juga, kau yang belum berusaha lebih keras.

Comments (1) »

Mohon.. Maafkan Saya Lahir dan Bathin..

eidfitr.jpg

Comments (3) »

Rinduku Tebal

2 hari ini aku rindu sekali semua keluarga di Makassar. Rindu diusilin dan ngebales ngusilin si Ariel ponakanku, rindu pada teman-teman sesama pengemis di mesjid Raya –kenapa pula si Muhary dan Budi selalu saja menelpon tiap kali mereka pulang dari sana? Padahal dimanapun kepala ini ditundukkan pasti masih di bumi Allah juga– kejutan takdir tak terduga, rindu mencium ketek ibuku yang bau bayi dan rindu kebisingan jalan depan rumah di Makassar yang hingga jam 3 pagi masih saja rame.

Akhirnya hari ini jam 2 siang insya Allah udah menuju Makassar.. Alhamdulillah..

No comment »

Cinta Yang Merusak

bukan_si_belang.jpg

Sejak Maret 2007 kami menempati kantor baru, di Gedung Islamic Center yang sebelum kami rehab kecil-kecilan kondisinya seperti tempat jin buang hajat, sekarang udah mirip kantor beneran.

Ternyata sebelum kami tempati gedung ini juga tempat kucing beranak, hari pertama setelah rehab selesai ada 5 anak kucing yang selalu ninggalin oleh-oleh setiap pagi di pojok-pojok ruangan. Dari 5 anak kucing itu cuma satu yang berhasil lolos kompetisi dan seleksi alam untuk bertahan hidup, jadilah dia maskot kami. Namanya si Belang karena warnanya yang belang tiga. Foto di atas bukan foto dia, gak nemu aku simpan dimana file foto dia.

Belang ini kucing idola di lingkungan kantor. Sudah pernah melahirkan 3 kali, tapi anak-anaknya nggak satupun yang bisa bertahan hidup, yang unik dari 3 ekor anaknya terakhir masing-masing memiliki warna khas, ada yg warna hitam legam, ada yang cuma kuping dan ekornya yang hitam lainnya putih dan ada yang warna kuning bergaris-garis cokelat dan ternyata warna ketiga anaknya itu mewakili warna tiga ekor kucing jantan yang biasa kencan dengan si Belang di belakang kantor.

Belang ini diangkat saudara oleh si Mus –salah satu karyawan di kantor– sejak masih bayi. Begitu sayangnya Mus pada si Belang sampai sudah tidur sama-sama, makan sama-sama, dan sama-sama tidak suka mandi. Pokoknya apa yang Mus makan itu juga yang Belang makan. Dan dimana Belang buang hajat disitu Mus kena semprot satu kantor. Pokoknya cinta dan kasih sayang Mus pada si belang sudah tidak bisa diragukan lagi kemurniannya 100% deh.

Disinilah aku belajar tentang satu hal, ternyata cinta Mus pada si Belang yang sepenuh hati malah membuat Belang rusak kepribadiannya dan kehilangan naluri kebinatangan. Sejak bayi Mus dan Belang selalu makan bersama, tiap kali Mus makan, Belang ikut makan. Mus makan ayam, belang dapat dagingnya sedang tulang, sayur dan nasinya buat Mus. Ini berlangsung sampai belang berusia 1 tahung setengah, usia dimana seekor kucing mestinya sudah bisa mencari makan sendiri. Si Belang tidak begitu. Pernah ada sebulan lebih kantor berhenti langganan rantangan, jadi semua karyawan makan di luar pas jam makan siang. Mestinya dalam sebulan itu si Belang sudah bisa nyari makan sendiri dari lingkungan perumahan dosen yang berada dekat kantor, tapi tidak. Belang dengan setia tetap menunggu Mus datang membawakannya makanan selama sebulan. Aku baru sadari bahwa Belang sudah kehilangan naluri “kucing garong” karena selama sebulan itu tidak ada kotoran si Belang di lingkungan kantor. Apa yang mau dia buang kalau yang masuk tidak ada? Kasihan si Belang.

Ternyata akibat cinta Mus yang luar biasa besar tapi tidak bisa terjaga konsistensi kelanjutannya karena dia sendiri kadang kesulitan kalau harus makan nasi dan sayur saja, si Belang adiknya sendiri menjadi rusak oleh cintanya.

Pelajaran moral: Bentuk cinta itu tidak mesti berupa kasih sayang, kelembutan, perhatian atau segala hal yang manis-manis lainnya. Boleh jadi cambukan, jeweran di kuping, itu “lebih cinta” dari perlakuan manis yang aku sebut tadi. Benar kata seorang kawan, “Bila aku terpaksa harus memberikan hukuman fisik pada anakku, aku tunggu sampai marahku reda tergantikan oleh cintaku yang memuncak barulah aku memberinya hukuman fisik…”

No comment »